Showing posts with label Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts

January 03, 2014

Inferno by Dan Brown

Inferno

oleh Dan Brown
diterjemahkan oleh Berliani M. Nugrahani, Inggrid Djiwani
terbit September 2013 oleh Bentang Pustaka
Misteri/Suspense/Adventure/Historical/Adult Fiction
644 halaman
selesai dibaca 26 Desember 2013 (warning: there might be spoilers)

***

Tempat tergelap di neraka

dicadangkan bagi mereka

yang tetap bersikap netral 
di saat krisis moral.

Tengah malam, Robert Langdon terbangun di rumah sakit dan syok saat mendapati dirinya ada di Florence, Italia. Padahal, ingatan terakhirnya adalah berjalan pulang setelah memberi kuliah di Harvard. Belum sempat Langdon memahami keganjilan ini, dunianya meledak dalam kekacauan. Di depan mata, dokter yang merawatnya ditembak mati. Langdon berhasil lolos atas bantuan Sienna Brooks, seorang dokter muda yang penuh rahasia.

Dalam pelarian, Langdon menyadari bahwa dia memiliki sebuah stempel kuno berisi kode-kode rahasia ciptaan ilmuwan fanatik yang terobsesi pada kehancuran dunia berdasarkan mahakarya terhebat yang pernah ditulis—Inferno karya Dante. Ciptaan genetis ilmuwan tersebut mengancam kelangsungan umat manusia, Langdon harus berpacu dengan waktu memecahkan teka-teki yang berkelindan dalam puisi-puisi gelap Dante Alighieri. Belum lagi, dia harus menghindari sepasukan tentara berseragam hitam yang bertekad menangkapnya.

"Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral."
(AKA, my new favorite quote!)

'Ilmuwan fanatik yang terobsesi pada kehancuran dunia' seperti disebutkan dalam sinopsis di atas bernama Bertrand Zobrist. Ia menganggap bahwa keadaan dunia saat ini, dimana kejahatan, kehancuran, perbuatan-perbuatan jelek manusia seperti korupsi, curang, suka menipu, gila terhadap harta, dan keburukan-keburukan lain yang disebut dalam The Divine Comedy ciptaan Dante (Saligia, atau umumnya dikenal sebagai The 7 Deadly Sins) bersumber dari satu hal: Overpopulasi. Overpopulasi menyebabkan keadaan ekonomi memarah, bumi makin rusak karena terus menerus dimanfaatkan melebihi kapasitas, penyakit mematikan merajalela, penduduk miskin semakin banyak, kriminalitas berkembang, dan sejuta masalah lain. Bila hal ini terus menerus berlangsung, maka menurut perhitungan, dalam waktu 100 tahun mendatang kehidupan manusia akan punah sepenuhnya. Untuk menghindari kepunahan tersebut, Bertrand Zobrist berniat untuk mengurangi jumlah manusia yang hidup, dari (hampir) 8 miliar menjadi 4 miliar. Baginya, kehilangan beberapa jumlah manusia lebih baik daripada kepunahan total. Bersama Sienna Brooks, Langdon menyusuri kota Florence di Itali demi memecahkan kode-kode yang bisa menuntunnya untuk mencegah 'pengurangan jumlah manusia' ini terjadi. Namun pada saat yang sama, ia juga harus lari dari pihak-pihak yang ingin menangkapnya.


source
Membaca karya teranyar dari Dan Brown ini, buat aku, menyenangkan banget. Rasanya bahkan bisa bilang bahwa Inferno adalah buku-buku Dan Brown terfavorit dari semua buku sebelumnya! Selain lebih mudah dimengerti (kudos buat Bentang Pustaka yang sekali lagi bisa menerjemahkan karya Dan Brown dengan hasil akhir yang bagus banget, here's my applause for ya!), mungkin alasan utamanya emang karena aku tertarik dengan tokoh Dante dan The Divine Comedy-nya, meskipun sebelum baca buku ini pengetahuanku ya sebatas itu aja: Dante adalah penulis karya epik The Divine Comedy, yang terdiri dari Inferno, Purgatorio, dan Paradiso. Hehehe.

Secara keseluruhan, Dan Brown memang lagi-lagi menggunakan formula yang persis sama dengan buku-buku beliau lainnya. Dengan banyak referensi sejarah, seni, simbol-simbol, tokoh wanita cantik sebagai pemeran utama kedua, adanya pihak-pihak yang memburu Langdon, dan keberadaan tokoh 'protagonis' yang ternyata justru 'suspect' terbesar, semua hadir kembali di Inferno. Dalam beberapa hal, ini ngebuat Inferno jadi agak mudah ditebak, dan elemen surprise-nya jadi berkurang, tapi untungnya nggak mengurangi keseruan cerita. Terutama dengan banyaknya twist-twist mengagetkan yang rada bikin mindblown! Wah, di Inferno ini twist-nya gila dan keren banget. Kalau biasanya hanya ada satu twist besar dalam novel-novel Dan Brown, di Inferno banyak twist-twist dari twist awal (halah), jadinya twist-ception :)) Terutama tentang identitas dan tujuan asli (tidak hanya satu tapi banyak!) tokoh dalam cerita, yang sempet bikin nganga saking kagetnya.

Karena Dante lahir di kota Florence, Itali, maka latar tempat dalam cerita ini pun sebagian besar berada di kota kecil nan indah tersebut. Dan Brown mengajak kita untuk menyusuri berbagai tempat sarat sejarah yang mengisi sudut-sudut Florence seperti Pitti Palace, Palazzo Vecchio, Boboli Garden, Koridor Vasari, lalu 'mencekoki' kita dengan rentetan detail panjang tentang riwayat, serta tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Ia juga mengenalkan kita dengan berbagai tokoh seni terkenal yang terinspirasi oleh Dante dalam menciptakan karya-karya besar, contohnya pelukis dan pemahat terkenal Michaelangelo. Kemudian ia akan mengajak kita ke Venesia, tempat Basilika Santo Markus berada, juga Hagia Sophia di Istanbul, Turki! Poin lain yang saya suka disini: Bisa jalan-jalan melalui buku ;)

Tidak perlu tahu banyak tentang Dante, The Divine Comedy, maupun hal-hal lain sebelum membaca Inferno ini, karena Dan Brown akan memberikan penjelasan yang jelas (dan panjang) sehingga kita bisa mengerti tanpa harus punya ilmu tentang itu. Di satu sisi, buat aku ini menarik karena aku emang orangnya pengen tauan, dan senang baca hal-hal berbau sejarah seni yang diselipkan di buku novel seperti ini, tapi di sisi lain, ini bisa juga jadi kelemahan karena seringkali Dan Brown terlalu detail dalam 'membagi pengetahuannya'. Di banyak momen, bisa jadi pembaca merasa penjelasan penulis agak 'melenceng kemana-mana' dari arah cerita intinya, dan lebih memilih untuk skimming bagian-bagian tersebut. Terlepas dari itu semua, empat jempol patut aku acungkan untuk kedalaman Dan Brown dalam menulis buku-bukunya. Nggak kebayang itu risetnya gimana dan sejauh apa.

Kemudian, isu sosial yang disinggung dalam Inferno ini juga merupakan isu yang nyata dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, sedikit banyak aku setuju dengan pendapat Bertrand Zobrist bahwa akar semua masalah saat ini adalah ketidakseimbangan jumlah manusia di bumi dengan kapasitas yang bisa ditampungnya. Semua orang berebut ingin memenuhi kebutuhan mereka sendiri, hingga kebutuhan orang lain pun diabaikan. Ditambah lagi dengan teknologi yang semakin canggih namun tidak diimbangi kecerdasan pemakai. Keadaan ini yang kemudian melahirkan sifat-sifat tujuh dosa besar tadi: Sombong, serakah, malas, pemarah, rakus, iri hati dan nafsu. Tapi yang aku nggak setuju adalah 'cara' menyelesaikan masalahnya...

"Di bawah tekanan overpopulasi, mereka yang tidak pernah berpikir untuk mencuri, akan menjadi pencuri untuk memberi makan keluarga mereka. Mereka yang tidak pernah berpikir untuk membunuh, akan menjadi pembunuh untuk mempertahankan anak-anak mereka."

In conclusion, aku menikmati banget baca Inferno karya Dan Brown ini. Bagi yang pernah baca buku-buku Dan Brown sebelumnya emang bakal ngerasa 'agak' bosan karena formulanya lagi-lagi sama, jadi ceritanya mudah ketebak, tapi di luar itu, Inferno ini bagus banget dengan muatan sejarah seni, suspense dan petualangan menebak kode-kode yang seru! It's so worth the time and money (125k for the awesome translated version) you'll spend to read the book.

PS: Versi filmnya dikabarkan akan tayang Desember 2015, dan Tom Hanks bakal tetap main sebagai Robert Langdon :D

***

Baca review lain tentang Inferno dari teman-teman BBI: Rahib dari Buku yang Kubaca | Athiah dari Open Book Now | Luna dari Ravenclaw Note |

Dan untuk bacaan terkait tentang Inferno, ternyata pernah dibahas oleh Mbak Fanda di blognya: Fanda Classiclit


May 26, 2013

Quick Recap #1: From Unravel Me until Meant to Be


So. I've just decided to add a new thing. This idea came up to me while blogwalking some other bookblogs and read a confession (Deidra's post here, to be exact) about the amount of books we actually read and the ones we also write the review. For me, there's a big difference! You know how lazy I am to write a proper review... In a week I could manage to finish up to 5-6 books, but I only write 1 book review heheh :D

So this quick recap will sum up about books I've read in a week/more (or books in the past that I haven't review), and I'm gonna review them in some sentences. Thus, no books will be missed or feeling left out and I won't feel guilty anymore!

Ok, we'll start with five books first, this time. The book that I read in bahasa (translated edition) written here in bahasa.

Unravel Me by Tahereh Mafi.
Woah, the cover. Woah, the sequel. Woah, the whole book.
I'm so satisfied!
I started the book with my heart still captivated by Adam (and no, I haven't read Destroy Me) and dude, it was really hard not to fall for Warner. Now I know what you all meant back then. #TeamBoth! :p
For a book which main character I didn't like that much, I ended up really liking Unravel Me. By all means, the ending wasn't what I wanted (because there are many aspects that for me, were still left out hanging), but I think it's perfect for the book. If you have read Shatter Me, don't take much time to read the sequel!



Dare You To by Katie McGarry
Gah, man. This book was intense. Golden boy meets troubled girl. Angst, angst, angst everywhere. I haven't read Pushing the Limits, so I read this with nothing in my mind. I had a hard time liking Beth, actually, with her being super annoying to her (awesome) uncle, crazy mom which chose to stay in an abusive relationship, her push and pull game with Isaiah, but I love the Beth I read when she was with Ryan. I love how being together made them a better person.
“I like you. I. Like. You. I'll admit you're annoying. Sometimes you agitate me to the brink of insanity, but you can throw it back at me like no one else. When you laugh, I want to laugh. When you smile, I want to smile. Hell, I want to be the one to make you smile.” 

Slammed by Colleen Hoover
Gimana rasanya jatuh cinta sama cowok yang ternyata adalah gurumu sendiri di sekolah? Well, well...
Untuk ukuran buku terjemahan, Slammed nggak mengecewakan. Konfliknya sebenernya simpel, tapi ada konflik-konflik tambahan yang bikin ceritanya tetep jalan & menarik. Untungnya Will bukan tipe cowok-cowok YA yang nggak punya pendirian; hanya karena dia jatuh cinta sama Layken, nggak berarti dia pasrah aja dan jadi nggak profesional atau jadi nggak peduli tentang masalah keluarganya sendiri (juga keluarga Layken). Aspek Slams/pertunjukan puisi yang ada di buku termasuk hal baru yang menarik buat saya, jadi itu juga yang nambah poin plus! :)

Eon by Alison Goodman
Covernya bagus yah!
Saya tertarik baca Eon gara-gara rekomendasi beberapa orang di twitter BookClubID. Secara keseluruhan, menarik sih, jalan ceritanya bagus (I found dragons to be really cute hehe) dan dipermanis dengan legenda-legenda naga yang agak kompleks. Tapi terjemahannya enak dibaca. This is one of those book that could sucked you into their world while reading. Minus point-nya, the lack of romance (I knooww, I'm so lame heheh) but if you love fantasy and you prefer reading books that doesn't focus in romance, I'd highly recommend Eon.

Meant to Be by Lauren Morrill
Meant to Be by Lauren Morrill actually has almost all that's a contemporary book needs to be a hit. Setting: London. Characters: nerd girl & popular jock boy. Plot: they're teamed up together in an educational trip in London and the boy wants to make the girl 'loosen up a little'. So he brings her to a party, sneaking out to a downtown London instead of following the initerary... And so on.
Plus point: Everything! It's romance. It's funny. It's light, fun, fluffy and everything happened in London.
Minus point: It's really-really predictable. 
But I wouldn't mind someone like Jason to be my MTB *winks*

February 24, 2013

Cinderella dan Empat Kesatria #1 by Baek Myo


Judul: Cinderella dan Empat Kesatria #1
Penulis: Baek Myo
Penerjemah: Tang Jong Rye & Kukuh Adirizky
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (November 2012)
Tebal: 264 hlm

***

Eun Ha Won benar-benar seperti Cinderella.

Sungguh tak disangka, kakek yang ditolong Ha Won di jalan ternyata Direktur Kang—pengusaha Korea yang sangat kaya. Dan dia bersedia membantu mewujudkan keinginan Ha Won: keluar dari rumah yang ditinggalinya bersama sang ibu tiri. Ha Won pun kemudian tinggal di rumah mewah bersama tiga cucu tampan sang direktur dan pengawal pribadi yang keren.

Tapi menjadi kaya tak berarti kehidupan Ha Won menjadi mulus. Banyak yang iri padanya karena kedekatannya dengan kakak-beradik keluarga Kang. Ditambah lagi entah kenapa Kang Ji Woon—sang cucu ketiga—membencinya sejak pertemuan pertama. Kapankah ia mendapatkan ketenangan yang diinginkannya?

***

Satu hal yang saya amati khas dari novel-novel terjemahan Korea dengan genre sama seperti karya Baek Myo ini adalah: Jalan ceritanya yang persis drama Korea yang sering wara-wiri di televisi.

Eun Ha Won awal mulanya hanyalah seorang gadis SMA berumur 17 tahun yang bersekolah di sekolah biasa, tinggal bersama Ayah yang tidak menyayanginya dan Ibu serta Kakak tiri yang jahat. Ibu kandung Ha Won meninggal saat Ha Won berumur 12 tahun, dan sejak itu hidup Ha Won tidak pernah menyenangkan karena kehadiran dua anggota keluarga barunya. Wajar bila keinginan terbesar Ha Won adalah untuk keluar dari rumah dan tinggal di tempat lain.

Dengan mudahnya, keinginan itu menjadi nyata setelah pada suatu siang hari biasa Ha Won bertemu dan menolong seorang Kakek yang tiba-tiba terjatuh saat menyebrang jalan. Saat sadar, Kakek itu berterima kasih dan menanyakan Ha Won perihal keinginan terbesarnya. Ha Won pun menjawab. Ia tidak menyadari bahwa Kakek itu adalah Direktur Kang, seorang pemilik Sky House dan pemimpin dari Grup Gamseong yang diceritakan sangat berpengaruh di Korea. Group Gamseong memiliki mal, yayasan sekolah, bahkan universitas yang terkenal di Korea. Kakak tiri Ha Won sendiri, Choi Yu Na, bersekolah di SMA Gamseong, yang bayarannya sangat mahal dan membuat Ayah Ha Won harus memeras keringat serta berutang demi menyekolahkan Yu Na disana. Direktur Kang ini kemudian menyuruh pengawal pribadinya, Yoon Seong, untuk menjemput dan membawa Ha Won tinggal di Sky House serta bersekolah di SMA Gamseong.

Di satu sisi, Direktur Kang juga mempunyai tiga cucu laki-laki yang berasal dari orangtua berbeda. Mereka adalah Kang Hyeon Min, Kang Seo Woo, dan Kang Ji Woon. Pertemuan Ha Won dengan ketiga pangeran tampan yang kaya ini tidak bermula di Sky House, melainkan sejak sebelum Ha Won tinggal di rumah itu. Hyeon Min pernah meminta Ha Won untuk berpura-pura menjadi pacarnya semalam saja, demi menghindari seorang gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejar Hyeon Min dan membuatnya gerah. Saat mengikuti Hyeon Min masuk ke dalam sebuah klub, ternyata disana juga ada Ji Woon. Entah kenapa Ji Woon langsung menunjukkan perangai tak bersahabat pada Ha Won. Ternyata karena cucu termuda keluarga Kang itu menyukai Yeong Hyeon, gadis yang mengejar-ngejar Hyeon Min. Sementara dengan Seo Woo, Ha Won pertama kali bertemu dengannya saat menolong seekor anjing yang tengah disiksa oleh anak-anak kecil di pinggir jalan.

Setelah memasuki Sky House, bersekolah di SMA Gamseong dan merasakan enaknya hidup menjadi orang kaya, apakah hidup Ha Won jadi benar-benar nyaman? Ternyata tidak juga. Ia kini harus menghadapi serangan dari orang-orang yang tidak menyukainya karena tiba-tiba saja tinggal di Sky House bersama ketiga pangeran Gamseong. Berbagai gosip dan fitnah serta serbuan rasa tidak suka memburu Ha Won dari segala arah, termasuk dari Yu Na, kakak tirinya sendiri, yang susah memercayai keberuntungan yang tiba-tiba menjatuhi kehidupan Ha Won ini.

February 12, 2013

The Geography of Bliss by Eric Weiner


Judul: The Geography of Bliss
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita (November 2011)
Tebal: 512 hlm

***

Sungguh mati, Eric Weiner ingin melihat dunia, terutama dengan dana dari pihak lain. Maka ia menjadi jurnalis, membawa tas punggung dan buku catatannya, lalu menjelajahi dunia. Hasilnya adalah buku The Geography of Bliss ini. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India, dan Amerika ... untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murung. Buku ini adalah campuran aneh tulisan perjalanan, psikologi, sains, dan humor.

Apakah orang-orang di Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan?

***

Setelah membaca lebih dari 500 halaman, pada akhirnya, saya merasa bahwa sebenarnya inti dari Geography of Bliss bisa digambarkan melalui dua paragraf berikut:

"Extroverts are happier than introverts; optimists are happier than pessimists; married people are happier than singles, though people with children are no happier than childless couples; Republicans are happier than Democrats; people who attend religious services are happier than those who do not; people with college degrees are happier than those without, though people with advanced degrees are less happy than those with just a BA; people with an active sex life are happier than those without; women and men are equally happy, though women have a wider emotional range; having an affair will make you happy but will not compensate for the massive loss of happiness that you will incur when your spouse finds out and leaves you; people are the least happy when they're commuting to work; busy people are happier than those with too little to do; wealthy people are happier than poor ones, but only slightly."
  
“Money matters but less than we think and not in the way that we think. Family is important. So are friends. Envy is toxic. So is excessive thinking. Beaches are optional. Trust is not. Neither is gratitude.” 
Buku ini menarik banget buat saya. :D
The more we get older, the more we wonder about things in life. Sebenarnya agak absurd juga, berusaha mengukur kebahagiaan. Apa benar bahagia itu bisa ditentukan oleh batasan tertentu? Apa iya lokasi geografis negara berperan banyak bagi kebahagiaan masyarakatnya?

Setelah baca, saya punya pendapat sendiri. No, we can't measure happiness. Happiness is totally relative to many other people. Banyak orang bahagia atas hal-hal kecil yang mereka punya, banyak juga orang bahagia atas pencapaian besar yang mereka raih. And no, geographies doesn't really matter in people's happiness, but the relationship between the people does. Hubungan antar masyarakat berperan besar bagi kebahagiaan mereka. Ini terbukti di Islandia, dimana negaranya dinyatakan sebagai salah satu negara paling bahagia, dengan masyarakat yang sangat suka membantu sesama, dan tidak menganggap kegagalan orang lain sebagai suatu hal yang harus ditertawakan atau dipermalukan.

"Hell isn't other people. Seventy percent of our happiness rests on our relationships with other people."

“Our happiness is completely and utterly intertwined with other people: family and friends and neighbors and the woman you hardly notice who cleans your office. Happiness is not a noun or verb. It's a conjunction. Connective tissue.”

January 04, 2013

The Help by Kathryn Stockett

The Help

Judul: The Help
Penulis: Kathryn Stockett
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Matahati
Tahun terbit: 2010
Tebal: 545 halaman

***

“We are just two people. Not that much separates us. Not nearly as much as I'd thought.” 

Menulis sesuatu mengenai para maid berkulit hitam, di Jackson, Mississippi, pada tahun 1960-an, adalah suatu perbuatan yang berisiko besar dan berat. Seperti yang kita tahu, Amerika pernah mengalami masa-masa dimana diskriminasi warga kulit putih terhadap kulit hitam menjadi suatu hal yang wajar, bahkan rasanya diharuskan. Menganggap kulit hitam setara dengan kulit putih bisa berujung pada hukuman, socially maupun politically.

Adalah seorang Eugenia 'Skeeter' Phelan, gadis 22 tahun yang berkeinginan menjadi jurnalis, tergerak untuk menuliskan pengalaman para pembantu kulit hitam tersebut tentang keseharian mereka mengurus keluarga kulit putih dan bagaimana perlakuan yang mereka dapatkan sebagai seorang berkulit hitam. Hal ini didorong oleh saran yang didapat Skeeter dari editornya, “Write about what disturbs you, particularly if it bothers no one else.” juga karena Skeeter merasa terganggu dengan inisiatif pemisahan sanitasi antara warga kulit putih dan pembantu kulit hitam yang sedang gencar digiatkan oleh sahabatnya sendiri, Hilly Holbrook, yang merupakan seorang petinggi dalam klub bridge di komunitas mereka. Skeeter sendiri mempunyai hubungan baik dengan pembantunya, Constantine, yang telah mengasuh ia sejak kecil dan membesarkan Skeeter dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, Skeeter juga menghormati dan tidak pernah menunjukkan perlakuan yang 'berbeda' terhadap pembantu kulit hitam lainnya. Saat Skeeter kembali ke rumah setelah lulus kuliah, Constantine sudah pergi dari kediaman keluarga Phelan. Semua pertanyaan mengenai alasan perginya Constantine dari rumah itu selalu berujung pada jawaban yang tidak jelas. Benarkah Constantine memutuskan berhenti dari rumah itu? Apabila iya, alasannya apa?

Sementara ia menyusun bukunya, Skeeter mendapat pekerjaan untuk menulis kolum Miss Myrna, sebuah kolum mengenai saran-saran dalam membersihkan rumah di The Jackson Journal. Untuk menjawab berbagai pertanyaan yang masuk di Miss Myrna, Skeeter meminta bantuan Aibileen, pembantu kulit hitam dari Elizabeth Leefolt, sahabat Skeeter yang lain. Nah, berawal dari interaksi mereka itulah, Skeeter kemudian memberanikan diri meminta Aibileen bersedia menceritakan pengalamannya sebagai pembantu kulit hitam untuk buku yang ia tulis.

Aibileen bekerja untuk keluarga Leefolt, keluarga kulit putihnya yang ketujuh belas. Ia merawat serta mengasuh Mae Mobley, gadis kecil berusia 3 tahun yang tidak mendapatkan perhatian yang semestinya dari sang Ibu. Aibileen seseorang yang bijaksana, penuh perhitungan dan cukup religius. Ketika Skeeter memintanya untuk bercerita, dengan tegas dan tanpa ba-bi-bu Aibileen menolak! Ia bahkan menganggap Skeeter agak gila karena berniat menulis buku seperti itu. Dalam masa dimana seorang pekerja kulit hitam dihajar orang hingga buta hanya karena tidak sengaja memakai kamar mandi khusus untuk kulit putih, menulis cerita yang mengungkapkan pengalaman dan rahasia selama bekerja pada keluarga kulit putih sama saja dengan bunuh diri.

Butuh perjuangan dan konsistensi dari Skeeter hingga akhirnya Aibileen bersedia, dengan syarat semua nama dan lokasi dalam buku tersebut diganti/disamarkan. Namun, Skeeter butuh setidaknya selusin pembantu kulit hitam lagi untuk membuat cerita yang utuh. Aibileen lalu meminta bantuan pada Minny Jackson, sahabatnya yang kini bekerja untuk keluarga Foote setelah dipecat dari kediaman Hilly. Aibileen dan Minny juga berkali-kali meminta kesediaan dari teman-teman pembantu kulit hitam lain, yang tentu saja langsung ditolak. Hingga akhirnya terjadi sebuah peristiwa buruk menimpa Yule May, pembantu baru Hilly, yang sampai mengakibatkan Yule May harus dipenjara, menggerakkan simpati para pembantu kulit hitam lain dan mereka akhirnya bersedia membantu Skeeter menyelesaikan bukunya.

Tapi tetap saja, ini adalah suatu hal yang berisiko tinggi. Bagaimana bila salah satu majikan mereka menyadari ceritanya dimuat dalam buku lalu memecat mereka? Masih mending bila hanya memecat, bagaimana bila ia sampai melaporkan ke penjara, atau lebih buruk lagi, mengutus orang untuk 'melenyapkan' pembantu kulit hitam itu? Belum lagi waktu yang diberikan editornya pada Skeeter sangat terbatas. Bisakah Skeeter menyelesaikan setidaknya dua belas cerita lagi sebelum tenggat waktu? Editor Skeeter juga meminta Skeeter untuk menuliskan pengalaman pribadi Skeeter dengan pembantu kulit hitamnya, Constantine. Tapi Skeeter tidak tahu apa-apa mengenai kejelasan alasan pembantu tersayangnya itu pergi dari rumah. Hal apa yang sebenarnya terjadi pada Constantine hingga ia tidak bekerja lagi pada keluarga Phelan? Mengapa Aibileen yang juga teman dari Constantine, selalu menolak menjawab saat ditanyakan hal ini?

November 28, 2012

The Lover's Dictionary (Kamus Sang Kekasih) by David Levithan


Title: The Lover's Dictionary (Kamus Sang Kekasih)
Penulis: David Levithan
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011 (Juli)
Tebal: 216 halaman
Harga: Rp 35.000

***

basis, n.

There has to be a moment at the beginning when you wonder whether you’re in love with the person or in love with the feeling of love itself.

If the moment doesn’t pass, that’s it—you’re done. And if the moment
does
pass, it never goes that far. It stands in the distance, ready for whenever you want it back. Sometimes it’s even there when you thought you were searching for something else, like an escape route, or your lover’s face. 


How does one talk about love? Do we even have the right words to describe something that can be both utterly mundane and completely transcendent, pulling us out of our everyday lives and making us feel a part of something greater than ourselves? Taking a unique approach to this problem, the nameless narrator of David Levithan’s The Lover’s Dictionary has constructed the story of his relationship as a dictionary. Through these short entries, he provides an intimate window into the great events and quotidian trifles of being within a couple, giving us an indelible and deeply moving portrait of love in our time.

***

Kalau kamus sejenis ini secara kontinyu diproduksi masal dan benar-benar diresmikan sebagai kamus, saya rasa penjualan kamus ke depannya bakal meningkat tajam. :)) Jujur saya kagum sama David Levithan bisa kepikiran menulis sebuah cerita dalam format seperti ini.

Layaknya kamus, cerita tidak disampaikan melalui paragraf dan rangkaian peristiwa yang padu, melainkan abjad-abjad dengan disertai sebuah adegan. Kilasan peristiwa. Penjelasan yang berhubungan dengan kata tersebut dalam barisan kalimat-kalimat singkat. Tapi adegan tersebut pun belum tentu mengungkap makna kata secara gamblang. Disini pandainya David Levithan terasa nyata, ia mahir membuat rangkaian kalimat pendek menjadi sarat makna.

Kalau yang saya perhatikan sih, POV keseluruhan kata-kata ini disampaikan melalui sudut pandang seorang laki-laki. Lumayan, jadi bisa tau sedikit-sedikit tentang gimana sih jalan pikiran cowok tentang cinta. #eaaa Tapi disini nggak semuanya melulu tentang cinta yang senang terus, David juga realistis, sering menggambarkan situasi nggak enak yang biasa terjadi dalam suatu hubungan.
Kadang ada beberapa topik/permasalahan yang diulang melalui kata yang berbeda-beda (tentang perselingkuhan si pasangan atau peristiwa meninggalnya kakek/nenek salah satu dari pasangan) yang imbasnya saya jadi bosen karena itu lagi-itu lagi yang dibahas, tapi secara keseluruhan it was a nice & light read. :)

Favorite dictions:


cache, kb. tempat menyembunyikan sesuatu.
Aku memutuskan untuk membereskan meja kerjaku. Kusangka kau tengah sibuk di dapur. Tapi lalu aku mendengarmu di belakangku, mendengar kau bertanya, ”Apa isi folder itu?”. Aku yakin wajahku merah padam saat memberitahumu isinya adalah printout email-email-mu, bersama surat-surat dan catatan-catatan kecil yang diselipkan di antaranya, bagaikan bunga-bunga yang diselipkan di kamus. Kau tidak mengatakan apa-apa lagi, dan aku bersyukur karenanya.
 
basis, kb. dasar.
Pasti ada suatu momen, di masa awal, ketika kau bertanya-tanya apakah kau memang jatuh cinta kepada orangnya, ataukah jatuh cinta kepada perasaan cinta itu sendiri.

infidel, kb. kafir.
Kita menanggap mereka bersembunyi di bukit-bukit; para pemberontak, perompak, bajingan revolusioner. Tapi sungguh, bukankah kesalahan mereka hanyalah karena mereka tidak memercayai sesuatu?

fluke, kb. nasib baik; keberuntungan.
Kencan sebelum kencan denganmu sangat buruk; sombong, perokok, napas bau -sehingga aku bersumpah akan menghapus profilku keesokan paginya. Hanya saja ketika akan melakukannya, aku tersadar tinggal delapan hari lagi sebelum masa keanggotaanku habis. Jadi kuberi kesempatan delapan hari. Dan kau meng-email-ku di hari keenam.


-Tirta

November 25, 2012

Warm Bodies by Isaac Marion

Warm Bodies (Goodreads)

Judul: Warm Bodies
Penulis: Isaac Marion
Penerjemah: Meda Satrio
Penerbit: Ufuk Publishing
Tebal: 376 halaman
Harga: Rp 50.000

***

“R” adalah zombi. Dia tidak punya ingatan, tidak punya identitas, dan tidak punya denyut nadi. Tetapi, dia punya mimpi. Dia tidak suka membunuh manusia. Dia agak berbeda dengan teman-temannya “Kaum Mati”. Sewaktu menjelajahi reruntuhan peradaban untuk mencari makan, R bertemu seorang gadis bernama Julie. Gadis itu merupakan kebalikan dari segala yang R tahu. Julie, yang hangat dan ceria serta sangat hidup, membuat sesuatu dalam diri R mulai berubah. R sadar dia tidak ingin memakan Julie, meski gadis itu tampak lezat. Dia ingin melindungi Julie, tak peduli apa pun akibatnya. Pilihan ini seperti percik api di rumput, melanggar aturan dan menyangkal logika, tetapi R tidak puas lagi dengan kehidupan dalam kematian. Dia ingin bernapas lagi, ingin hidup, dan Julie ingin membantunya. Bisakah kasih dari dua dunia yang berbeda ini berpadu?

***
"I am dead, but it's not so bad."

Tadinya Warm Bodies ini mau dibiarin nganggur dulu di shelves untuk sementara, tapi setelah liat movie trailernya (yang jadi peran utamanya Nicholas Hoult, saudara-saudara!) saya langsung buru-buru baca. *wink-wink*

Jadi, ini pertama kalinya saya baca buku tentang zombi. Setelah vampir, shapeshifter, seraphim/nemphilim yang semuanya masih bisa 'ditanggung', baca Warm Bodies sempat bikin kaget. Apalagi sewaktu pertama kali baca deskripsi fisik zombi R (pucat seperti mayat-mayat kebanyakan, bibir yang hitam membusuk, lingkaran gelap di bawah mata), dan kebiasaan makannya. Buku ini diceritakan dari POV pertama R sebagai zombi. Makanan utama zombi adalah manusia, dan kalau sekedar kalimat 'mengoyak tangan' atau 'mengunyah kaki' ataupun potongan tubuh lain sih saya masih tahan, tapi begitu bagian 'menelan otak', yeiks, saya buru-buru tutup bukunya sementara.

"Eating is not a pleasant business. I chew off a man’s arm, and I hate it. I hate his screams because I don’t like pain, I don’t like hurting people, but it’s the world now. This is what we do. Of course if I don’t eat all of him, if I spare his brain, he’ll rise up and follow me back to the airport, and that might make me feel better. I’ll introduce him to everyone, and maybe we’ll stand around and groan for a while. It’s hard to say what friends are any more, but that might be close."

Tapi setelah dinikmati ternyata ceritanya menarik. Kenalkan, R. Zombi dingin busuk menyeramkan namun berhati hangat yang hobinya naik-turun eskalator dan dengerin lagu-lagu Frank Sinatra. R berbeda dengan Kaum Mati kebanyakan, dia masih punya rasa guilty dan nggak enak setiap kali habis makan manusia. Dia juga masih suka bertanya-tanya tentang siapa dia dulunya sebelum jadi zombi dan membayangkan gimana ya rasanya hidup jadi manusia kembali. (Di dunia zombi R, manusia yang digigit oleh zombi tapi tidak dimakan sampai habis akan ikut berubah jadi zombi. Jadi dulu R juga manusia biasa sebelum men-zombi. Sayangnya, setiap zombi nggak bisa ingat sama sekali tentang kehidupan lamanya sebagai manusia.)

Cerita R ketemu Julie bermula dari sebuah penyerangan zombi (R dan teman-temannya) ke sebuah apartemen. Disana R memangsa Perry, yang akhirnya mati termakan setelah berusaha melindungi Julie, pacarnya. R menyimpan bagian otak Perry (save the best for the last?) dan ia membawa Julie ke kediaman para zombi, sebuah bandara yang sudah tidak beroperasi di bagian luar kota.

Semenjak itu, perangai R juga berubah. Sejujurnya dia juga pengen makan Julie sih, tapi ketertarikan R akan cewek itu menahannya. R jadi lebih sering ngobrol, dan mulai lebih menunjukkan tanda-tanda kemanusiaan (dengerin musik, tidur, nyetir mobil, dan lain sebagainya). Saya rasa sebagian besar ketertarikan R juga di
pengaruhi oleh otak Perry yang ia makan deh, karena setiap kilasan peristiwa dalam kehidupan Perry (termasuk segala ingatan tentang hubungannya dengan Julie) jadi bisa dilihat dan dirasakan oleh R.

Yang saya paling suka adalah gimana cinta bisa membuat R kembali jadi manusiawi. Warm Bodies juga diisi oleh faktor-faktor x yang bisa bikin buku jadi menarik. Tokoh Julie dihadirkan dengan karakter yang menarik, lumayan tangguh, mandiri, intinya nggak menye sama cinta. Kisah cinta mereka nggak instan deh. Karakter antagonis muncul dalam wujud Grigio, ayah Julie yang keras dan bertekad untuk membunuh semua zombi yang ia temui. Nggak ketinggalan juga Nora, karakter sahabat baik si tokoh utama yang fun & sassy.

I suck in air and attempt to sing. "You're... sensational..." I croak, struggling for a trace of Frank's melody.
There's a pause and then something shifts in Julie's demeanor. I realise she's laughing.
"Oh wow," she giggles. "That was beautiful, R, really. You and Zombie Sinatra should record Duets, Volume 2."
I cough. "Didn't get... warm-up."

Sayangnya, saya rasa nggak semua orang bisa baca buku ini, karena bagian-bagian makan-memakan R itu cukup deskriptif dan cukup bikin eneg juga. But if you can manage to read and survive those parts, you'll find that this unique story is kinda sweet and heart-warming. Kepribadian R yang lumayan lucu, agak sarkas dan jalan pikirannya yang menarik jadi poin lebih. Kekurangan lainnya adalah Isaac Marion kurang mengeksplor atau menjelaskan lebih lanjut tentang latar waktu dan back-stories yang bisa mendukung isi cerita dan membantu pembaca memahami situasi saat itu. Jadi, cerita Warm Bodies ini terjadinya kapan? Di masa depan? Apa yang terjadi pada manusia di saat itu, apakah sebagian besar dari mereka telah berubah jadi zombi dan sebagian lain mati dimakan zombi? Bagaimana awalnya zombi ada dan mulai menjadi musuh besar manusia? Dan hal-hal lain yang serupa.


Movie Adaptation
Surprise, surprise! Ternyata Warm Bodies ini filmnya udah dibuat dan bakal tayang Februari tahun depan. Tapi yang bikin saya paling excited is the fact that Nicholas Hoult is R! And he plays the part really well (yah, kalau dilihat dari trailernya sih). And the trailer turns out to be kinda adorable and really funny! Mungkin pihak pembuat filmnya lebih pingin menonjolkan sisi humornya daripada horornya, and I'm glad about it.



Warm Bodies (2013)
Directed by Jonathan Levine
Casts: Nicholas Hoult (R), Teresa Palmer (Julie), Dave Franco (Perry), John Malkovich (Grigio), Analeigh Tipton (Nora), and Rob Coddry (M)


  "We will cry and bleed and lust and love, and we will cure death. We will be the cure. Because we want it."
 

- Tirta.

October 23, 2012

Take a Bow by Elizabeth Eulberg


Judul: Take a Bow
Penulis: Elizabeth Eulberg
Penerjemah: Mery Riansyah
Penerbit: Bentang Belia (September 2012)
Harga: Rp 49.000

***
Emme, Sophie, Ethan, and Carter are seniors at a performing arts school, getting ready for their Senior Showcase recital, where the pressure is on to appeal to colleges, dance academies, and professionals in show business. For Sophie, a singer, it's been great to be friends with Emme, who composes songs for her, and to date Carter, soap opera heartthrob who gets plenty of press coverage. Emme and Ethan have been in a band together through all four years of school, but wonder if they could be more than just friends and bandmates. Carter has been acting since he was a baby, and isn't sure how to admit that he'd rather paint than perform. The Senior Showcase is going to make or break each of the four, in a funny, touching, spectacular finale that only Elizabeth Eulberg could perform.

***

There are so many words bottled up inside
They scream out to be released
You've cast a spell over me
Been blinded for long, but can now see...

Carter
Narasi dibuka oleh kisah hidup seorang Carter Harrison. Dia ini mantan bintang cilik terkenal, sejak usia enam bulan sudah diajak sana-sini oleh Ibunya untuk ikut casting. Saat usia sembilan tahun, Carter sudah diundang ke acara paling bergengsi macam Oscar. Bisa dibilang udah seumur hidupnya Carter berakting. Tapi sebenernya Carter capek. Capek harus 'berakting' bahkan di kehidupan nyata, capek menghadapi Mom-nya yang lebih antusias tentang ketenaran dibanding Carter sendiri. Apalagi sekarang ditambah Sophie, pacarnya yang juga gila perhatian press. Passion Carter sebenarnya ada di bidang melukis, cuma dia belum berani untuk keluar dari zona nyaman dan melepas semua yang udah dia dapatkan sampai saat ini.

Sophie
Sophie Jenkins, pacar Carter, adalah cewek dengan ambisi yang tinggi untuk jadi bintang. Sophie punya keahlian dalam bidang menyanyi. Ia senang dengan segala macam perhatian, dan ia akan melakukan apapun untuk membuat penampilan-penampilannya selalu bagus, termasuk menyanyikan lagu buatan sahabatnya (tapi kemudian nggak mau ngakuin kalau itu buatan sahabatnya. *cibir*) Sophie ini karakter antagonis di Take a Bow; sebenernya, ambisi dia untuk jadi sukses dan berhasil itu bisa dimengerti dan relatable (namanya juga remaja yang punya banyak mimpi, siapa sih yang nggak pengen sukses, ya kan?), tapi cara-cara yang dia lakukan untuk mencapai ambisinya itu yang nyebelin. Kalau baca narasi Sophie ini entah kenapa keingetannya sama Blair Waldorf. *shrug*

Emme
Nah, Sophie tadi, sahabatan dekat sama Emme Connelly. Mereka udah sahabatan sejak umur delapan tahun. Kalau bidang Sophie adalah Vokal, bidang Emme adalah komposisi musik. Sayangnya, di high school ini hubungan Sophie-Emme mulai agak renggang. Sophie cuma datang kalau lagi butuh doang. Emme juga sekarang tergabung dalam sebuah band bareng Ethan, Jack dan Ben. Karakter Emme penuh dengan kesan insecure dan naif. Nggak sadar dan nggak pernah mau terima kenyataan kalau selama ini Sophie cuma manfaatin lagu-lagunya doang. Nggak PD buat coba jadi penyanyi di band, padahal suaranya lumayan, dan cuma dia yang paling bisa nyanyiin lagu-lagu buatannya sendiri. DAN, juga nggak sadar bahwa ada seseorang di band yang jatuh cinta sama dia. Tapi kelebihannya, Emme ini baik. Seorang sahabat yang loyal dan bisa diandalkan, dan juga pemersatu semua tokoh dalam cerita Take a Bow.

Ethan
Sosok sekeren Ethan Quinn emang justru lebih memesona ya kalau karakternya kompleks :)) Dia ini pemegang gitar di band, dulunya hobi selingkuh dan minum-minum sebelum manggung buat ngatasin demam panggungnya. Untungnya, semua berubah begitu terjadi 'pertengkaran besar' setelah sebuah kejadian, dan pertengkaran itu ngelibatin semua anggota band-nya. Udah lama Ethan jatuh cinta sama Emme... Tapi nggak pernah berani ngungkapin (Hayah!). Nggak banyak yang bisa diketahui tentang Ethan karena emang porsinya di buku ini lebih banyak nyeritain tentang hubungan dia dan Emme, juga kegiatan sekolah, band, dan audisi masuk universitas. Tapi paling meleleh waktu bagian lirik lagu yang ditulis Ethan buat Emme! Haduuuuh *kipas-kipas diri*

***

Take a Bow, US Cover
Saya nggak pake sinopsis back-cover versi Indonesia karena jujur aja, nggak cukup menggambarkan isi bukunya. Tadinya setelah baca sinopsis versi Bentang Belia, saya pikir cerita Take a Bow ini fokusnya lebih ke arah cewek yang dilema milih diantara dua cowok, ahihi. Ternyata bukan.
Ceritanya asyik!
Saya suka novel-novel remaja yang banyak masukin unsur musik ke dalam ceritanya, termasuk Take a Bow. Latar disini adalah di CPA, atau Creative and Performing Arts, New York. Novel diceritakan melalui sudut pandang keempat tokoh diatas, yang mana jadi nilai lebih karena kita bisa 'masuk' lebih jauh ke dalam pikiran para tokoh, tapi terdapat nilai kurang juga karena jadi nggak fokus sama satu pikiran, pembaca harus siap loncat-loncat pemahaman. Jujur aja di beberapa bab awal sempat bosan, apalagi ditambah harus adaptasi sama terjemahannya yang menurut saya agak nggak biasa. Disini kata gantinya jadi 'aku-kamu', bukan 'aku-kau' seperti buku-buku terjemahan biasanya. Kata-kata lain juga banyak yang mengalami 'peremajaan', istilahnya, hehehe, contohnya kalau buku terjemahan biasanya 'tidak', ini jadi 'nggak'. Mungkin maksudnya supaya lebih akrab dengan sasaran genre-nya, yaitu remaja, tapi saya pribadi sebenernya lebih suka yang agak resmi kayak biasanya aja sih. Tapi untungnya, begitu sampai ke tengah-tengah sampai akhir, ceritanya jadi lumayan intense dan seru. Kalau baca terjemahannya tuh, entah kenapa terbayang gimana asiknya baca versi asli bukunya :D
Saya suka gimana karakter-karakternya berkembang (*uhuk* kecuali Sophie kayaknya *uhuk*), dari Carter yang mulai berani keluar dari zona nyaman, Emme yang mulai percaya diri, tapi tetep aja... sebel sama Ethan yang nggak berani-berani ngungkapin perasaan! Hihihi. Pas Emme-nya deket sama cowok lain dia malah uring-uringan sendiri.
Juga, senangnya, buku ini nggak melulu fokus ke romance, tapi lebih ke usaha tokoh-tokohnya untuk sukses ngelakuin hal-hal di bidangnya masing-masing, juga hubungan persahabatan Sophie-Emme yang mulai renggang itu. Ditambah bumbu-bumbu humor yang muncul tiap kali ada anggota band-nya Emme & Ethan, si Jack & Ben. Nilai plus banget deh.
Endingnya juga tidak mengecewakan! Hihihi.
In conclusion, Take a Bow is a really read-worthy book. Sweet, light-read, cocok untuk pembaca contemporary YA yang suka kisah-kisah berbau musik, atau mungkin mereka-mereka yang suka nonton TV show semacam Glee nih. :)


If I could kiss away your pain, I would
If I could hold you every night, I would
If I could erase every mistake, every other face
I wouldn't change a thing
Because all those things led me to this place
And to you



 - Tirta.

September 27, 2012

Daughter of Smoke and Bone by Laini Taylor


Judul: Daughter of Smoke and Bone (Dari Asap dan Tulang)
Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000

***

Pada zaman dahulu,
seorang malaikat dan iblis jatuh cinta.
Kisah cinta mereka tidak berakhir indah.


Langit terbelah dan banyak sosok asing berwajah rupawan turun ke bumi, menyembunyikan sayap api mereka dalam ilusi agar bisa berbaur dengan manusia. Birai-birai pintu di penjuru dunia mereka tandai dengan cap tangan hitam yang melesak terbakar pada kayu atau logam.

Sementara itu, di suatu tempat di Praha, Karou, gadis 17 tahun, siswa sekolah seni di Praha, menjalani kehidupannya yang tampak normal. Tetapi ia selalu membawa-bawa buku sketsanya yang berisi gambar monster-monster aneh dan menyeramkan––chimaera yang merupakan makhkluk terdekat yang ia punya sebagai keluarga.

Kehidupan Karou akan berubah dalam semalam. Tanpa ia sadari, peperangan antardua dunia yang kejam akan melibatkan dirinya.
 

***

Daughter of Smoke and Bone adalah buku pertama Laini Taylor yang saya baca, dan waktu itu masih dalam bahasa inggris karena belum diterjemahkan oleh GPU. Begitu tahu GPU bulan September menerbitkan terjemahannya, saya pun beli lagi. Soalnya, buku ini buat saya itu -yang sebenarnya nggak suka-suka amat sama genre fantasi- masuk ke dalam tingkatan: Ya ampun.

Suka, banget! Dan unik banget. Meskipun awalnya sempat pesimis karena baca kata-kata 'malaikat' (berhubung pengalaman saya dengan novel-novel YA yang mengandung karakter malaikat/nephilim/seraphim sebelumnya tidak berlanjut baik :p), tapi Laini Taylor menyuguhkan sesuatu yang berbeda dalam cerita Daughter of Smoke and Bone.

September 04, 2012

Pride and Prejudice by Jane Austen

Pride and Prejudice

Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 59.000


***









"Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, menjadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi."

Di mata Elizabeth, Mr. Darcy tidak pernah menjadi sosok yang memesona. Baginya, laki-laki itu angkuh, sombong, dan menyebalkan. Elizabeth membenci tatapannya yang merendahkan, cara bicaranya yang meremehkan, dan segala hal tentang bangsawan kaya raya itu. Kebencian itu semakin bertambah ketika Elizabeth tahu bahwa Mr. Darcy telah melakukan hal yang menurutnya tak bisa dimaafkan.

Butuh lama bagi Elizabeth untuk memahami sisi lain dari Mr. Darcy dan menerima kenyataan akan kebaikannya yang tersembunyi. Dan, ketika akhirnya gadis itu menyadari perasaannya kepada Mr. Darcy telah berkembang menjadi cinta, dia pun jadi ragu, akankah dia bisa menebus prasangkanya yang sangat buruk pada laki-laki itu? Lalu, akankah cintanya yang baru tumbuh itu menjadi sia-sia?

Dalam Pride and Prejudice, Jane Austen menuangkan detail yang memikat mengenai kaum menengah ke atas pada abad ke-19. Karakter-karakternya yang memukau, juga narasinya yang cerdas, menjadikan novel ini sebagai salah satu roman terpopuler sepanjang masa.


***
“I declare after all there is no enjoyment like reading! How much sooner one tires of any thing than of a book! -- When I have a house of my own, I shall be miserable if I have not an excellent library.” 
Segala hal yang kutahu tentang Pride and Prejudice sebelum membacanya adalah bahwa buku ini merupakan salah satu buku terbaik sepanjang masa karya Jane Austen. Juga sempat kudengar bahwa di Amerika sana, mereka menjadikan dan menelaah buku ini sebagai bahan pelajaran di sekolah-sekolah maupun kampus. Namun satu hal yang akhirnya membuatku memutuskan untuk mencoba membacanya adalah saat beberapa waktu lalu aku melihat sebuah komentar yang bilang bahwa di dalam buku inilah terdapat 'one of the most romantic relationship in a book history ever'.

Kalau ada yang bisa kukatakan sekarang setelah membacanya... adalah bahwa buku ini... 

August 26, 2012

Blood Red Road by Moira Young

Blood Red Road (Seri Dustlands #1)

Judul: Blood Red Road
Penulis: Moira Young
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Mizan Fantasy
Harga: Rp 64.000


***









Mereka menjulukinya Malaikat Kematian. Setiap kemunculannya membuat semua petarung lain bergidik ngeri, sementara penonton justru menyambut penuh gempita. Saba, sang Malaikat Kematian, tak pernah memedulikan apa pun dalam bertarung. Dia hanya berusaha tetap hidup. Demi menyelamatkan Lugh, kembarannya. Demi mencari sebuah penjelasan.

Saba harus keluar dari tempat itu. Di tengah ketatnya penjagaan terhadap para petarung, nyaris tak ada celah terlihat. Saba tahu, dia hanya harus menunggu lebih sabar. Namun, apa artinya kesabaran di tengah desakan waktu yang kian menghimpit? Malam pertengahan musim panas sebentar lagi tiba. Terlambat sedikit saja, Lugh akan tewas demi memenuhi ambisi seorang penguasa gila.

Saba tidak sendiri. Ada Jack. Pemuda itu telah mencuri perhatiannya dengan janji akan menemani perjalanan mencari Lugh. Namun, akankah Saba percaya sepenuhnya ketika Jack pun memiliki alasan tersembunyi?


***

Aku sudah berkelana ke seluruh dunia
Dan, mengecup begitu banyak wanita
Tetapi, hanya bibir semanis anggurmu yang terbayang
Oh, Annie yang keras hati, kau begitu kejam, Sayang

Oh, the joy of reading a really good book when no one seems to notice it yet. Reading Blood Red Road is like finding a diamond in a mud. Serius. Allow me to be a bit emotional on this review, tapi buku ini BAGUS SEKALI.

August 22, 2012

Before I Die by Jenny Downham

Before I Die

Penulis: Jenny Downham
Penerjemah: Indriana Grantika
Penerbit: Grantika Publishing
Harga: Rp 49.900



***



Dengan kanker yang dideritanya, Tessa hanya memiliki sisa hidup beberapa bulan lagi. Namun ia menyadari bahwa hidup harus dinikmati sebisa mungkin, meskipun hidup yang dapat ia capai hanya mencapai usia tujuh belas tahun.

Ia membuat daftar keinginan: sepuluh hal yang ingin ia wujudkan sebelum hidupnya berakhir. Namun hal yang paling berharga dalam hidup merupakan hal yang benar-benar tak terduga.

Sanggupkah Tessa mewujudkan seluruh keinginannya sebelum hidupnya berakhir?


***

"Andai aku memiliki seorang pacar. Andai dia tinggal di lemari mantel. Kapanpun aku menginginkannya, aku dapat mengeluarkannya dari lemari dan dia akan menatapku seperti yang dilakukan para pemuda dalam film, seolah-olah aku ini cantik."

Bayangkan menjadi seorang Tessa Scott yang sudah didiagnosa kanker sejak umurnya 12. Ia berhenti sekolah. Tinggal di rumah hanya bersama Ayahnya dan seorang adik, Cal. Ayah-Ibu Tessa sudah beberapa tahun ini berpisah. Sebagai seseorang yang berusia remaja, tentu masih banyak hal-hal yang ingin Tessa lakukan sebelum ia mati. Ia membuat daftar dari hal-hal tersebut. Dan salah satu bagian utamanya adalah: punya pacar.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang pertama, sehingga kita akan diajak melihat dan mengalami cerita dari mata seorang Tessa. Ia sakit, namun ia tak mau dikasihani. Ia ingin melakukan banyak hal-hal gila, seperti pergi ke klub, berbuat sesuatu yang melanggar hukum, menanggapi setiap perkataan maupun permintaan orang dengan 'ya', menjadi terkenal, mengemudikan mobil tanpa sim, dan ia berharap Ayahnya akan lebih berbaik hati dalam mengizinkannya melakukan serangkaian hal-hal tersebut. Lagipula, ia kan sakit. Harusnya Ayahnya memberikannya kesempatan untuk melakukan hal-hal itu sebelum ia mati.