Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

January 05, 2015

Twivotiare 2 by Ika Natassa

Twivortiare 2

oleh Ika Natassa
diterbitkan 17 Desember 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama
Metropop/Romance/Drama/Chick-Lit
488 halaman
buku lain dari penulis: A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, Twivortiare
selesai dibaca 3 Januari 2015
[warning: spoilers]

***

"You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself."

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

"Today is 'bring your kids to work' day at my office. Semua bawa anak ke kantor kecuali gue dan yang masih single."

Kembali dengan jilid kedua dari kisah kehidupan rumah tangga si bankir Alexandra dan suaminya Beno Wicaksono pasca rujuk, kalimat tersebut termasuk dalam tweets-tweets pertama yang muncul dalam Twivortiare 2, sebagai pemeta fokus kali ini: Kehadiran anak diantara Alex dan Beno. Tentang betapa inginnya Alex dan suaminya buat punya momongan, keharusan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini dari para tante-tante Beno yang rese, dan perjuangan mereka demi menghadirkan si buah hati, hingga akhirnya lahir seorang Arganta Saka Wicaksono. Selain itu, Twivortiare 2 juga dilengkapi dengan cerita suka-duka mengenai pekerjaan Alex-Beno, kegiatan mereka sehari-hari, weekend getaway di Kebagusan atau rumah mertua, trip ke berbagai kota, juga keisengan-keisengan Alex yang seneng banget ngerjain Beno.

Aku lumayan sedikit merasa beruntung karena nggak follow akun @alexandrarheaw di Twitter yang sekarang, jadi hampir semua tweets-nya terasa fresh dan baru. Ada perbedaan mencolok yang sangat terasa waktu membaca Twivortiare 2 ini, yaitu pribadi Alex yang kini makin dewasa. Di Twivortiare yang menceritakan tentang hari-hari awal mereka rujuk, Alex dan Beno masih sering banget berantem dan ambek-ambekan. Hal ini kejadian berkali-kali dan bikin cerita agak repetitif. Tapi di Twivortiare, voila! Kayaknya bisa dihitung jari berapa kali mereka berantem, bahkan mungkin nggak pernah! Lebih seringnya sekarang Alex berusaha mencari waktu yang tepat buat ngomong atau justru mengalah, jadi nggak ada lagi adegan kabur-kaburan ke rumah Kebagusan :) Ini satu hal yang aku sukai banget dari Twivortiare 2. Hubungan Alex-Beno sekarang udah benar-benar terasa dewasa, adem, dan lebih nyaman, yang jadi penanda bahwa mereka sekarang udah di tahap yang baik untuk masuk ke fase selanjutnya.

"Gue capek banget, jadi males berantem. Kalo gue buka mulut, pasti ujung-ujungnya berantem lagi, jadi gue diem aja."

Kemudian, di Twivortiare 2 ini jauh lebih banyak interaksi dengan followers yang ditampilkan. Pertanyaan-pertanyaan dan mentions yang masuk (dari groupiesnya Beno, terutama) jadi penggerak utama yang mempengaruhi jalan cerita. Lucu deh, banyak akun-akun yang namanya familiar buatku dan sukses bikin senyum-senyum sendiri hihi. Nggak hanya itu aja, Wina dan Beno juga kini semakin sering muncul untuk ikutan menjadi pelengkap (Yay!). Tapi kalau ada satu hal yang harus aku akui sebagai keunggulan Twivortiare 2 kali ini, adalah dedikasi Ika Natassa sebagai penulis terhadap karakter-karakter yang ia ciptakan. Tweets aja nggak cukup, Ika melangkah lebih lanjut dengan menghadirkan postingan-postingan screenshots percakapan Alex dengan karakter lain dari WhatsApp, BBM, iMessage, Path, bahkan ia juga memasukkan foto/ilustrasi baby Arga di akun tersebut. Hal-hal inilah yang membuat Twivortiare 2 jadi autentik, karena penulisnya nggak setengah-setengah berusaha membuat karakternya se-hidup dan se-real orang-orang biasa.

Dengan hampir 500 halaman untuk Twivortiare 2 kali ini, puasss banget rasanya mengulik kehidupan Alex dan Beno. Meskipun tone buku secara keseluruhan masih agak mellow karena masalah anak, Twivortiare 2 tetap sukses menghibur dengan kisah-kisah iseng jailnya Alex, lempeng-overprotektif-tapi-manisnya Beno (!!!), dan hal-hal yang mereka lakuin berdua. Di satu sisi, Twivortiare 2 lebih enak dibaca karena drama-dramanya sekarang lebih terkontrol, tapi di sisi lain, kadang sisi cheesy-nya Alex dan Beno ini aduh, bisa bikin meringis juga ya :") Entah kenapa dari sekian banyaknya tampilan-tampilan kehidupan mereka berdua, bagian paling favoritku justru dua screenshots dimana Alex berusaha ngajarin Beno arti dari emotikon-emotikon yang ada di handphone mereka. Setelah itu adegan dimana Alex ngasih surprise ke Beno dengan pulang lebih awal dari Surabaya. Lucuuuuu!

"I bet Beno Wicaksono is the only husband who woke his wife up across the ocean just to ask: Yang, kaus kaki aku yang satu lagi mana?"

Screenshots: "Anakku gimana kabarnya? | Anak kita, Beno. We're fine. Tapi mual dikit aja. Kamu cepetan pulang dong, hon. Masih di RS? | Udah deket | Deket hati aku maksudnya? :* | Deket setiabudi"
HAHAHA

"Kamu kenapa sih kalo mandi harus lama banget kayak duyung? | Kamu kenapa sih kalo makan harus banyak banget kayak gorila?"

Sayangnya ada juga hal yang aku kangenin dari Twivortiare pertama tapi nggak ada kali ini, yaitu kultwit Alex tentang hal-hal di luar kehidupannya dengan Beno. Dulu, Alex sering cerita tentang random things, termasuk detail dari pekerjaannya yang suka dikirim kesana-kemari ke berbagai kota, juga yang jadi favorit waktu itu adalah kultwit mengenai how to manage your money. Sekarang, cerita rasanya sangat-sangat terfokus pada Beno, Beno-Alex, Beno-Alex-baby, dengan diselingi berbagai sesi 'konsultasi percintaan' bersama followers-followers (Yang sekarang bahasannya pun udah lebih 'dewasa', hihihi). Not a bad thing sih, tapi rasanya jadi agak-agak cintaaa melulu. Juga, bagian pasca baby Arga-nya lahir sedikit bangeeeet! Nagih nih yang ini. Kebayang kalo cerita di-fast forward beberapa tahun, masa-masa Arga udah setahun, dua atau tiga tahun, udah bisa baby talk dan lagi lucu-lucunya, pasti bakal entertaining banget buat nyimak interaksinya sama orangtuanya <3

Pada akhirnya, Twivortiare tetap jadi sebuah buku yang enak dinikmati (dan quotable banget, seperti biasa) bagi para pengikut setia Alex dan Beno. Untuk pembaca yang belum pernah mengikuti kisah mereka pun, menurutku pribadi, nggak harus baca Divortiare atau Twivortiare dulu untuk bisa mengerti jalan ceritanya. Semua cukup jelas kok. Plot and pace wise, Twivortiare 2 bisa dibilang agak lambat, tapi untuk penyuka cerita-cerita dengan penokohan dan karakter yang 'hidup', buku ini bakal jadi buku yang enak buat dibaca. Ika Natassa is a very nice author to her readers (Have you noticed it? Meskipun sering mengakhiri buku-bukunya dengan ending gantung, pada akhirnya Alex-Beno rujuk lagi, dan pada akhirnya juga mereka sekarang benar-benar dikaruniai anak, kan? Hehe), so I think it's safe to expect a lot more good things to come for our favorite characters: Alex, Beno and their baby :)

***

Selamat tahun baru 2015, teman-teman. Twivortiare 2 is my first book that I read this year, what's yours? Semoga (liburannya dan) tahun 2015 ini menyenangkan untuk kita semua, ya!

As always, don't forget to have fun and read some more,


April 29, 2014

Galila by Jessica Huwae


sebuah buku oleh Jessica Huwae
diterbitkan 17 Maret 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama
Metropop/Drama/Romance
331 halaman
buku lain dari penulis: Skenario Remang-Remang, Soulmate.com
selesai dibaca 19 April 2014

***

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. Menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antar agama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?

"Galila."
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Pernahkah kamu belajar dari batu karang?

Galila, si gadis tanpa nama belakang, berasal dari kota kecil di Pulau Saparua sana, nun jauh di timur Indonesia. Kisah hidupnya pelik. Setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan bertubi-tubi dalam hidupnya, mulai dari ayah yang abstain dan ibu yang tidak menaruh banyak perhatian, lalu serangkaian peristiwa lain yang berusaha ia tutupi erat-erat, Galila mencoba peruntungan dengan mendaftar audisi Indonesia Mencari Diva. Tak disangka, ia berhasil di Jakarta. Setelah jadi pemenang, Galila membuat gebrakan-gebrakan baru dalam dunia entertainmen. Untuk menghadapi dunia penuh persaingan yang sengit ini, citra Galila dibangun sedemikian rupa oleh pihak manajemennya, dengan sangat hati-hati, sehingga ia dinilai sebagai bintang baru yang jauh dari berita-berita tak enak. Ia berusaha menutup kehidupan pribadinya rapat-rapat. Namun pada akhirnya masa lalu itu mengejarnya juga....

Galila adalah buku dari Jessica Huwae pertama yang aku baca. Cover depan hasil karya Riesma Prawesti yang lumayan catchy bikin aku tertarik membelinya di acara Kompas Gramedia Fair kemarin. Secara keseluruhan, Galila merupakan kisah solid yang cukup menarik, dibangun dengan narasi-narasi panjang, deskripsi mendetail, dan konflik silih berganti. Rangkaian kejadian dalam hidup Galila tidak diceritakan secara kronologis dalam runut maju, melainkan berupa flashback-flashback yang secara rapi diungkap satu persatu. Cerita dibawakan melalui sudut pandang orang ketiga, permainan diksinya menarik, hampir lirikal dan berima, meskipun seringkali panjangnya narasi bisa bikin agak 'kelelahan' bacanya.

Sinopsis di belakang buku menurutku bisa agak 'menipu', nih. Tadinya kupikir cerita Galila ini akan menaruh lebih banyak porsi pada bagian dimana Galila kembali ke kampung halaman guna menenangkan diri dari berbagai masalah yang menimpanya di Ibukota, namun ternyata tidak. Bagian itu justru rasanya sedikit banget, yang bikin aku merasa penyelesaian konflik disini agak terburu-buru. Sebagian besar kisah Galila justru terfokus pada jalan karirnya menjadi bintang ternama dan masalah-masalah seputar hubungan percintaannya dengan Eddie, putra seorang pengusaha. Untungnya, semua ini diungkapkan dengan cara yang enak, menarik dan mengalir, jadi bukan suatu masalah.

Lewat kisah cinta Galila dengan Eddie, Jessica Huwae juga menampilkan konflik tentang budaya dan hubungan keluarga. Edward Hamonangan Silitonga berasal dari keluarga Batak yang masih memegang teguh adat dan usaha melestarikan garis keturunan keluarga. Adalah mama Eddie, Hana Silitonga, yang secara tegas tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Galila. Selain tidak separibanan, Galila pun dicurigai karena asal-usulnya yang tidak jelas. Ditambah lagi profesinya sebagai artis yang berarti hilangnya privasi Galila dan juga orang-orang yang terlibat dalam kehidupannya. Mati-matian Hana berusaha menghalangi niat Eddie untuk melamar Galila. Mulai dari menjodohkan anaknya itu dengan perempuan lain, hingga menyewa orang untuk mengorek masa lalu Galila dan menjauhkannya dari Eddie. Mati-matian pula Eddie berusaha memberontak dari kungkungan mamanya itu. Seumur hidup, Eddie merasa seolah bukan manusia bebas yang berhak atas kehidupannya sendiri, karena segala sesuatu sudah diatur oleh kedua orangtuanya. Ia hanyalah 'boneka' yang harus mematuhi segala perintah orangtua. Disini, keinginan Eddie untuk berbakti pada orangtua yang telah mengurus sejak kecil bertabrakan dengan haknya sendiri untuk menikmati hidup seperti yang ia mau.

“Aku cuma mau bilang, kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.” 

Kagum rasanya sama karakter Galila yang diciptakan oleh Jessica Huwae. Pada awalnya, aku sempet ngerasa Galila ini kurang bisa menunjukkan emosi, karena apapun yang terjadi, mulai dari pemberitaan aneh di media sampai omongan tidak enak dari orangtua Eddie, Galila nggak terasa begitu panik ataupun terganggu. Sedihnya tidak terasa benar-benar sedih, marahnya tidak terasa benar-benar marah. Mungkin banyaknya narasi dan minimnya dialog yang ngebuat dia seolah kurang ekspresif? Atau mungkin... Segala pengalamannya dalam menghadapi kejadian-kejadian buruk yang menimpanya saat masih di Saparua sana telah menempa Galila menjadi orang yang kuat, tegar dan tidak gampang 'patah' saat terkena masalah. Rangkaian tragedi yang harus ia jalani di usia yang masih muda banget itulah yang membentuknya jadi seorang Galila, sang diva yang sekarang ini. Pembawaannya tenang, profesional, tekun dalam bekerja. Ia tidak memperoleh kesuksesan melalui cara-cara yang tidak enak, dengan menjatuhkan orang lain, misalnya. Bukti kekuatan perempuan yang luar biasa tercermin dari diri Galila. Dirinya bisa dianalogikan serupa sebuah batu karang (seperti disinggung penulis di bagian paling akhir cerita), yang meski telah berulang kali diserang 'gelombang' tetap mampu berdiri tegak. Pada akhirnya, Galila bisa membuat segala musibah dalam hidupnya menjadi kekuatan baru yang menghasilkan sosok yang lebih baik di masa depan, meskipun ia tetap butuh menenangkan diri dari 'ganas'nya Jakarta sesekali waktu.

Pada intinya, kisah Galila karya Jessica Huwae ini enak, menyenangkan dan layak dibaca. Secara keseluruhan bagus, meski tidak tanpa kekurangan. Unsur-unsur metropopnya masih kental, terutama dari sisi kehidupan Galila sebagai artis ibukota, diselingi dengan beberapa topik dan konflik yang lebih serius. Banyak kata-katanya yang mengena dan bikin 'deg' sendiri, hihi. Beberapa typos ada dalam buku (meiliki, kecang), tapi nggak begitu seringnya hingga bisa mengganggu keasyikan baca cerita kok. Di beberapa bagian, ceritanya bisa memancing kita untuk merefleksi kehidupan sendiri. Karakter Galila yang tangguh dan tenang juga merupakan contoh baik bagi perempuan, jadi nggak salah kalau aku pilih buku ini untuk posting bareng BBI dengan tema 'Perempuan' :)

“Hidup, sepahit apa pun, harus tetap punya mimpi. Setiap orang harus punya sesuatu untuk dia kejar setiap hari. Masalah akhirnya tercapai atau tidak, itu urusan nanti…”


Have fun and read some more,

March 07, 2014

Bidadari Santa Monica, oleh Alexandra Leirissa Yunadi

Bidadari Santa Monica

karya Alexandra Leirissa Yunadi
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2009
Romance/Metropop/Lokal
368 halaman

***

Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Di matanya, Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: Remuk hati berkepanjangan. Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica.

Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai airmata, sambil tak henti-henti mengaguminya.

Lalu, pada hari yang ketujuh...

"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That`s your name right?"

Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...

"See you later, Little Shine..." bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.

Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan the love of her life, Efraim?

Alexandra Leirissa Yunadi adalah salah satu dari penulis-penulis lokal yang aku selalu suka karya-karyanya! Cerita dari dua buku pertamanya, Dua Pasang Mata dan Dua Belas Pendar Bintang, masih terus keingetan sampai sekarang, setelah sekian lama. Dua-duanya dari genre Teenlit. Nah, kebetulan, ternyata Alexandra pernah menulis untuk genre Metropop. Nggak tau juga kenapa aku bisa nggak aware tentang ini, dan baru tau kemarin ketika nemu bukunya di obralan Gramedia. Terbitnya pun udah lama, tahun 2009...

Buatku, khas dari setiap karya Alexandra Leirissa adalah ceritanya yang cukup simpel, dramatis ala sinetron, dan narasinya yang terkesan heboh. Bidadari Santa Monica pun begitu. Ringan, tapi jenis ringan yang nggak annoying, justru bikin pembacanya suka ikut senyam-senyum sendiri dan penasaran akan kelanjutan ceritanya. Adalah Pelita, yang bertemu dengan seorang pengamen jalanan yang sangat memesona di Santa Monica, Amerika, saat sedang melakukan kunjungan kerja hingga Pelita menyebutnya 'Bidadari Santa Monica'. Pengamen kecil ini benar-benar punya daya tarik yang kuat, namun nggak bisa Pelita jelaskan apa sebabnya, ia hanya tau bahwa dirinya benar-benar tertarik sama si Bidadari.

Tak dianyana, waktu lagi naik pesawat balik menuju Indonesia, si Bidadari ini duduk persis di sebelah Pelita! Kaget, pasti. Setelah berbasa-basi singkat, si Bidadari menanyakan tentang warna favorit Pelita, yang harusnya simpel bagi kebanyakan orang, tapi ternyata berbuah panjang ketika ditanyakan pada tokoh utama kita ini.

"Kamu nggak suka warna pink?"
"Sekarang nggak."
"Berarti dulu suka?"
"Lalu kamu suka warna apa?"
"Abu-abu."
.......
"Kamu memendam luka, ya?"

Yak, tebakan si Bidadari tepat sasaran. Setelah dibujuk, meluncurlah cerita dari mulut Pelita tentang Efraim, seseorang yang ia temui saat kerja dulu. Diceritakan bahwa Efraim ini cowok yang sangat ganteng, wangi, dan menarik. Ia masih muda, tapi sudah sukses mengelola bisnisnya. Nah, Pelita dapat kesempatan untuk meliput tentang bisnis milik Efraim. Nggak butuh waktu lama, Pelita jatuh cinta mati-matian sama laki-laki ini. Masalahnya cuma satu, yaitu, ada rumor yang mengatakan bahwa Efraim adalah pacar Pak Ian, bos di majalah tempat Pelita kerja........ Nah lho!

Cerita mengalir dengan asyik dari awal hingga akhir. Ada beberapa bagian yang rasanya 'duh, drama banget deh' atau 'heboh amat sih' tapi mungkin karena aku udah pernah baca karya-karya Alexandra sebelumnya (dan suka banget sama dua buku itu), hal ini nggak terlalu jadi masalah buatku pribadi. Kadang kelakuan Pelita di cerita ini bikin gemes sendiri, deh. Sampai-sampai aku mikir 'Ini cewek sebenernya bolot apa gimana sih?' Tapi yah, kalau nggak gitu nggak jadi seru kali ya :)) Dari awal udah di'foreshadow'-in (dikasih petunjuk) tentang peristiwa yang akan terjadi menjelang akhir cerita, jadi aku nggak begitu kaget waktu sampai di bagian ITU, meskipun tetap sempet kecewa dikit :| Oh ya, aku juga suka gimana buku ini sempat menyinggung tentang isu LGBT (gay, lebih tepatnya), meskipun hal itu bukan fokus utama Bidadari Santa Monica.

Dari segi teknis, ada beberapa hal yang aku tandai, contohnya adalah tulisan tersegal-segal (halaman 227). Nggak tau persis yang mana yang benar, tapi seingatku yang lebih umum digunakan adalah 'sengal' bukan 'segal' (duileh, Tirta). Juga kata excited yang harusnya ditulis 'exciting' ("It's so exciting!") ((halaman 152)). Ini grammar aja, sih. Hehe. Satu hal lain yang aku perhatikan juga disini, adalah bagian yang nggak seimbang antara awal dan akhir cerita. Hampir setengah dari Bidadari Santa Monica menceritakan tentang hubungan Pelita-Efraim di masa-masa deket tapi belum jadian, dengan segala drama dan kehebohannya, tapi setengah bagian buku berikutnya, di bagian senang-senang, porsinya dikit banget, kemudian langsung masuk bagian klimaks yang diikuti dengan resolusi yang (buatku) terlalu singkat pula. Jadinya, setengah buku pertama terkesan lambat alurnya, sementara setengah buku kedua justru kecepetan, seolah-olah penulis diburu-buru untuk mengakhiri cerita. Padahal konflik udah dibangun dengan baik dan lama.

Tapi pada akhirnya, menurutku Bidadari Santa Monica tetap sebuah buku yang bagus dan cukup menarik, cocok buat yang suka cerita Metropop yang mengandung banyak drama-drama. Beberapa pembaca lain mungkin bakalan males sama kesan dramatisnya, tapi buat yang udah pernah baca karya-karya Alexandra Leirissa sebelumnya, Bidadari Santa Monica ini nggak mengecewakan kok buat dibaca. :)


Adakah yg udah pernah baca Bidadari Santa Monica ini? Atau buku-buku Alexandra Leirissa yang lain? Ada rekomendasi Metropop sejenis dengan buku ini yang menurutmu bagus? :D


February 27, 2014

Amba, oleh Laksmi Pamuntjak

Amba

sebuah novel karya Laksmi Pamuntjak
pertama kali diterbitkan pada Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
Fiksi Historis/Drama/Sastra Indonesia
496 halaman
[Posting Bareng BBI bulan Februari: Kategori Hisfic Indonesia]

***

Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.

Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.

Bhisma tiba-tiba hilang---ketika Amba hamil.

Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.

Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh 'komunis' oleh pemerintahan Suharto.

Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.

Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.


Ibu Amba yang baik,
Sudah sejak lama saya berkeinginan membaca kisah Ibu, yang telah banyak dipuja-puja berbagai penikmat sastra tanah air sebelumnya. Kisah Ibu punya beberapa elemen penting dari sejarah negeri kita yang selalu membuat saya tertarik: Peristiwa Gerakan 30 September dan Pulau Buru. Ditambah lagi dengan 'selipan' kisah perwayangannya dan penyebutan bahwa Ibu adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Namun, baru di awal tahun ini akhirnya saya bisa membacanya, dan jujur saja, saya cukup terhentak meski baru sampai pada beberapa halaman pertama. Ibu mengalami percobaan pembunuhan di sebuah pulau jauh nan asing di sana, Pulau Buru, oleh seorang perempuan asli yang menusuk perut Ibu beberapa kali, namun Ibu malah ingin mencabut tuntutan atas perempuan itu karena Ibu merasa ia tidak bersalah? Aneh sekali, pikir saya. Entah memang hati Ibu begitu mulianya, atau ada hal lain yang tidak saya ketahui.

Ibu Amba yang baik,
Kemudian cerita bergulir ke awal mula, akar dari seluruh peristiwa dalam hidup Ibu. Darimana Ibu berasal (Kadipura), keluarga seperti apa yang membesarkan seorang Amba (Bapak seorang kepala sekolah yang arif, Ibu yang setia, dan dua adik kembar cantik calon-calon kembang desa, Ambika dan Ambalika), pribadi Amba remaja yang jelas kecerdasannya jauh melampaui umur sebenarnya, yang berkeinginan untuk memberontak dari tradisi, dari cerita Wayang yang berada di balik nama 'Amba' sendiri, dan keinginannya untuk studi Sastra Inggris di UGM, Yogya. Hingga ia akhirnya berkenalan dengan Dr Bhisma Rashad, hingga ia akhirnya menyeleweng dari sebuah hubungan yang begitu tulus dan memuliakan pemberian Salwa, hingga akhirnya ia memutuskan lari ke Jakarta, hingga akhirnya Ibu harus membesarkan anak tanpa kehadiran Ayah biologisnya...

Ibu Amba yang baik,
Sejujurnya kalau saya boleh bertanya, dorongan sebesar apa yang membuat Ibu sampai mau menyia-nyiakan cinta seorang Salwani Munir yang sudah sangat cukup? Mungkin bagi kita definisi cukup itu berbeda ya, Bu. Tapi dari apa yang saya baca, bahwa laki-laki yang dipilihkan oleh orangtua Ibu ini adalah seseorang yang berpendidikan, tegas, sayang dan dekat dengan keluarga Ibu, bahkan menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri... Salwa juga sudah sangat menghormati posisi Ibu sebagai wanita, ia mencintai dengan tulus dan penuh pengertian, ia bahkan menghargai keinginan Ibu untuk tidak menikah sebelum sarjana, dan akhirnya mau berpisah selama ia tinggal di Surabaya dan Ibu  tetap di Yogya. Tapi kemudian, apa yang Ibu lakukan, di Kediri, Bu? Sungguh, yang seperti Salwani Munir itu pun belum cukup? Di titik ini, jujur, sulit sekali bagi saya untuk bisa bersimpati dengan Ibu. Dorongan sebesar apa yang membuat Ibu bisa memalingkan rasa hingga sebegitu rupa?

Ibu Amba yang baik,
Cinta Ibu pada seorang Bhisma Rashad, bagi saya, adalah cinta yang tidak jelas sebab-musababnya. Mungkin bagi beberapa orang, justru yang seperti itulah cinta sebenarnya, tapi saya sungguh sangat heran, apa yang begitu spesial dari laki-laki ini, Bu? Yang membuat Ibu rela menunggu bertahun-tahun, bahkan berani untuk datang ke Buru setelah berdekade-dekade lamanya tanpa kabar, petunjuk, atau apapun itu. Benar ia sebegitu menariknya, Bu? Apakah karena fisiknya, yang tinggi menjulang, rambutnya yang kecokelatan? Apakah karena profesinya, sebagai dokter, penolong berbagai jiwa manusia? Apakah jalan pikirannya, yang membuatnya banyak memiliki kenalan dan akhirnya terlibat banyak dalam kegiatan golongan kiri, hingga akhirnya ia ikut ditangkap dan diasingkan? Orang bilang bermain-main dengan 'bahaya' memang kadang lebih menyenangkan daripada hidup lempeng-lempeng saja. Saya rasanya hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan apa tepatnya yang membuat Ibu begitu jatuh cintanya pada seorang Bhisma Rashad ini, kecuali bahwa ialah sosok yang membuat Ibu 'merasa hidup, sehidup-hidupnya'. Benar sesepele itu? Meskipun ia tidak pernah memperlakukan Ibu sebagai sosok yang spesial, bahkan memperkenalkan pada rekan-rekannya pun nama Ibu disebut begitu saja tanpa embel apa-apa, tapi kebetulan ia membuat Ibu merasa 'hidup', begitu?

Ibu Amba yang baik,
Maafkan kalau saya lancang, tetapi kadang saya pun bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya yang begitu spesial dari seorang Amba, hingga banyak laki-laki dengan mudahnya bisa tertarik pada Ibu? Rasanya mudah sekali bagi Ibu menarik perhatian dan mendapat cinta dari banyak pihak. Salwa, Bhisma, Adalhaerd, lalu Samuel.... Ketika usia Ibu tidak lagi muda, bahkan! Tetap saja!
Laki-laki itu, Bhisma, pernah mengatakan, "Wajahmu mengandung kesedihan sebuah kota," Lalu saya bertanya-tanya, apa kesedihan sebegitu agungnya? Sebegitu memesonakannya-kah ia, bagi yang melihatnya? Apakah mungkin itu jawaban mengapa orang seringkali berlama-lama melibatkan diri di dalamnya, sengaja tak ingin keluar, justru terus bersukarela menggulatkan diri dalam kesedihan itu sendiri, mengulang-ngulang masa yang telah lewat, menanti sesuatu yang tak pasti....

Ibu Amba yang baik,
Kisah Ibu ini, bagaimanapun tidak simpatinya, toh tetap bisa membuat saya kagum pada sosok Ibu. Penantian sekian tahun sungguh merupakan wujud keteguhan hati dan kesabaran tiada batas. Memang wanita kadang golongan yang paling misterius dan sulit dimengerti arah hatinya, ya, Bu. Saya agak kecewa, mungkin karena harapan akan sebuah kisah cinta yang benar menggugah tidak sepenuhnya terwujud. Dari sisi historicalpun, rasanya tidak banyak perspektif baru yang bisa didapat, terutama mengenai peristiwa Gerakan 30 September (padahal kisah ini punya potensi untuk menawarkan sudut pandang lain, sudut pandang sebenarnya dari pihak kiri). Untuk kejelasan tentang suasana di pengasingan Pulau Buru, jujur belum saya baca lebih lanjut, sehingga saya belum bisa berkomentar akan itu. Bisa jadi ekspektasi saya memang berlebih. Namun tetap, kisah ini sangat menarik untuk diikuti, penuh dengan rangkaian diksi yang kaya dan cukup membuai dengan kecantikannya, memaksa setiap pembaca untuk menaruh perhatian penuh dan menikmati dunia seorang 'Amba'. Bila harus dibandingkan dengan Pulang karya Laila S. Chudori, sebuah novel yang juga menyinggung peristiwa 1965, Pulang entah kenapa terasa lebih 'pop', dan lebih mudah dimengerti, namun kisah Ibu, tanpa ragu, punya daya tariknya sendiri. Terimakasih telah membuat kepercayaan Saya terhadap fiksi lokal bangkit kembali. Setelah sekian lama, akhirnya saya baca lagi satu karya berkualitas tinggi ciptaan penulis dalam negeri, dan dengan senang hati saya bisa katakan bahwa saya tidak menyesal.

Ibu Amba yang baik,
Kini sudah tiga tahun berlalu semenjak kisah Ibu selesai. Senang rasanya dapat mengenal Ibu, meskipun hanya melalui lembaran-lambaran kertas. Dimanapun Ibu kini berada dan bagaimanapun kondisinya, saya harap, kehidupan selalu menemukan Ibu dalam keadaan baik.


Penuh salam hormat dari Saya (yang juga seorang mahasiswi Sastra Inggris, mungkin lain kali kita bisa saling berdiskusi tentang berbagai puisi dan literatur menarik kesukaan kita ya Bu ;)),


July 15, 2013

Hawa oleh Riani Kasih

Hawa

oleh Riani Kasih
 Juara #2 Lomba Penulisan Novel Amore
Diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
254 hlm

***


Empat tahun menjalin hubungan tidak menjamin Hawa berjodoh dengan Abhirama. Hubungan mereka luarnya saja tampak mesra, padahal mereka dua orang yang memaksakan saling memahami, tapi sayangnya tak berhasil. Akhirnya, Hawa membatalkan sepihak rencana pernikahannya dengan Abhirama.

Karena sedih, malu dan kecewa, Hawa menenangkan diri ke rumah Omanya di pedalaman Kalimantan Barat. Di situlah Hawa bertemu dengan Landu, polisi yang bertugas di Kapuas Hulu. Perjumpaan mereka yang berawal dari kejadian tidak mengenakkan lambat laun menumbuhkan bibit cinta. Perlahan, kehadiran Landu yang pendiam tapi dewasa menyembuhkan luka hati Hawa.

Tetapi, sanggupkah Hawa menerima cinta Landu pada saat Abhirama menyusulnya dan memintanya kembali ke pelukannya?


Sejujurnya setiap kali saya baca buku hasil menang lomba yang diadakan oleh sebuah penerbit, biasanya lebih sering kecewa daripada setuju dengan pilihan juri. Lagipula saya belum pernah baca genre Amore. Tapi karena ini diadakan oleh penerbit besar dan disebut-sebut di twitter salah satu editor kebanggaannya, saya penasaran juga.

Apa yang saya suka dari kisah Hawa?
1. Fisik dulu ya. Covernya cantik! Manis, pink pula. Tadinya saya niatnya cari Mahogany Hills (yang menang pertama Lomba Amore ini), tapi karena kebetulan adanya Hawa dan covernya attractive, jadi saya beli deh ;)

2. Latar cerita yang nggak biasa dan world build-up yang kuat. Sejiram, Kalimantan Barat digambarkan dengan baik oleh Riani Kasih. Suasananya, kehidupan para masyarakatnya. Hal-hal yang dilakukan Hawa dan Landu di kencan-kencan mereka juga asyik euy: sepedahan bareng kemudian nonton sunrise, belajar naik speedboat, panen madu. Jadi semacam great escape dari buku-buku lain yang kebanyakan nyeritain kisah-kisah berlatar kota metropolitan.

3. Kisah Landu dan Hawa ini berproses. Mungkin karena saya kebanyakan baca YA dimana *uhuk* insta-love udah nggak asing lagi *uhuk*, Landu dan Hawa yang awalnya nggak suka satu sama lain ini jadi 'wah' buat saya. Iyalah, belum apa-apa Hawa udah ngelempar kaleng minuman ringan aja ke Landu. Landu nganggepnya Hawa cuma cewek angkuh, Hawa juga berpendapat bahwa Landu aneh. Baru setelah beberapa kesempatan, mereka akhirnya lebih tau pribadi asli masing-masing.

4. Landu si polisi yang romantis ini.... Likeable banget deh ((senyum-senyum menye)). Berdedikasi terhadap pekerjaan, baik, ramah, penyayang pula. Rasa sayangnya Landu buat Hawa itu kerasa banget, terutama di bagian kedua dimana hubungan mereka bener-bener diuji.

Apa yang saya nggak suka dari kisah Hawa?

May 30, 2013

Autumn Once More by Ilana Tan, dkk


Judul: Autumn Once More
Penulis: Alia Zalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
Tebal: 232 hlm

***

Cinta <adj>: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.


"Heaven knows what's best for us."

Sejujurnya, awal-awal kumpulan cerpen ini dipromosikan di media sosial, saya nggak terlalu tertarik beli (meskipun deretan penulisnya termasuk yang wow-wow). Tapi sewaktu pergi ke toko buku dan sempet 'ngintip' salah satu kopi yang plastiknya terbuka, saya iseng liat cerpennya Ilana Tan. Ternyataaa saya baru tau 'Autumn Once More' itu ceritanya Tatsuya-Tara dari buku Autumn in Paris (seri Four Seasons)! OMG. Langsung beli-lah. Soalnya buku itu favorit saya banget dari semua bukunya Ilana! (masih inget gimana sesenggukannya nangis waktu nyelesein Autumn in Paris... huhuhu)


Be Careful What You Wish For (aliaZalea)
"Banyak orang bilang cinta terkadang membuat pikiran kita tidak rasional. Dan biasanya ketidakrasionalan tersebut dimulai dari rasa suka, yang sekilas terdengar lebih jinak daripada cinta, padahal tidak begitu kenyataannya. Gara-gara suka, kadang kita mendapati diri melakukan hal-hal yang nggak akan mungkin dilakukan kalau pikiran kita seratus persen waras."
Gimana? Kalimat pembukanya aja udah bisa bikin senyam-senyum atau angguk-angguk sendiri, ya? Karya aliaZalea yang ini ringan, temanya seputar kelakuan kita (si tokoh utama) yang naksir seseorang. Siapapun pasti bisa relate deh sama ceritany.

Thirty Something (Anastasia Aemilia)
Premisnya sebenarnya sederhana dan agak klise: Tentang dua sahabat yang saling naksir (tapi nggak pernah diungkapkan). Ribetnya, tokoh utama cewek kita ini udah dijodohkan oleh neneknya ke orang lain, sementara tokoh utama cowoknya mau pergi ke Jepang. Endingnya bittersweet, but I did enjoy reading this piece. (Karya Anastasia Aemilia yang lain, Katarsis, juga rame dibicarakan di media sosial Gramedia dan disebut-sebut sama Mbah Hetih sebagai karya yang bagus. Tapi genre-nya thriller, makanya saya belum baca. Ada yang udah?)

Stuck With You (Christina Juzwar)
Gimana rasanya melulu terjebak di lift kantor bersama dua cowok ganteng? Itu yang terjadi sama Lita. Saya juga heran kok bisa-bisanya si lift itu macet terus sewaktu si Lita naik. Jangan-jangan Lita ini orangnya mengandung aura buruk (lah). Tapi namanya juga fiksi, hihihi.

Jack Daniel's vs Orange Juice (Harriska Adiati)
Dennys yang hobinya ngebir bareng teman-temannya, sholat aja jarang, dan pulang pagi melulu, jatuh cinta sama anaknya Pak Haji. Waks! Tapi anak Pak Haji mana mau sama cowok tipikal Dennys yang demen gaul ini? Dennys-pun mati-matian merubah sikap supaya jadi lebih alim dan bisa dibilang pantes jadi jodoh anaknya Pak Haji.

February 24, 2013

Cinderella dan Empat Kesatria #1 by Baek Myo


Judul: Cinderella dan Empat Kesatria #1
Penulis: Baek Myo
Penerjemah: Tang Jong Rye & Kukuh Adirizky
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (November 2012)
Tebal: 264 hlm

***

Eun Ha Won benar-benar seperti Cinderella.

Sungguh tak disangka, kakek yang ditolong Ha Won di jalan ternyata Direktur Kang—pengusaha Korea yang sangat kaya. Dan dia bersedia membantu mewujudkan keinginan Ha Won: keluar dari rumah yang ditinggalinya bersama sang ibu tiri. Ha Won pun kemudian tinggal di rumah mewah bersama tiga cucu tampan sang direktur dan pengawal pribadi yang keren.

Tapi menjadi kaya tak berarti kehidupan Ha Won menjadi mulus. Banyak yang iri padanya karena kedekatannya dengan kakak-beradik keluarga Kang. Ditambah lagi entah kenapa Kang Ji Woon—sang cucu ketiga—membencinya sejak pertemuan pertama. Kapankah ia mendapatkan ketenangan yang diinginkannya?

***

Satu hal yang saya amati khas dari novel-novel terjemahan Korea dengan genre sama seperti karya Baek Myo ini adalah: Jalan ceritanya yang persis drama Korea yang sering wara-wiri di televisi.

Eun Ha Won awal mulanya hanyalah seorang gadis SMA berumur 17 tahun yang bersekolah di sekolah biasa, tinggal bersama Ayah yang tidak menyayanginya dan Ibu serta Kakak tiri yang jahat. Ibu kandung Ha Won meninggal saat Ha Won berumur 12 tahun, dan sejak itu hidup Ha Won tidak pernah menyenangkan karena kehadiran dua anggota keluarga barunya. Wajar bila keinginan terbesar Ha Won adalah untuk keluar dari rumah dan tinggal di tempat lain.

Dengan mudahnya, keinginan itu menjadi nyata setelah pada suatu siang hari biasa Ha Won bertemu dan menolong seorang Kakek yang tiba-tiba terjatuh saat menyebrang jalan. Saat sadar, Kakek itu berterima kasih dan menanyakan Ha Won perihal keinginan terbesarnya. Ha Won pun menjawab. Ia tidak menyadari bahwa Kakek itu adalah Direktur Kang, seorang pemilik Sky House dan pemimpin dari Grup Gamseong yang diceritakan sangat berpengaruh di Korea. Group Gamseong memiliki mal, yayasan sekolah, bahkan universitas yang terkenal di Korea. Kakak tiri Ha Won sendiri, Choi Yu Na, bersekolah di SMA Gamseong, yang bayarannya sangat mahal dan membuat Ayah Ha Won harus memeras keringat serta berutang demi menyekolahkan Yu Na disana. Direktur Kang ini kemudian menyuruh pengawal pribadinya, Yoon Seong, untuk menjemput dan membawa Ha Won tinggal di Sky House serta bersekolah di SMA Gamseong.

Di satu sisi, Direktur Kang juga mempunyai tiga cucu laki-laki yang berasal dari orangtua berbeda. Mereka adalah Kang Hyeon Min, Kang Seo Woo, dan Kang Ji Woon. Pertemuan Ha Won dengan ketiga pangeran tampan yang kaya ini tidak bermula di Sky House, melainkan sejak sebelum Ha Won tinggal di rumah itu. Hyeon Min pernah meminta Ha Won untuk berpura-pura menjadi pacarnya semalam saja, demi menghindari seorang gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejar Hyeon Min dan membuatnya gerah. Saat mengikuti Hyeon Min masuk ke dalam sebuah klub, ternyata disana juga ada Ji Woon. Entah kenapa Ji Woon langsung menunjukkan perangai tak bersahabat pada Ha Won. Ternyata karena cucu termuda keluarga Kang itu menyukai Yeong Hyeon, gadis yang mengejar-ngejar Hyeon Min. Sementara dengan Seo Woo, Ha Won pertama kali bertemu dengannya saat menolong seekor anjing yang tengah disiksa oleh anak-anak kecil di pinggir jalan.

Setelah memasuki Sky House, bersekolah di SMA Gamseong dan merasakan enaknya hidup menjadi orang kaya, apakah hidup Ha Won jadi benar-benar nyaman? Ternyata tidak juga. Ia kini harus menghadapi serangan dari orang-orang yang tidak menyukainya karena tiba-tiba saja tinggal di Sky House bersama ketiga pangeran Gamseong. Berbagai gosip dan fitnah serta serbuan rasa tidak suka memburu Ha Won dari segala arah, termasuk dari Yu Na, kakak tirinya sendiri, yang susah memercayai keberuntungan yang tiba-tiba menjatuhi kehidupan Ha Won ini.

November 28, 2012

The Lover's Dictionary (Kamus Sang Kekasih) by David Levithan


Title: The Lover's Dictionary (Kamus Sang Kekasih)
Penulis: David Levithan
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011 (Juli)
Tebal: 216 halaman
Harga: Rp 35.000

***

basis, n.

There has to be a moment at the beginning when you wonder whether you’re in love with the person or in love with the feeling of love itself.

If the moment doesn’t pass, that’s it—you’re done. And if the moment
does
pass, it never goes that far. It stands in the distance, ready for whenever you want it back. Sometimes it’s even there when you thought you were searching for something else, like an escape route, or your lover’s face. 


How does one talk about love? Do we even have the right words to describe something that can be both utterly mundane and completely transcendent, pulling us out of our everyday lives and making us feel a part of something greater than ourselves? Taking a unique approach to this problem, the nameless narrator of David Levithan’s The Lover’s Dictionary has constructed the story of his relationship as a dictionary. Through these short entries, he provides an intimate window into the great events and quotidian trifles of being within a couple, giving us an indelible and deeply moving portrait of love in our time.

***

Kalau kamus sejenis ini secara kontinyu diproduksi masal dan benar-benar diresmikan sebagai kamus, saya rasa penjualan kamus ke depannya bakal meningkat tajam. :)) Jujur saya kagum sama David Levithan bisa kepikiran menulis sebuah cerita dalam format seperti ini.

Layaknya kamus, cerita tidak disampaikan melalui paragraf dan rangkaian peristiwa yang padu, melainkan abjad-abjad dengan disertai sebuah adegan. Kilasan peristiwa. Penjelasan yang berhubungan dengan kata tersebut dalam barisan kalimat-kalimat singkat. Tapi adegan tersebut pun belum tentu mengungkap makna kata secara gamblang. Disini pandainya David Levithan terasa nyata, ia mahir membuat rangkaian kalimat pendek menjadi sarat makna.

Kalau yang saya perhatikan sih, POV keseluruhan kata-kata ini disampaikan melalui sudut pandang seorang laki-laki. Lumayan, jadi bisa tau sedikit-sedikit tentang gimana sih jalan pikiran cowok tentang cinta. #eaaa Tapi disini nggak semuanya melulu tentang cinta yang senang terus, David juga realistis, sering menggambarkan situasi nggak enak yang biasa terjadi dalam suatu hubungan.
Kadang ada beberapa topik/permasalahan yang diulang melalui kata yang berbeda-beda (tentang perselingkuhan si pasangan atau peristiwa meninggalnya kakek/nenek salah satu dari pasangan) yang imbasnya saya jadi bosen karena itu lagi-itu lagi yang dibahas, tapi secara keseluruhan it was a nice & light read. :)

Favorite dictions:


cache, kb. tempat menyembunyikan sesuatu.
Aku memutuskan untuk membereskan meja kerjaku. Kusangka kau tengah sibuk di dapur. Tapi lalu aku mendengarmu di belakangku, mendengar kau bertanya, ”Apa isi folder itu?”. Aku yakin wajahku merah padam saat memberitahumu isinya adalah printout email-email-mu, bersama surat-surat dan catatan-catatan kecil yang diselipkan di antaranya, bagaikan bunga-bunga yang diselipkan di kamus. Kau tidak mengatakan apa-apa lagi, dan aku bersyukur karenanya.
 
basis, kb. dasar.
Pasti ada suatu momen, di masa awal, ketika kau bertanya-tanya apakah kau memang jatuh cinta kepada orangnya, ataukah jatuh cinta kepada perasaan cinta itu sendiri.

infidel, kb. kafir.
Kita menanggap mereka bersembunyi di bukit-bukit; para pemberontak, perompak, bajingan revolusioner. Tapi sungguh, bukankah kesalahan mereka hanyalah karena mereka tidak memercayai sesuatu?

fluke, kb. nasib baik; keberuntungan.
Kencan sebelum kencan denganmu sangat buruk; sombong, perokok, napas bau -sehingga aku bersumpah akan menghapus profilku keesokan paginya. Hanya saja ketika akan melakukannya, aku tersadar tinggal delapan hari lagi sebelum masa keanggotaanku habis. Jadi kuberi kesempatan delapan hari. Dan kau meng-email-ku di hari keenam.


-Tirta

October 14, 2012

Kukila by M. Aan Mansyur


Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2012 (September)
Harga: Rp 38.000

***

Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.


Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.


***

Kukila. Bayangkan seorang perempuan dengan nama yang cantik seperti itu. Kukila. Kukila. Kukila.

Pohon besar itu punya rahasia. Dulu, ceritanya, terdapat tiga anak manusia. Dua laki-laki dan satu perempuan. Laki-laki pertama sering datang dan duduk di bawah pohon itu, memandang ke arah rumah dengan dua jendela. Satu jendela di samping, dan satu di arah utara. Dari kedua jendela tersebut, terlihat dua anak manusia lainnya. Satu perempuan dan satu laki-laki. Dua anak tersebut juga melihat ke luar, ke arah laki-laki yang duduk di bawah pohon.

Apa hubungan cerita itu dengan Kukila? Dengan mantan suaminya? Dengan semua penderitaan hidupnya? Surat-surat Kukila, anak-anaknya, bahkan surat mantan suaminya akan menjelaskan semua itu.

***
Covernya cantik banget yaaaaaa :)

Jujur saya pertama tertarik karena fisiknya. Kalau dipajang di deretan rak toko buku itu langsung mencuri perhatian, gitu. Cantik, sebagaimana Kukila. Sebagaimana isinya.
Ada total 16 cerita dalam kumpulan cerpen karya Aan Mansyur ini. Kukila, Kebun Kelapa di Kepalaku, Setengah Lusin Ciuman Pertama, Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji, Setia adalah Pekerjaan yang Baik, Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan, Membunuh Mini, Aku Selalu Bangun Lebih Pagi, Ketinggalan Pesawat, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi, Lima Pertanyaan Perihal Bakso, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, Hujan. Deras Sekali, Tiba-tiba Aku Florentino Ariza, Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim, dan Cinta (Kami) Seperti Sepasang Anjing dan Kucing.

Cerita-cerita dalam buku ini dikemas dengan baik. Pilihan katanya menarik, tapi gampang dipahami. Cocok lah buat saya yang kadang lama mengerti maksud-maksud tersembunyi dalam kumpulan-kumpulan cerita biasanya (alias lemot :p). Penulis kebanyakan mengangkat tema umum, cinta, tapi cara pengungkapannya bermacam-macam. Saya paling suka twist-twist yang muncul di bagian akhir cerita, kadang agak shocking dan bikin senyum-senyum sendiri.

Ada beberapa cerita yang rasanya lewat begitu saja tanpa perhatian, tapi lebih banyak yang meninggalkan kesan. Dari 16 cerpen yang ada, saya paling suka Setia adalah Pekerjaan yang Baik, Membunuh Mini, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, dan Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi.

Intinya, buat saya, Kukila ada untuk dinikmati. Bukan untuk diartikan terlalu jauh, dikulik bagian-bagiannya lalu dianalisa satu-satu seninya. Kukila itu penghiburan, bacaan ringan yang cocok dibaca saat luang. The book left a sweet aftertaste after I finished it.

*** 
PS:
Ini remeh, tapi saya seneng deh tiap kali buka akun penulisnya, @hurufkecil. Konsisten terhadap username-nya sendiri, setiap kata yang ada di linimasa M Aan Mansyur semuanya menggunakan huruf kecil. Bahkan semua mentions ataupun nama username lain yang menggunakan huruf kapital akan ia ganti terlebih dahulu dengan huruf kecil. Hihihi.

September 27, 2012

Daughter of Smoke and Bone by Laini Taylor


Judul: Daughter of Smoke and Bone (Dari Asap dan Tulang)
Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000

***

Pada zaman dahulu,
seorang malaikat dan iblis jatuh cinta.
Kisah cinta mereka tidak berakhir indah.


Langit terbelah dan banyak sosok asing berwajah rupawan turun ke bumi, menyembunyikan sayap api mereka dalam ilusi agar bisa berbaur dengan manusia. Birai-birai pintu di penjuru dunia mereka tandai dengan cap tangan hitam yang melesak terbakar pada kayu atau logam.

Sementara itu, di suatu tempat di Praha, Karou, gadis 17 tahun, siswa sekolah seni di Praha, menjalani kehidupannya yang tampak normal. Tetapi ia selalu membawa-bawa buku sketsanya yang berisi gambar monster-monster aneh dan menyeramkan––chimaera yang merupakan makhkluk terdekat yang ia punya sebagai keluarga.

Kehidupan Karou akan berubah dalam semalam. Tanpa ia sadari, peperangan antardua dunia yang kejam akan melibatkan dirinya.
 

***

Daughter of Smoke and Bone adalah buku pertama Laini Taylor yang saya baca, dan waktu itu masih dalam bahasa inggris karena belum diterjemahkan oleh GPU. Begitu tahu GPU bulan September menerbitkan terjemahannya, saya pun beli lagi. Soalnya, buku ini buat saya itu -yang sebenarnya nggak suka-suka amat sama genre fantasi- masuk ke dalam tingkatan: Ya ampun.

Suka, banget! Dan unik banget. Meskipun awalnya sempat pesimis karena baca kata-kata 'malaikat' (berhubung pengalaman saya dengan novel-novel YA yang mengandung karakter malaikat/nephilim/seraphim sebelumnya tidak berlanjut baik :p), tapi Laini Taylor menyuguhkan sesuatu yang berbeda dalam cerita Daughter of Smoke and Bone.

September 09, 2012

Pertama Kalinya! by Sitta Karina dkk

Pertama Kalinya!


Judul: Pertama Kalinya!
Penulis: Sitta Karina, Alanda Kariza, Nia Hesti Aprilya, Keisha Deisra, Maria Christina Michaela, Natalia Galing, Diana Laksmini, Stephanie Renni Anindita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 30.000


***





There`s always a first for everything. Dan yang namanya pengalaman pertama dalam kehidupan remaja pasti rasanya bermacam-macam: senang, seru, sedih, deg-degan... tak terlupakan!

Begitu juga dengan hal-hal unik yang dialami para tokoh dalam ceritanya, seperti Aisha ("Bandara"), Sai Aslan ("Supranatural"), Keyko Satwika ("Ekspresi Ruby Keyko"), Alif Hanafiah ("Mata Hati"), serta 8 cerpen lainnya.

Poin plus lainnya dengan membeli buku ini adalah kalian ikut membiayai sekolah anak-anak dari keluarga prasejahtera di Indonesia. Sebagian besar hasil penjualannya akan disumbangkan ke GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh), untuk kemudian disalurkan ke daerah-daerah di seluruh pelosok tanah air yang membutuhkannya. Kebanyakan dari anak-anak ini baru memulai SD. Jadi dapat dibayangkan, sebuah kesempatan untuk bisa bersekolah akan menjadi "pengalaman pertama" yang sangat menyenangkan bagi mereka!

Have fun with these "first-time" moments. Your experience is as precious as yourself!


***
"Kamu liat kan penyu dan elang itu?"
"Iya."

"Mereka nggak menyerah lho, La. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk terus hidup, walaupun itu hanya sebatas di penangkaran. Aku ingin kamu seperti mereka, seberat apapun hidup yang kamu jalani, kamu harus tetap berusaha hidup."

Banyak dari kita yang sudah mengenal sosok penulis Sitta Karina dari berbagai karyanya yang senantiasa menarik perhatian para remaja dan selalu laris di pasaran. Sitta Karina adalah seorang penulis produktif yang telah menghasilkan lebih dari 8 karya best-seller sejak tahun 2004. Kali ini, ia hadir bersama penulis-penulis muda lain dalam sebuah proyek kumpulan cerpen yang diberi judul Pertama Kalinya!.

Tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen berisi 12 karya ini adalah pengalaman pertama yang dialami oleh para remaja. Dalam Bandara, Alanda Kariza menghadirkan tokoh yang pertama kalinya memberanikan diri untuk pergi ke luar negeri, keluar dari zona nyaman dan meninggalkan kehidupan lamanya di Indonesia. Pada cerita Gulali Helua, Helua akhirnya belajar untuk menerima keadaan fisik dirinya yang gendut. Stephenie Renni Anindita menuliskan pengalaman pertama Shizu patah hati dalam Baby Steps. Namun yang menjadi bagian favorit saya adalah cerpen Aqila, Penyu dan Elang karya Diana Laksmini, dimana Aqila, seorang gadis yang divonis berpenyakit Lupus pada usia 15 kini belajar untuk lebih memahami arti kehidupan dengan tidak mudah menyerah pada keadaan.

August 24, 2012

Twivortiare by Ika Natassa

Twivortiare

Judul: Twivortiare
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 55.000


***










Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun twitternya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil "mengintip" kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: "Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat yang bersamaan?"
Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM, yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

***
"Dear Cardiothoracic Surgeon, nggak bisa ya kita cari pekerjaan yang normal-normal aja biar sama-sama pulang jam 5 kayak rakyat jelata lainnya? Aku capek kayak gini." :))

Dulu saya sudah follow akun @alexandrarheaw selama beberapa bulan sebelum akhirnya keluar kabar bahwa kumpulan tweets Alexandra akan dibukukan dalam suatu buku berjudul Twivortiare. Saya langsung excited. Nama Ika Natassa rasanya sudah jadi jaminan wajib beli buat saya, yang sudah menikmati 3 dari 4 bukunya yang lain (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa). Tadinya sempat ragu juga sih saat mau membeli, karena toh apa yang kita baca sebenarnya bisa dilihat sendiri di timeline Alex, kan? Tapi ternyata Mbak Ika menambahkan beberapa bagian supaya ceritanya terkesan 'utuh', seperti DM-DM dari Alex ke Wina, juga merapihkan beberapa bagian lainn.

Jadi sebenarnya, Twivortiare ini ceritanya apa sih?
Secara singkat, Twivortiare ini adalah isi hidup Alex yang dikutip dari akun Twitternya.
Umumnya berpusat pada dua hal: Satu, keseharian Alex yang masih bekerja sebagai banker -keluhannya tentang rapat, lembur, harus menghadapi klien yang ganjen dan flirting terus- Dua: Kehidupan pernikahan keduanya dengan Beno. Iya, Alex dan Beno menikah lagi (di Divortiare, kisah mereka ditutup dengan adegan Alex dan Beno pergi makan bareng di nasi goreng Sabang -yang pastinya menimbulkan pertanyaan "Jadi Alex dan Beno itu rujuk lagi nggak sih?" Dan itu semua terjawab disini.)