dan hanya jika
Oleh Alanda Kariza, Artasya Sudirman, Bella Pangabean, Desiyanti, Feba Sukmana, Gita Romadhona, Hanny Kusumawati, Mita M Supardi, Nanette Isdito, Novi Kresna Murti, Stella Ang, Windy Ariestanty
Kumpulan cerita
Diterbitkan Agustus 2013 oleh Gagas Media
224 hlm
***
Apa yang tebersit dalam hatimu, saat kaki sudah menjejak di masa sekarang, tetapi sebuah ingin masih tertinggal di masa lalu? Kau mungkin berharap semesta mengulang jika. Apa yang memenuhi harapmu saat melihat esok masih terlalu gulita dan gelap tak mampu kau kira? Kau mungkin mendamba banyak jika. Jika, dan hanya jika. Tiga belas penulis mengabadikan rentak yang mereka temui di perjalanan dalam foto. Lalu, mereka beri “jika” ke dalamnya, ditambah rindu, cinta, dan harapan yang kadang hampir selesai. Menjelmalah, tiga belas “jika” penuh warna.
Angan-angan. Bersama napas yang kuhidup dan
kuembus, jutaan khayal bertransformasi menjadi energi
yang memompa nadi, mengirimkan pesan pada hati
mengajak diri untuk memulai suatu perjalanan.
Don't judge a book by it's cover lama-lama nggak berlaku lagi buat saya. Dari dulu, buku dengan cover cantik-menarik-dan ciamik selalu berhasil menarik perhatian, entah apakah isinya sepadan dengan bentuk fisik tersebut atau tidak. Begitu juga dengan Jika. Cover ini buat saya gorgeous banget! Penggunaan ambigram kata Jika di cover sangat unik (Ambigram: Jenis typografi dimana sebuah kata bisa tetap dibaca sama meskipun dari berbagai sudut pandang. Coba bolak balik cover buku Jika ini sebagai contoh), kayaknya baru sekali ini saya nemu buku dengan ide desain cover yang pakai ambigram.
Tapi Jika tidak hanya memuat kumpulan cerita. Halaman-halamannya dihiasi dengan foto-foto indah yang membuat pembacanya lebih menikmati dan meresapi setiap cerita maupun sajak yang ada. Pada Setumpuk Jika di Manhattan, Alanda Kariza menghadirkan sosok Navita yang sedang mencari Ayahnya di New York demi menjadi wali dalam pernikahannya dengan Leo. Jika saja aku tidak membuat Ayah dan Bunda berpisah, semuanya tidak akan menjadi seperti ini adalah premis dari cerita pembuka tersebut.
Lalu Rahne Putri hadir dengan Kisah Cinta di Balik Pintu Renta yang sangat menyentuh. Saya sudah lama follow beliau dan selalu terkesan tiap kali membaca sajak-sajaknya di Sadgenic, dan bagian partisipasi Rahne dalam omnibus Jika punya sebuah paragraf yang jadi favorit:
Sebuah mimpi tidak selayaknya egois terhadap mimpi yang lain. Biarkanlah mimpi berkembang, dan biarkan cinta tersimpan di sela-selanya. Biarlah jarak dan waktu menjadi benalu sementara, dan jika kau percaya, cinta bisa kau bangunkan sewaktu-waktu bersama-sama.
