Showing posts with label Lokal. Show all posts
Showing posts with label Lokal. Show all posts

January 05, 2015

Twivotiare 2 by Ika Natassa

Twivortiare 2

oleh Ika Natassa
diterbitkan 17 Desember 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama
Metropop/Romance/Drama/Chick-Lit
488 halaman
buku lain dari penulis: A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, Twivortiare
selesai dibaca 3 Januari 2015
[warning: spoilers]

***

"You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself."

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

"Today is 'bring your kids to work' day at my office. Semua bawa anak ke kantor kecuali gue dan yang masih single."

Kembali dengan jilid kedua dari kisah kehidupan rumah tangga si bankir Alexandra dan suaminya Beno Wicaksono pasca rujuk, kalimat tersebut termasuk dalam tweets-tweets pertama yang muncul dalam Twivortiare 2, sebagai pemeta fokus kali ini: Kehadiran anak diantara Alex dan Beno. Tentang betapa inginnya Alex dan suaminya buat punya momongan, keharusan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini dari para tante-tante Beno yang rese, dan perjuangan mereka demi menghadirkan si buah hati, hingga akhirnya lahir seorang Arganta Saka Wicaksono. Selain itu, Twivortiare 2 juga dilengkapi dengan cerita suka-duka mengenai pekerjaan Alex-Beno, kegiatan mereka sehari-hari, weekend getaway di Kebagusan atau rumah mertua, trip ke berbagai kota, juga keisengan-keisengan Alex yang seneng banget ngerjain Beno.

Aku lumayan sedikit merasa beruntung karena nggak follow akun @alexandrarheaw di Twitter yang sekarang, jadi hampir semua tweets-nya terasa fresh dan baru. Ada perbedaan mencolok yang sangat terasa waktu membaca Twivortiare 2 ini, yaitu pribadi Alex yang kini makin dewasa. Di Twivortiare yang menceritakan tentang hari-hari awal mereka rujuk, Alex dan Beno masih sering banget berantem dan ambek-ambekan. Hal ini kejadian berkali-kali dan bikin cerita agak repetitif. Tapi di Twivortiare, voila! Kayaknya bisa dihitung jari berapa kali mereka berantem, bahkan mungkin nggak pernah! Lebih seringnya sekarang Alex berusaha mencari waktu yang tepat buat ngomong atau justru mengalah, jadi nggak ada lagi adegan kabur-kaburan ke rumah Kebagusan :) Ini satu hal yang aku sukai banget dari Twivortiare 2. Hubungan Alex-Beno sekarang udah benar-benar terasa dewasa, adem, dan lebih nyaman, yang jadi penanda bahwa mereka sekarang udah di tahap yang baik untuk masuk ke fase selanjutnya.

"Gue capek banget, jadi males berantem. Kalo gue buka mulut, pasti ujung-ujungnya berantem lagi, jadi gue diem aja."

Kemudian, di Twivortiare 2 ini jauh lebih banyak interaksi dengan followers yang ditampilkan. Pertanyaan-pertanyaan dan mentions yang masuk (dari groupiesnya Beno, terutama) jadi penggerak utama yang mempengaruhi jalan cerita. Lucu deh, banyak akun-akun yang namanya familiar buatku dan sukses bikin senyum-senyum sendiri hihi. Nggak hanya itu aja, Wina dan Beno juga kini semakin sering muncul untuk ikutan menjadi pelengkap (Yay!). Tapi kalau ada satu hal yang harus aku akui sebagai keunggulan Twivortiare 2 kali ini, adalah dedikasi Ika Natassa sebagai penulis terhadap karakter-karakter yang ia ciptakan. Tweets aja nggak cukup, Ika melangkah lebih lanjut dengan menghadirkan postingan-postingan screenshots percakapan Alex dengan karakter lain dari WhatsApp, BBM, iMessage, Path, bahkan ia juga memasukkan foto/ilustrasi baby Arga di akun tersebut. Hal-hal inilah yang membuat Twivortiare 2 jadi autentik, karena penulisnya nggak setengah-setengah berusaha membuat karakternya se-hidup dan se-real orang-orang biasa.

Dengan hampir 500 halaman untuk Twivortiare 2 kali ini, puasss banget rasanya mengulik kehidupan Alex dan Beno. Meskipun tone buku secara keseluruhan masih agak mellow karena masalah anak, Twivortiare 2 tetap sukses menghibur dengan kisah-kisah iseng jailnya Alex, lempeng-overprotektif-tapi-manisnya Beno (!!!), dan hal-hal yang mereka lakuin berdua. Di satu sisi, Twivortiare 2 lebih enak dibaca karena drama-dramanya sekarang lebih terkontrol, tapi di sisi lain, kadang sisi cheesy-nya Alex dan Beno ini aduh, bisa bikin meringis juga ya :") Entah kenapa dari sekian banyaknya tampilan-tampilan kehidupan mereka berdua, bagian paling favoritku justru dua screenshots dimana Alex berusaha ngajarin Beno arti dari emotikon-emotikon yang ada di handphone mereka. Setelah itu adegan dimana Alex ngasih surprise ke Beno dengan pulang lebih awal dari Surabaya. Lucuuuuu!

"I bet Beno Wicaksono is the only husband who woke his wife up across the ocean just to ask: Yang, kaus kaki aku yang satu lagi mana?"

Screenshots: "Anakku gimana kabarnya? | Anak kita, Beno. We're fine. Tapi mual dikit aja. Kamu cepetan pulang dong, hon. Masih di RS? | Udah deket | Deket hati aku maksudnya? :* | Deket setiabudi"
HAHAHA

"Kamu kenapa sih kalo mandi harus lama banget kayak duyung? | Kamu kenapa sih kalo makan harus banyak banget kayak gorila?"

Sayangnya ada juga hal yang aku kangenin dari Twivortiare pertama tapi nggak ada kali ini, yaitu kultwit Alex tentang hal-hal di luar kehidupannya dengan Beno. Dulu, Alex sering cerita tentang random things, termasuk detail dari pekerjaannya yang suka dikirim kesana-kemari ke berbagai kota, juga yang jadi favorit waktu itu adalah kultwit mengenai how to manage your money. Sekarang, cerita rasanya sangat-sangat terfokus pada Beno, Beno-Alex, Beno-Alex-baby, dengan diselingi berbagai sesi 'konsultasi percintaan' bersama followers-followers (Yang sekarang bahasannya pun udah lebih 'dewasa', hihihi). Not a bad thing sih, tapi rasanya jadi agak-agak cintaaa melulu. Juga, bagian pasca baby Arga-nya lahir sedikit bangeeeet! Nagih nih yang ini. Kebayang kalo cerita di-fast forward beberapa tahun, masa-masa Arga udah setahun, dua atau tiga tahun, udah bisa baby talk dan lagi lucu-lucunya, pasti bakal entertaining banget buat nyimak interaksinya sama orangtuanya <3

Pada akhirnya, Twivortiare tetap jadi sebuah buku yang enak dinikmati (dan quotable banget, seperti biasa) bagi para pengikut setia Alex dan Beno. Untuk pembaca yang belum pernah mengikuti kisah mereka pun, menurutku pribadi, nggak harus baca Divortiare atau Twivortiare dulu untuk bisa mengerti jalan ceritanya. Semua cukup jelas kok. Plot and pace wise, Twivortiare 2 bisa dibilang agak lambat, tapi untuk penyuka cerita-cerita dengan penokohan dan karakter yang 'hidup', buku ini bakal jadi buku yang enak buat dibaca. Ika Natassa is a very nice author to her readers (Have you noticed it? Meskipun sering mengakhiri buku-bukunya dengan ending gantung, pada akhirnya Alex-Beno rujuk lagi, dan pada akhirnya juga mereka sekarang benar-benar dikaruniai anak, kan? Hehe), so I think it's safe to expect a lot more good things to come for our favorite characters: Alex, Beno and their baby :)

***

Selamat tahun baru 2015, teman-teman. Twivortiare 2 is my first book that I read this year, what's yours? Semoga (liburannya dan) tahun 2015 ini menyenangkan untuk kita semua, ya!

As always, don't forget to have fun and read some more,


April 29, 2014

Galila by Jessica Huwae


sebuah buku oleh Jessica Huwae
diterbitkan 17 Maret 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama
Metropop/Drama/Romance
331 halaman
buku lain dari penulis: Skenario Remang-Remang, Soulmate.com
selesai dibaca 19 April 2014

***

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. Menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antar agama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?

"Galila."
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Pernahkah kamu belajar dari batu karang?

Galila, si gadis tanpa nama belakang, berasal dari kota kecil di Pulau Saparua sana, nun jauh di timur Indonesia. Kisah hidupnya pelik. Setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan bertubi-tubi dalam hidupnya, mulai dari ayah yang abstain dan ibu yang tidak menaruh banyak perhatian, lalu serangkaian peristiwa lain yang berusaha ia tutupi erat-erat, Galila mencoba peruntungan dengan mendaftar audisi Indonesia Mencari Diva. Tak disangka, ia berhasil di Jakarta. Setelah jadi pemenang, Galila membuat gebrakan-gebrakan baru dalam dunia entertainmen. Untuk menghadapi dunia penuh persaingan yang sengit ini, citra Galila dibangun sedemikian rupa oleh pihak manajemennya, dengan sangat hati-hati, sehingga ia dinilai sebagai bintang baru yang jauh dari berita-berita tak enak. Ia berusaha menutup kehidupan pribadinya rapat-rapat. Namun pada akhirnya masa lalu itu mengejarnya juga....

Galila adalah buku dari Jessica Huwae pertama yang aku baca. Cover depan hasil karya Riesma Prawesti yang lumayan catchy bikin aku tertarik membelinya di acara Kompas Gramedia Fair kemarin. Secara keseluruhan, Galila merupakan kisah solid yang cukup menarik, dibangun dengan narasi-narasi panjang, deskripsi mendetail, dan konflik silih berganti. Rangkaian kejadian dalam hidup Galila tidak diceritakan secara kronologis dalam runut maju, melainkan berupa flashback-flashback yang secara rapi diungkap satu persatu. Cerita dibawakan melalui sudut pandang orang ketiga, permainan diksinya menarik, hampir lirikal dan berima, meskipun seringkali panjangnya narasi bisa bikin agak 'kelelahan' bacanya.

Sinopsis di belakang buku menurutku bisa agak 'menipu', nih. Tadinya kupikir cerita Galila ini akan menaruh lebih banyak porsi pada bagian dimana Galila kembali ke kampung halaman guna menenangkan diri dari berbagai masalah yang menimpanya di Ibukota, namun ternyata tidak. Bagian itu justru rasanya sedikit banget, yang bikin aku merasa penyelesaian konflik disini agak terburu-buru. Sebagian besar kisah Galila justru terfokus pada jalan karirnya menjadi bintang ternama dan masalah-masalah seputar hubungan percintaannya dengan Eddie, putra seorang pengusaha. Untungnya, semua ini diungkapkan dengan cara yang enak, menarik dan mengalir, jadi bukan suatu masalah.

Lewat kisah cinta Galila dengan Eddie, Jessica Huwae juga menampilkan konflik tentang budaya dan hubungan keluarga. Edward Hamonangan Silitonga berasal dari keluarga Batak yang masih memegang teguh adat dan usaha melestarikan garis keturunan keluarga. Adalah mama Eddie, Hana Silitonga, yang secara tegas tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Galila. Selain tidak separibanan, Galila pun dicurigai karena asal-usulnya yang tidak jelas. Ditambah lagi profesinya sebagai artis yang berarti hilangnya privasi Galila dan juga orang-orang yang terlibat dalam kehidupannya. Mati-matian Hana berusaha menghalangi niat Eddie untuk melamar Galila. Mulai dari menjodohkan anaknya itu dengan perempuan lain, hingga menyewa orang untuk mengorek masa lalu Galila dan menjauhkannya dari Eddie. Mati-matian pula Eddie berusaha memberontak dari kungkungan mamanya itu. Seumur hidup, Eddie merasa seolah bukan manusia bebas yang berhak atas kehidupannya sendiri, karena segala sesuatu sudah diatur oleh kedua orangtuanya. Ia hanyalah 'boneka' yang harus mematuhi segala perintah orangtua. Disini, keinginan Eddie untuk berbakti pada orangtua yang telah mengurus sejak kecil bertabrakan dengan haknya sendiri untuk menikmati hidup seperti yang ia mau.

“Aku cuma mau bilang, kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.” 

Kagum rasanya sama karakter Galila yang diciptakan oleh Jessica Huwae. Pada awalnya, aku sempet ngerasa Galila ini kurang bisa menunjukkan emosi, karena apapun yang terjadi, mulai dari pemberitaan aneh di media sampai omongan tidak enak dari orangtua Eddie, Galila nggak terasa begitu panik ataupun terganggu. Sedihnya tidak terasa benar-benar sedih, marahnya tidak terasa benar-benar marah. Mungkin banyaknya narasi dan minimnya dialog yang ngebuat dia seolah kurang ekspresif? Atau mungkin... Segala pengalamannya dalam menghadapi kejadian-kejadian buruk yang menimpanya saat masih di Saparua sana telah menempa Galila menjadi orang yang kuat, tegar dan tidak gampang 'patah' saat terkena masalah. Rangkaian tragedi yang harus ia jalani di usia yang masih muda banget itulah yang membentuknya jadi seorang Galila, sang diva yang sekarang ini. Pembawaannya tenang, profesional, tekun dalam bekerja. Ia tidak memperoleh kesuksesan melalui cara-cara yang tidak enak, dengan menjatuhkan orang lain, misalnya. Bukti kekuatan perempuan yang luar biasa tercermin dari diri Galila. Dirinya bisa dianalogikan serupa sebuah batu karang (seperti disinggung penulis di bagian paling akhir cerita), yang meski telah berulang kali diserang 'gelombang' tetap mampu berdiri tegak. Pada akhirnya, Galila bisa membuat segala musibah dalam hidupnya menjadi kekuatan baru yang menghasilkan sosok yang lebih baik di masa depan, meskipun ia tetap butuh menenangkan diri dari 'ganas'nya Jakarta sesekali waktu.

Pada intinya, kisah Galila karya Jessica Huwae ini enak, menyenangkan dan layak dibaca. Secara keseluruhan bagus, meski tidak tanpa kekurangan. Unsur-unsur metropopnya masih kental, terutama dari sisi kehidupan Galila sebagai artis ibukota, diselingi dengan beberapa topik dan konflik yang lebih serius. Banyak kata-katanya yang mengena dan bikin 'deg' sendiri, hihi. Beberapa typos ada dalam buku (meiliki, kecang), tapi nggak begitu seringnya hingga bisa mengganggu keasyikan baca cerita kok. Di beberapa bagian, ceritanya bisa memancing kita untuk merefleksi kehidupan sendiri. Karakter Galila yang tangguh dan tenang juga merupakan contoh baik bagi perempuan, jadi nggak salah kalau aku pilih buku ini untuk posting bareng BBI dengan tema 'Perempuan' :)

“Hidup, sepahit apa pun, harus tetap punya mimpi. Setiap orang harus punya sesuatu untuk dia kejar setiap hari. Masalah akhirnya tercapai atau tidak, itu urusan nanti…”


Have fun and read some more,

March 07, 2014

Bidadari Santa Monica, oleh Alexandra Leirissa Yunadi

Bidadari Santa Monica

karya Alexandra Leirissa Yunadi
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2009
Romance/Metropop/Lokal
368 halaman

***

Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Di matanya, Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: Remuk hati berkepanjangan. Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica.

Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai airmata, sambil tak henti-henti mengaguminya.

Lalu, pada hari yang ketujuh...

"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That`s your name right?"

Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...

"See you later, Little Shine..." bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.

Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan the love of her life, Efraim?

Alexandra Leirissa Yunadi adalah salah satu dari penulis-penulis lokal yang aku selalu suka karya-karyanya! Cerita dari dua buku pertamanya, Dua Pasang Mata dan Dua Belas Pendar Bintang, masih terus keingetan sampai sekarang, setelah sekian lama. Dua-duanya dari genre Teenlit. Nah, kebetulan, ternyata Alexandra pernah menulis untuk genre Metropop. Nggak tau juga kenapa aku bisa nggak aware tentang ini, dan baru tau kemarin ketika nemu bukunya di obralan Gramedia. Terbitnya pun udah lama, tahun 2009...

Buatku, khas dari setiap karya Alexandra Leirissa adalah ceritanya yang cukup simpel, dramatis ala sinetron, dan narasinya yang terkesan heboh. Bidadari Santa Monica pun begitu. Ringan, tapi jenis ringan yang nggak annoying, justru bikin pembacanya suka ikut senyam-senyum sendiri dan penasaran akan kelanjutan ceritanya. Adalah Pelita, yang bertemu dengan seorang pengamen jalanan yang sangat memesona di Santa Monica, Amerika, saat sedang melakukan kunjungan kerja hingga Pelita menyebutnya 'Bidadari Santa Monica'. Pengamen kecil ini benar-benar punya daya tarik yang kuat, namun nggak bisa Pelita jelaskan apa sebabnya, ia hanya tau bahwa dirinya benar-benar tertarik sama si Bidadari.

Tak dianyana, waktu lagi naik pesawat balik menuju Indonesia, si Bidadari ini duduk persis di sebelah Pelita! Kaget, pasti. Setelah berbasa-basi singkat, si Bidadari menanyakan tentang warna favorit Pelita, yang harusnya simpel bagi kebanyakan orang, tapi ternyata berbuah panjang ketika ditanyakan pada tokoh utama kita ini.

"Kamu nggak suka warna pink?"
"Sekarang nggak."
"Berarti dulu suka?"
"Lalu kamu suka warna apa?"
"Abu-abu."
.......
"Kamu memendam luka, ya?"

Yak, tebakan si Bidadari tepat sasaran. Setelah dibujuk, meluncurlah cerita dari mulut Pelita tentang Efraim, seseorang yang ia temui saat kerja dulu. Diceritakan bahwa Efraim ini cowok yang sangat ganteng, wangi, dan menarik. Ia masih muda, tapi sudah sukses mengelola bisnisnya. Nah, Pelita dapat kesempatan untuk meliput tentang bisnis milik Efraim. Nggak butuh waktu lama, Pelita jatuh cinta mati-matian sama laki-laki ini. Masalahnya cuma satu, yaitu, ada rumor yang mengatakan bahwa Efraim adalah pacar Pak Ian, bos di majalah tempat Pelita kerja........ Nah lho!

Cerita mengalir dengan asyik dari awal hingga akhir. Ada beberapa bagian yang rasanya 'duh, drama banget deh' atau 'heboh amat sih' tapi mungkin karena aku udah pernah baca karya-karya Alexandra sebelumnya (dan suka banget sama dua buku itu), hal ini nggak terlalu jadi masalah buatku pribadi. Kadang kelakuan Pelita di cerita ini bikin gemes sendiri, deh. Sampai-sampai aku mikir 'Ini cewek sebenernya bolot apa gimana sih?' Tapi yah, kalau nggak gitu nggak jadi seru kali ya :)) Dari awal udah di'foreshadow'-in (dikasih petunjuk) tentang peristiwa yang akan terjadi menjelang akhir cerita, jadi aku nggak begitu kaget waktu sampai di bagian ITU, meskipun tetap sempet kecewa dikit :| Oh ya, aku juga suka gimana buku ini sempat menyinggung tentang isu LGBT (gay, lebih tepatnya), meskipun hal itu bukan fokus utama Bidadari Santa Monica.

Dari segi teknis, ada beberapa hal yang aku tandai, contohnya adalah tulisan tersegal-segal (halaman 227). Nggak tau persis yang mana yang benar, tapi seingatku yang lebih umum digunakan adalah 'sengal' bukan 'segal' (duileh, Tirta). Juga kata excited yang harusnya ditulis 'exciting' ("It's so exciting!") ((halaman 152)). Ini grammar aja, sih. Hehe. Satu hal lain yang aku perhatikan juga disini, adalah bagian yang nggak seimbang antara awal dan akhir cerita. Hampir setengah dari Bidadari Santa Monica menceritakan tentang hubungan Pelita-Efraim di masa-masa deket tapi belum jadian, dengan segala drama dan kehebohannya, tapi setengah bagian buku berikutnya, di bagian senang-senang, porsinya dikit banget, kemudian langsung masuk bagian klimaks yang diikuti dengan resolusi yang (buatku) terlalu singkat pula. Jadinya, setengah buku pertama terkesan lambat alurnya, sementara setengah buku kedua justru kecepetan, seolah-olah penulis diburu-buru untuk mengakhiri cerita. Padahal konflik udah dibangun dengan baik dan lama.

Tapi pada akhirnya, menurutku Bidadari Santa Monica tetap sebuah buku yang bagus dan cukup menarik, cocok buat yang suka cerita Metropop yang mengandung banyak drama-drama. Beberapa pembaca lain mungkin bakalan males sama kesan dramatisnya, tapi buat yang udah pernah baca karya-karya Alexandra Leirissa sebelumnya, Bidadari Santa Monica ini nggak mengecewakan kok buat dibaca. :)


Adakah yg udah pernah baca Bidadari Santa Monica ini? Atau buku-buku Alexandra Leirissa yang lain? Ada rekomendasi Metropop sejenis dengan buku ini yang menurutmu bagus? :D


February 27, 2014

Amba, oleh Laksmi Pamuntjak

Amba

sebuah novel karya Laksmi Pamuntjak
pertama kali diterbitkan pada Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
Fiksi Historis/Drama/Sastra Indonesia
496 halaman
[Posting Bareng BBI bulan Februari: Kategori Hisfic Indonesia]

***

Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.

Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.

Bhisma tiba-tiba hilang---ketika Amba hamil.

Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.

Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh 'komunis' oleh pemerintahan Suharto.

Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.

Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.


Ibu Amba yang baik,
Sudah sejak lama saya berkeinginan membaca kisah Ibu, yang telah banyak dipuja-puja berbagai penikmat sastra tanah air sebelumnya. Kisah Ibu punya beberapa elemen penting dari sejarah negeri kita yang selalu membuat saya tertarik: Peristiwa Gerakan 30 September dan Pulau Buru. Ditambah lagi dengan 'selipan' kisah perwayangannya dan penyebutan bahwa Ibu adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Namun, baru di awal tahun ini akhirnya saya bisa membacanya, dan jujur saja, saya cukup terhentak meski baru sampai pada beberapa halaman pertama. Ibu mengalami percobaan pembunuhan di sebuah pulau jauh nan asing di sana, Pulau Buru, oleh seorang perempuan asli yang menusuk perut Ibu beberapa kali, namun Ibu malah ingin mencabut tuntutan atas perempuan itu karena Ibu merasa ia tidak bersalah? Aneh sekali, pikir saya. Entah memang hati Ibu begitu mulianya, atau ada hal lain yang tidak saya ketahui.

Ibu Amba yang baik,
Kemudian cerita bergulir ke awal mula, akar dari seluruh peristiwa dalam hidup Ibu. Darimana Ibu berasal (Kadipura), keluarga seperti apa yang membesarkan seorang Amba (Bapak seorang kepala sekolah yang arif, Ibu yang setia, dan dua adik kembar cantik calon-calon kembang desa, Ambika dan Ambalika), pribadi Amba remaja yang jelas kecerdasannya jauh melampaui umur sebenarnya, yang berkeinginan untuk memberontak dari tradisi, dari cerita Wayang yang berada di balik nama 'Amba' sendiri, dan keinginannya untuk studi Sastra Inggris di UGM, Yogya. Hingga ia akhirnya berkenalan dengan Dr Bhisma Rashad, hingga ia akhirnya menyeleweng dari sebuah hubungan yang begitu tulus dan memuliakan pemberian Salwa, hingga akhirnya ia memutuskan lari ke Jakarta, hingga akhirnya Ibu harus membesarkan anak tanpa kehadiran Ayah biologisnya...

Ibu Amba yang baik,
Sejujurnya kalau saya boleh bertanya, dorongan sebesar apa yang membuat Ibu sampai mau menyia-nyiakan cinta seorang Salwani Munir yang sudah sangat cukup? Mungkin bagi kita definisi cukup itu berbeda ya, Bu. Tapi dari apa yang saya baca, bahwa laki-laki yang dipilihkan oleh orangtua Ibu ini adalah seseorang yang berpendidikan, tegas, sayang dan dekat dengan keluarga Ibu, bahkan menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri... Salwa juga sudah sangat menghormati posisi Ibu sebagai wanita, ia mencintai dengan tulus dan penuh pengertian, ia bahkan menghargai keinginan Ibu untuk tidak menikah sebelum sarjana, dan akhirnya mau berpisah selama ia tinggal di Surabaya dan Ibu  tetap di Yogya. Tapi kemudian, apa yang Ibu lakukan, di Kediri, Bu? Sungguh, yang seperti Salwani Munir itu pun belum cukup? Di titik ini, jujur, sulit sekali bagi saya untuk bisa bersimpati dengan Ibu. Dorongan sebesar apa yang membuat Ibu bisa memalingkan rasa hingga sebegitu rupa?

Ibu Amba yang baik,
Cinta Ibu pada seorang Bhisma Rashad, bagi saya, adalah cinta yang tidak jelas sebab-musababnya. Mungkin bagi beberapa orang, justru yang seperti itulah cinta sebenarnya, tapi saya sungguh sangat heran, apa yang begitu spesial dari laki-laki ini, Bu? Yang membuat Ibu rela menunggu bertahun-tahun, bahkan berani untuk datang ke Buru setelah berdekade-dekade lamanya tanpa kabar, petunjuk, atau apapun itu. Benar ia sebegitu menariknya, Bu? Apakah karena fisiknya, yang tinggi menjulang, rambutnya yang kecokelatan? Apakah karena profesinya, sebagai dokter, penolong berbagai jiwa manusia? Apakah jalan pikirannya, yang membuatnya banyak memiliki kenalan dan akhirnya terlibat banyak dalam kegiatan golongan kiri, hingga akhirnya ia ikut ditangkap dan diasingkan? Orang bilang bermain-main dengan 'bahaya' memang kadang lebih menyenangkan daripada hidup lempeng-lempeng saja. Saya rasanya hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan apa tepatnya yang membuat Ibu begitu jatuh cintanya pada seorang Bhisma Rashad ini, kecuali bahwa ialah sosok yang membuat Ibu 'merasa hidup, sehidup-hidupnya'. Benar sesepele itu? Meskipun ia tidak pernah memperlakukan Ibu sebagai sosok yang spesial, bahkan memperkenalkan pada rekan-rekannya pun nama Ibu disebut begitu saja tanpa embel apa-apa, tapi kebetulan ia membuat Ibu merasa 'hidup', begitu?

Ibu Amba yang baik,
Maafkan kalau saya lancang, tetapi kadang saya pun bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya yang begitu spesial dari seorang Amba, hingga banyak laki-laki dengan mudahnya bisa tertarik pada Ibu? Rasanya mudah sekali bagi Ibu menarik perhatian dan mendapat cinta dari banyak pihak. Salwa, Bhisma, Adalhaerd, lalu Samuel.... Ketika usia Ibu tidak lagi muda, bahkan! Tetap saja!
Laki-laki itu, Bhisma, pernah mengatakan, "Wajahmu mengandung kesedihan sebuah kota," Lalu saya bertanya-tanya, apa kesedihan sebegitu agungnya? Sebegitu memesonakannya-kah ia, bagi yang melihatnya? Apakah mungkin itu jawaban mengapa orang seringkali berlama-lama melibatkan diri di dalamnya, sengaja tak ingin keluar, justru terus bersukarela menggulatkan diri dalam kesedihan itu sendiri, mengulang-ngulang masa yang telah lewat, menanti sesuatu yang tak pasti....

Ibu Amba yang baik,
Kisah Ibu ini, bagaimanapun tidak simpatinya, toh tetap bisa membuat saya kagum pada sosok Ibu. Penantian sekian tahun sungguh merupakan wujud keteguhan hati dan kesabaran tiada batas. Memang wanita kadang golongan yang paling misterius dan sulit dimengerti arah hatinya, ya, Bu. Saya agak kecewa, mungkin karena harapan akan sebuah kisah cinta yang benar menggugah tidak sepenuhnya terwujud. Dari sisi historicalpun, rasanya tidak banyak perspektif baru yang bisa didapat, terutama mengenai peristiwa Gerakan 30 September (padahal kisah ini punya potensi untuk menawarkan sudut pandang lain, sudut pandang sebenarnya dari pihak kiri). Untuk kejelasan tentang suasana di pengasingan Pulau Buru, jujur belum saya baca lebih lanjut, sehingga saya belum bisa berkomentar akan itu. Bisa jadi ekspektasi saya memang berlebih. Namun tetap, kisah ini sangat menarik untuk diikuti, penuh dengan rangkaian diksi yang kaya dan cukup membuai dengan kecantikannya, memaksa setiap pembaca untuk menaruh perhatian penuh dan menikmati dunia seorang 'Amba'. Bila harus dibandingkan dengan Pulang karya Laila S. Chudori, sebuah novel yang juga menyinggung peristiwa 1965, Pulang entah kenapa terasa lebih 'pop', dan lebih mudah dimengerti, namun kisah Ibu, tanpa ragu, punya daya tariknya sendiri. Terimakasih telah membuat kepercayaan Saya terhadap fiksi lokal bangkit kembali. Setelah sekian lama, akhirnya saya baca lagi satu karya berkualitas tinggi ciptaan penulis dalam negeri, dan dengan senang hati saya bisa katakan bahwa saya tidak menyesal.

Ibu Amba yang baik,
Kini sudah tiga tahun berlalu semenjak kisah Ibu selesai. Senang rasanya dapat mengenal Ibu, meskipun hanya melalui lembaran-lambaran kertas. Dimanapun Ibu kini berada dan bagaimanapun kondisinya, saya harap, kehidupan selalu menemukan Ibu dalam keadaan baik.


Penuh salam hormat dari Saya (yang juga seorang mahasiswi Sastra Inggris, mungkin lain kali kita bisa saling berdiskusi tentang berbagai puisi dan literatur menarik kesukaan kita ya Bu ;)),


January 06, 2014

The Journeys 3 by Alexander Thian, Alfred Pasifico, Alitt Susanto, dkk

The Journeys 3: Yang Melangkah dan Menemukan

oleh Alexander Thian, Alfred Pasifico, Alitt Susanto, Ariev Rahman, Dina DuaRansel, Farid Gaban, Hanny Kusumawaty, Husni M. Zainal, JFlow, Lucia Nancy, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty
diterbitkan Desember 2013 oleh Gagas Media
Non-fiksi/Travelogue
382 halaman
selesai dibaca 5 Januari 2013

***

Batas akan tetap menjadi batas, saat tak ada yang benar-benar berani menyeberanginya. Seperti halnya kita menamai utara sebagai utara, karena tak ada yang pernah bertanya kenapa.

Jarak akan tetap menjadi jarak, saat tak ada yang memulai langkah untuk menyudahinya. Kita hanya menduga-duga, sebelah langit mana yang berwarna lebih merah.

Dan, perjalanan hanya akan menjadi perjalanan, saat tak ada yang sudi menceritakan kisah yang menyertanya. Maka, temuilah, lewati batas, tuntaskan jarak. Ceritakan—setidaknya kepada diri sendiri, tentang jawaban yang kita temui.

Inilah kisah perjalanan yang akan membuat kita kembali kepada sesuatu yang paling dekat, sejauh apa pun kita melangkah pergi.


Pada akhirnya, setiap perjalanan yang dilakukan membuat si musafir melakukan ziarah atas dirinya sendiri.


Menziarahi diri sendiri adalah tema yang menjadi benang merah dari seluruh cerita perjalanan dalam The Journeys kali ini. Serius, aku bersyukur banget banyak orang melalui surel maupun Twitter yang (seperti yang dituliskan Mbak Windy di halaman pragagas) menanyakan 'Kapan lagi nih, The Journeys terbit?' The Journeys kali ini udah sampai edisi ketiga dan aku bakalan tetap beli kalau lanjutannya terus ada, sampai edisi keberapapunCerita traveling, ketika dituliskan dalam buku, sedikit banyak bisa membuat yang membacanya untuk merefleksikan kehidupan mereka sendiri. Hal-hal biasa yang mungkin sudah lumrah terjadi di kehidupan sehari-hari kadang jadi tidak biasa kalau terjadinya saat kita berada di tempat orang. Berbeda dengan The Journeys 2 yang fokus pada kisah-kisah dari dalam negeri, kali ini para penulis The Journeys mengajak pembaca ke berbagai tempat, baik di luar maupun dalam negeri: Zambia (Afrika), Selandia Baru, Singapura, Jepang, Wakatobi, India, Vatikan, Hong Kong, Santorini, Sydney, Kediri, dan terakhir ke Ubud, Bali! Wow. List yang menakjubkan untuk jalan-jalan lewat buku hanya dengan biaya kurang dari 100k ;)

Cerita-cerita di dalamnya masih menyentuh, seperti biasa. Gaya penyampaian yang berbeda-beda sesuai khas masing-masing penulis membuat cerita-cerita jadi tidak monoton, dan yang paling terasa dari The Journeys ini adalah humor yang diselipkan di banyak tempat. Ada beberapa kisah yang humornya terasa agak maksa, sih, dan ada satu cerita yang buat saya agak membosankan karena tone-nya datar, tapi secara keseluruhan The Journeys 3 masih tetap sebuah travelogue yang menyenangkan. Dan kalau harus bicara selera, lalu disuruh menyebutkan kisah-kisah favorit saya dari The Journeys 3 ini, maka pilihan saya jatuh pada 4 cerita milik Dina DuaRansel, Hanny Kusumawaty, Alexander Thian, dan Ve Handojo.

Dina dalam ceritanya yang berjudul Don't You Miss Home, Though? berbagi tentang pengalamannya pergi ke Selandia Baru bersama sang suami, Ryan, yang juga partnernya selama traveling. Jujur, saya baru menemukan blog Dina sekitar bulan Desember lalu, dan dari hasil mengintip itulah saya tahu bahwa pasangan ini memutuskan untuk menjual apartemen mereka dan meninggalkan seluruh kehidupan di Kanada untuk berkeliling dunia. Dalam The Journeys 3, Dina menuliskan bahwa banyak yang menanyakan padanya, apa rasanya hidup berpindah-pindah dan tidak punya rumah? Tidak punya satu tempat untuk kembali? Mengunjungi berbagai tempat memang menarik, but don't you miss home, though? Akhirnya, setelah dari Selandia Baru dan mengalami berbagai hal menegangkan seperti longsornya tebing saat mereka sedang berjalan-jalan di sekitar bola batu raksasa Moeraki Boulders, hujan buruk yang bisa saja menyapu mobil mereka jatuh ke tebing, dan mimpi-mimpi aneh selama perjalanan, Dina tahu jawaban akan pertanyaan tersebut.

Di sisi lain, Hanny terkejut akan pernyataan Vagelis, seorang pemilik toko di Fira, Santorini, yang berkata "You're a nice person" padanya hanya karena Hanny menjawab sapaan 'Good morning! Where are you from?' lalu menyempatkan diri untuk ngobrol sebentar dengan Vagelis. Hal yang sama terjadi dengan Adriano, seorang pegawai perusahaan yang menyediakan ATV maupun skuter untuk berkeliling Santorini. Adriano kerap menyapa turis-turis dan pengunjung dengan, 'Hello, how are you?' Nah, dalam banyak kesempatan, turis-turis itu biasanya hanya tersenyum kecil dan berlalu, malas berbasa-basi ataupun menanggapi. Hanny pun saat hari pertama begitu, namun di hari kedua, ia akhirnya menjawab sapaan Adriano. Setelah mengobrol beberapa waktu, Adriano berkata dengan sungguh-sungguh, "Today, you stop and talk. Yesterday, you didn't stop." Entah kenapa, cerita Berhenti Sejenak ini kena banget di aku. Keramahan sekecil apapun selalu menyenangkan jika berbalas, dan perbuatan seremeh menanggapi sapaan dan berhenti sejenak untuk mengobrol dengan penduduk lokal saja akan meninggalkan jejak yang berarti, setidaknya seperti bagi Vagelis dan Adriano dalam kisah ini :)

Alex dalam Pulang ke Pelukan Mama menceritakan pengalaman lucunya pergi ke Hong Kong diam-diam karena ingin memberi surprise bagi sang Mama, meskipun dirinya sendiri tahu bahwa ia adalah orang dengan bakat nyasar yang parah! Setelah dapat arahan dari Shanty tapi nggak nyampe-nyampe juga di hotel yang dituju karena nggak bisa inget petunjuk, dirampok Encim-Encim dengan dalih sumbangan bagi anak-anak tidak mampu, dijutekin cewek Hong Kong yang duduk di sebelahnya di bus, lalu mengetok pintu apartemen yang salah (duh malunya!), akhirnya ia bisa bertemu Mamanya juga dan menyempatkan waktu untuk bercerita banyak tentang kehidupan masing-masing.

Sedangkan Ve Handojo, saat sedang di Sydney demi menonton konser Coldplay, memilih untuk menginap di rumah seorang penduduk lokal bernama Sandra ketimbang di hotel. Tujuannya adalah untuk Slow Traveling, yaitu berbaur, menyapa, dan mengajak ngobrol penduduk lokal untuk merasakan kehidupan ala Sydney yang sebenarnya, bukan jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal ataupun landmark-landmark yang biasa dikunjungi turis. Dengan tekadnya tersebut, Ve berhasil tau tempat-tempat yang enak untuk ngopi dan makan di Sydney, seperti Blomwood, Campos Coffee, Bread & Circus, lalu jalan-jalan ke Surry Hills, Marrickville dan Albert Street. Ve sebelumnya juga menuliskan kisah tentang perjuangannya berburu batik di The Journeys 2, namun aku lebih suka ceritanya yang ini.


Usia muda adalah usia yang paling tepat untuk bermimpi dan mengusahakan impian-impian itu untuk menjadi nyata.
- Alitt Susanto, Antara Singapura dan Rumah Mama

Bahagia itu tentang berkenalan dengan rasa cukup. Belajar merasa cukup.
-Windy Ariestanty, Menerjemahkan Bahagia

Nah, selain empat cerita di atas, masih banyak cerita-cerita lain yang sama asyik dan menakjubkannya! Tentang Husni M. Zainal yang menantang bahaya dengan berarung jeram di Sungai Zambezi lalu berenang di tepian air terjun Victoria Falls, Ariev Rahman yang ke Jepang untuk menapaktilasi perjalanan almarhum Ayahnya, Vabyo yang seorang muslim tapi pergi ke Vatikan, Lucia Nancy tentang pengalaman solo travelingnya ke Wakatobi, hingga JFlow yang pergi ke Kediri demi mengunjungi kampung halaman si Ibu. Dengan berbagai kisah yang pas banget buat jadi hiburan di kala senggang, dihiasi dengan berbagai foto yang bikin kita pengen jalan-jalan juga saking breathtaking-nya, The Journeys 3 ini sayang banget untuk dilewatkan ;)



Udah baca The Journeys 3? Udah pernah baca buku-buku traveling lain? What's your favorites? Ada rekomendasi buku tentang traveling yang menurut kamu bagus dan perlu aku baca? Yuk, saling ngobrol dan berbagi! Have fun and read some more!


September 08, 2013

Jika by Windy Ariestanty, Alanda Kariza, Rahne Putri dkk

Jika
dan hanya jika

Oleh Alanda Kariza, Artasya Sudirman, Bella Pangabean, Desiyanti, Feba Sukmana, Gita Romadhona, Hanny Kusumawati, Mita M Supardi, Nanette Isdito, Novi Kresna Murti, Stella Ang, Windy Ariestanty
Kumpulan cerita
Diterbitkan Agustus 2013 oleh Gagas Media
224 hlm

***

Apa yang tebersit dalam hatimu, saat kaki sudah menjejak di masa sekarang, tetapi sebuah ingin masih tertinggal di masa lalu? Kau mungkin berharap semesta mengulang jika. Apa yang memenuhi harapmu saat melihat esok masih terlalu gulita dan gelap tak mampu kau kira? Kau mungkin mendamba banyak jika. Jika, dan hanya jika. Tiga belas penulis mengabadikan rentak yang mereka temui di perjalanan dalam foto. Lalu, mereka beri “jika” ke dalamnya, ditambah rindu, cinta, dan harapan yang kadang hampir selesai. Menjelmalah, tiga belas “jika” penuh warna.

Angan-angan. Bersama napas yang kuhidup dan 
kuembus, jutaan khayal bertransformasi menjadi energi 
yang memompa nadi, mengirimkan pesan pada hati
mengajak diri untuk memulai suatu perjalanan.

Don't judge a book by it's cover lama-lama nggak berlaku lagi buat saya. Dari dulu, buku dengan cover cantik-menarik-dan ciamik selalu berhasil menarik perhatian, entah apakah isinya sepadan dengan bentuk fisik tersebut atau tidak. Begitu juga dengan Jika. Cover ini buat saya gorgeous banget! Penggunaan ambigram kata Jika di cover sangat unik (Ambigram: Jenis typografi dimana sebuah kata bisa tetap dibaca sama meskipun dari berbagai sudut pandang. Coba bolak balik cover buku Jika ini sebagai contoh), kayaknya baru sekali ini saya nemu buku dengan ide desain cover yang pakai ambigram.

Tapi Jika tidak hanya memuat kumpulan cerita. Halaman-halamannya dihiasi dengan foto-foto indah yang membuat pembacanya lebih menikmati dan meresapi setiap cerita maupun sajak yang ada. Pada Setumpuk Jika di Manhattan, Alanda Kariza menghadirkan sosok Navita yang sedang mencari Ayahnya di New York demi menjadi wali dalam pernikahannya dengan Leo. Jika saja aku tidak membuat Ayah dan Bunda berpisah, semuanya tidak akan menjadi seperti ini adalah premis dari cerita pembuka tersebut.

Lalu Rahne Putri hadir dengan Kisah Cinta di Balik Pintu Renta yang sangat menyentuh. Saya sudah lama follow beliau dan selalu terkesan tiap kali membaca sajak-sajaknya di Sadgenic, dan bagian partisipasi Rahne dalam omnibus Jika punya sebuah paragraf yang jadi favorit:

Sebuah mimpi tidak selayaknya egois terhadap mimpi yang lain. Biarkanlah mimpi berkembang, dan biarkan cinta tersimpan di sela-selanya. Biarlah jarak dan waktu menjadi benalu sementara, dan jika kau percaya, cinta bisa kau bangunkan sewaktu-waktu bersama-sama.

July 25, 2013

Evergreen by Prisca Primasari

Evergreen

oleh Prisca Primasari
Terbit 2013 oleh Grasindo Publishing
Indonesian fiction/Romance
203 hlm
Buku lain dari Prisca: Eclair, Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa, Paris: Aline

***

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

"Kalau suasana hatiku sedang kacau, aku biasa datang ke kafe es krim Evergreen,"

Rachel Yumeko River—selanjutnya lebih sering dipanggil dengan Rashieru/Riba-san—baru saja dipecat dari pekerjaan yang sangat ia cintai di Sekai Publishing. Ia marah, kesal, kecewa dan merutuki diri serta nasib buruknya. Lebih sedih lagi ketika mengetahui teman-temannya malah meninggalkannya berlibur bersama tanpa mengajak Rachel sama sekali. Rachel merasa tidak dipedulikan. Ia juga sangat frustrasi, sampai-sampai sempat berniat untuk jisatsu—bunuh diri.

Dalam keadaan kacau, Rachel pergi ke Evergreen, sebuah kafe es krim manis yang terletak di Komazawa-dori, Shibuya. Disana ia bertemu banyak orang: Yuya si pemilik kafe, Gamma, Fumio, Kari, hingga Toichiro-san, pelanggan yang tiap hari datang ke Evergreen. Kunjungan Rachel ke kafe Evergreen berbuah baik. Atas kebaikan hati Yuya pula, Rachel ditawari untuk bekerja di Evergreen. Awalnya Rachel menolak. Ia gengsi. Tapi karena butuh pekerjaan, dengan berat hati ia menerima tawaran tersebut.

Evergreen seolah punya dua cerita utama. Yang pertama tentang Rachel dan usahanya membangun hidupnya kembali—berkenalan dengan orang-orang di Evergreen yang sedikit demi sedikit membuatnya menyadari dan mau mengoreksi diri serta memperbaiki kesalahan yang membuat ia dipecat dari pekerjaan. Yang kedua adalah tentang Fumio dan Toshi, adik Fumio yang menderita Alzheimer. Fumio berusaha sedapat mungkin supaya sang Adik tidak melupakan kenangan-kenangan keluarga mereka yang paling berharga, tapi usahanya kian berujung kecewa karena penyakit itu terus menyerang ingatan-ingatan Toshi tanpa ampun.

Tipikal buku-buku Prisca Primasari lainnya, world building di buku ini juga bagus dan kuat. Setelah Rusia, Prancis, kali ini Jepang. Saya selalu terkesan tiap kali baca buku beliau karena deskripsinya bikin imajinasi di kepala kita tentang latar tempat dan suasananya jelas, seolah-olah kita benar-benar ada di Evergreen yang manis, yang dapurnya senantiasa menguarkan wangi harum yang berasal dari menu-menunya.

Tembok kafe berwarna krem, dengan aksen garis-garis tipis cokelat tua yang mengesankan kulit dan kambium pepohonan. Papan bertuliskan Evergreen dirakit dari jati pipih dengan pinggiran yang mengikuti bentuk huruf-hurufnya. Jendela-jendela mungil di sana bergorden putih tipis, diikat menyamping dengan pita emas. Boneka-boneka beruang kecil tersemat di beberapa bagian gorden.
Rachel melihat banyak kursi puff, sofa mungil, dan meja-meja bertaplak handmade. Tembok dipenuhi kertas dinding nuansa oranye dan kuning, dengan motif bunga-bunga kecil. Para pengunjung dapat duduk dan menikmati es krim dimanapun.

July 15, 2013

Hawa oleh Riani Kasih

Hawa

oleh Riani Kasih
 Juara #2 Lomba Penulisan Novel Amore
Diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
254 hlm

***


Empat tahun menjalin hubungan tidak menjamin Hawa berjodoh dengan Abhirama. Hubungan mereka luarnya saja tampak mesra, padahal mereka dua orang yang memaksakan saling memahami, tapi sayangnya tak berhasil. Akhirnya, Hawa membatalkan sepihak rencana pernikahannya dengan Abhirama.

Karena sedih, malu dan kecewa, Hawa menenangkan diri ke rumah Omanya di pedalaman Kalimantan Barat. Di situlah Hawa bertemu dengan Landu, polisi yang bertugas di Kapuas Hulu. Perjumpaan mereka yang berawal dari kejadian tidak mengenakkan lambat laun menumbuhkan bibit cinta. Perlahan, kehadiran Landu yang pendiam tapi dewasa menyembuhkan luka hati Hawa.

Tetapi, sanggupkah Hawa menerima cinta Landu pada saat Abhirama menyusulnya dan memintanya kembali ke pelukannya?


Sejujurnya setiap kali saya baca buku hasil menang lomba yang diadakan oleh sebuah penerbit, biasanya lebih sering kecewa daripada setuju dengan pilihan juri. Lagipula saya belum pernah baca genre Amore. Tapi karena ini diadakan oleh penerbit besar dan disebut-sebut di twitter salah satu editor kebanggaannya, saya penasaran juga.

Apa yang saya suka dari kisah Hawa?
1. Fisik dulu ya. Covernya cantik! Manis, pink pula. Tadinya saya niatnya cari Mahogany Hills (yang menang pertama Lomba Amore ini), tapi karena kebetulan adanya Hawa dan covernya attractive, jadi saya beli deh ;)

2. Latar cerita yang nggak biasa dan world build-up yang kuat. Sejiram, Kalimantan Barat digambarkan dengan baik oleh Riani Kasih. Suasananya, kehidupan para masyarakatnya. Hal-hal yang dilakukan Hawa dan Landu di kencan-kencan mereka juga asyik euy: sepedahan bareng kemudian nonton sunrise, belajar naik speedboat, panen madu. Jadi semacam great escape dari buku-buku lain yang kebanyakan nyeritain kisah-kisah berlatar kota metropolitan.

3. Kisah Landu dan Hawa ini berproses. Mungkin karena saya kebanyakan baca YA dimana *uhuk* insta-love udah nggak asing lagi *uhuk*, Landu dan Hawa yang awalnya nggak suka satu sama lain ini jadi 'wah' buat saya. Iyalah, belum apa-apa Hawa udah ngelempar kaleng minuman ringan aja ke Landu. Landu nganggepnya Hawa cuma cewek angkuh, Hawa juga berpendapat bahwa Landu aneh. Baru setelah beberapa kesempatan, mereka akhirnya lebih tau pribadi asli masing-masing.

4. Landu si polisi yang romantis ini.... Likeable banget deh ((senyum-senyum menye)). Berdedikasi terhadap pekerjaan, baik, ramah, penyayang pula. Rasa sayangnya Landu buat Hawa itu kerasa banget, terutama di bagian kedua dimana hubungan mereka bener-bener diuji.

Apa yang saya nggak suka dari kisah Hawa?

October 14, 2012

Kukila by M. Aan Mansyur


Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2012 (September)
Harga: Rp 38.000

***

Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.


Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.


***

Kukila. Bayangkan seorang perempuan dengan nama yang cantik seperti itu. Kukila. Kukila. Kukila.

Pohon besar itu punya rahasia. Dulu, ceritanya, terdapat tiga anak manusia. Dua laki-laki dan satu perempuan. Laki-laki pertama sering datang dan duduk di bawah pohon itu, memandang ke arah rumah dengan dua jendela. Satu jendela di samping, dan satu di arah utara. Dari kedua jendela tersebut, terlihat dua anak manusia lainnya. Satu perempuan dan satu laki-laki. Dua anak tersebut juga melihat ke luar, ke arah laki-laki yang duduk di bawah pohon.

Apa hubungan cerita itu dengan Kukila? Dengan mantan suaminya? Dengan semua penderitaan hidupnya? Surat-surat Kukila, anak-anaknya, bahkan surat mantan suaminya akan menjelaskan semua itu.

***
Covernya cantik banget yaaaaaa :)

Jujur saya pertama tertarik karena fisiknya. Kalau dipajang di deretan rak toko buku itu langsung mencuri perhatian, gitu. Cantik, sebagaimana Kukila. Sebagaimana isinya.
Ada total 16 cerita dalam kumpulan cerpen karya Aan Mansyur ini. Kukila, Kebun Kelapa di Kepalaku, Setengah Lusin Ciuman Pertama, Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji, Setia adalah Pekerjaan yang Baik, Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan, Membunuh Mini, Aku Selalu Bangun Lebih Pagi, Ketinggalan Pesawat, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi, Lima Pertanyaan Perihal Bakso, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, Hujan. Deras Sekali, Tiba-tiba Aku Florentino Ariza, Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim, dan Cinta (Kami) Seperti Sepasang Anjing dan Kucing.

Cerita-cerita dalam buku ini dikemas dengan baik. Pilihan katanya menarik, tapi gampang dipahami. Cocok lah buat saya yang kadang lama mengerti maksud-maksud tersembunyi dalam kumpulan-kumpulan cerita biasanya (alias lemot :p). Penulis kebanyakan mengangkat tema umum, cinta, tapi cara pengungkapannya bermacam-macam. Saya paling suka twist-twist yang muncul di bagian akhir cerita, kadang agak shocking dan bikin senyum-senyum sendiri.

Ada beberapa cerita yang rasanya lewat begitu saja tanpa perhatian, tapi lebih banyak yang meninggalkan kesan. Dari 16 cerpen yang ada, saya paling suka Setia adalah Pekerjaan yang Baik, Membunuh Mini, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, dan Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi.

Intinya, buat saya, Kukila ada untuk dinikmati. Bukan untuk diartikan terlalu jauh, dikulik bagian-bagiannya lalu dianalisa satu-satu seninya. Kukila itu penghiburan, bacaan ringan yang cocok dibaca saat luang. The book left a sweet aftertaste after I finished it.

*** 
PS:
Ini remeh, tapi saya seneng deh tiap kali buka akun penulisnya, @hurufkecil. Konsisten terhadap username-nya sendiri, setiap kata yang ada di linimasa M Aan Mansyur semuanya menggunakan huruf kecil. Bahkan semua mentions ataupun nama username lain yang menggunakan huruf kapital akan ia ganti terlebih dahulu dengan huruf kecil. Hihihi.

September 30, 2012

The Naked Traveler 4 by Trinity

The Naked Traveler 4The Naked Traveler 4

Judul: The Naked Traveler 4
Penulis: Trinity
Penerbit: B First
Harga: Rp 49.000


Indonesiana:
Kali ini saya ikut ngintil ke berbagai tempat di negara kita tercinta ini. Naik kapal Kurisi ke Sorong, ketemu anak-anak kecil suku Dayak, ke Gorontalo (ternyata disana ada bangunan yang mirip dengan Menara Eiffel!), lihat-lihat lubang besar bekas disedot timahnya di Bangka, juga ke Lombok (yang sekarang makin ramai) dan Papua.

Welcome to Afrika:
Namibia, Afrika. Saya suka tulisannya Trinity karena selain berisi cerita, juga sering kasih info dan pandangan baru tentang suatu tempat. Nggak semua orang di Afrika hitamnya seperti yang kita bayangkan :p Disana juga masih banyak terlihat kehidupan sisa-sisa masa politik apartheid (bahkan masih ada kursi umum yang cuma boleh didudukin oleh orang putih -_-), serem dan serunya wisata safari alam (ngeliat binatang-binatang yang selama ini cuma kita liat lewat tipi/diluar jeruju besi secara live!), berkunjung ke bekas penjaranya Nelson Mandela, juga ada foto dune eksotis Namibia favorit saya.

Jalan-Jalan Murah:
Intinya, kalau memang mau jalan-jalan ya harus diusahakan. Jangan bilang nggak punya waktu, nggak punya tempat. Jangan pengennya biaya murah tapi nuntut fasilitas bagus. Banyak yang akan dikorbankan, tapi pasti sebanding dengan pengalaman hidup dan keseruan yang didapet. Setidaknya, seorang traveler itu pasti punya banyak cerita.

Mengaduk Perut:
Dari judul sub-babnya sudah ketauan kalau bagian ini fokus ke kuliner. Eh saya jadi tahu kalau di Thailand sana (yang negaranya paling welcome dengan keberadaan waria) ada pembagian harga makan antara boys, ladyboys, dan girls :))

Cinta Laut:
Disini kebanyakan cerita tentang pengalaman Trinity LOB (Live on Board atau hidup di kapal) selama di Raja Ampat. Ini yang paling bikin iri! Nggak usah ditanya lagi juga pasti sudah banyak orang tau tentang gimana luar biasa indahnya alam Raja Ampat.

"...Raja Ampat adalah gabungan antara ribuan pulau karst berbukit, hutan rimba pekat, dan pantai pasir putih. Benar-benar perawan sehingga Phi Phi Islands di Thailand dan Halong Bay di Vietnam langsung berasa tawar! Satu hal lagi yang baru saya alami di Raja Ampat, yaitu berenang di pantai sambil mendengar ramainya kicauan burung!"

"Disana sesekali hujan, jadi minimal sehari dua kali kami melihat pelangi. Tidak hanya kelihatan jelas lapisan mejikuhibuniu, tapi juga bisa melihat busurnya dari satu ujung ke ujung lain!"

"Baru kali ini pula saya menitikkan air mata saking kagumnya melihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Indahnya alam Indonesia itu memang bak surga, tapi Raja Ampat itu surga lantai kesembilan!"


Hidup di kapal selama dua minggu, terisolasi dari peradaban, tiap hari kegiatannya hanya diving, diving, diving dan menyusuri pantai pasir putih... Ya ampun. Sayang biaya yang harus dikeluarkannya juga ya ampun xp
Di bagian terakhir bab ini, Trinity kasih daftar-daftar pantai favoritnya di Indonesia. *jempol*

Pelajaran Penting:
Trinity memang nggak cuma cerita tentang jalan-jalan, tapi perilaku orang-orang juga. Bahasanya nyinyir, lugas, segar, blak-blakan tapi bener, jadi kebanyakan kita cuma bisa nyengir-nyengir aja bacanya. Apalagi tentang kelakuan norak kebanyakan orang Indonesia yang baru pertama kali ke luar negeri x)
Tapi favorit saya adalah 'Follow Your Passion'. Banyak orang bisa bermimpi hidup dari (hanya) melakukan hal yang disukai, plus dibayar lagi (kayak Trinity ini), tapi nggak semua orang berani ngambil resiko untuk berjuang ngelakuinnya.

Sial!:
Isinya cerita heboh huru-hara hampir ketinggalan pesawat, ngomongin sepasang couple perempuan muda&kakek-kakek di Palau (yang ternyata orang Indonesia...), nginep di hotel ayam di Singapura. Tapi kesukaan saya adalah cerita tentang Tezar, teman Trinity yang sekarang udah jadi seleb (padahal dulunya di TNT2 dia cungkring, kere, dan masih jelek, hihihi)

Mari Berkelana:
Tempat-tempat yang nggak biasa. Petra (di Yordania), situs-situs ziarah di Israel, Pushkar di India, juga liat-liat Terracota Army (ribuan patung-patung tentara yang dibangun masa kaisar Qin Shin Huang) di Xian, China.

Yang Unik:
Disini banyaknya kasih perbandingan antara 'kalau di Indonesia' dengan 'kalau di luar.' Di Jepang, perusahaan-perusahaan sangat welcome dan menyambut baik kalau ada masyarakat yang mau berkunjung dan liat proses pembuatan produk mereka (lumayan kan, nambah edukasi juga) sementara di Indo, rasanya nggak banyak yang mau 'buka rahasia perusahaan' kayak gitu (kecuali konter-konter roti atau donat dan coffeeshop yang belakangan banyak ada di mall), alasannya hanya karena takut tersaingi. Di tempat-tempat seperti Hollywood Walk of Fame/Madame Tussauds, pengunjung bisa bebas ambil-ambil foto dan norak-norakan (dan mereka bangga bisa foto sama tulisan nama/patungnya doang), sementara di TS Makassar justru patungnya diamankan (dan nggak banyak deh rasanya orang kita yang mau foto sama patung artis-artis lokal :p)

***
Saya kekeuh berpendapat kalau buku traveling Trinity itu bisa dibaca siapapun, termasuk yang nggak suka jalan-jalan juga. Ada suatu perasaan yang 'terbangun' gitu saat kita baca cerita seru seseorang waktu ngunjungin tempat yang sebelumnya kita nggak tahu. Saya percaya traveling itu proses memperkaya diri, dari yang nggak tahu jadi tahu, dari yang berpikiran tertutup jadi bisa lebih bertoleransi nerima perbedaan, juga bisa lebih menyadarkan diri bahwa kita ini kecil, dan dunia nggak sebatas apa yang selama ini kita tau aja. :)

Yah setidaknya, kalau kita nggak sempet/nggak bisa traveling sendiri, setidaknya bisa ngintil lewat buku orang seperti ini :p

PS: Masih berharap di buku TNT selanjutnya foto-fotonya dibuat berwarna. Lebih mahal sih, iya, tapi pasti jadi lebih bagus.

Lihat reviews lain di Goodreads :)

September 22, 2012

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa by Prisca Primasari

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Harga: Rp 45.000


***










Vinter
Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin…

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri…


***

Kali ini kita ikut kabur bersama seorang Florence L'Etoile. Kabur dari Paris, kabur dari orangtuanya, kabur dari kencan buta yang direncanakan oleh mereka, kabur dari masa lalunya. Florence memutuskan untuk pergi ke Hornfleur, sebuah kota kecil di sudut lain Prancis.

Di stasiun SaintLazare, ia duduk dalam satu kompartemen bersama seorang laki-laki. Laki-laki yang pada saat itu membawa sebuah tas, dan kebetulan sekali Florence sedang membutuhkan tas setelah tasnya yang lama jebol di tengah jalan. Laki-laki yang juga akan pergi ke Hornfleur, laki-laki bermata biru jernih, laki-laki yang di tangannya terdapat bekas sayatan luka, laki-laki dengan nama unik namun indah: Vinter Vernalae...

Kisah mereka pun bermula dari pembicaraan di kompartemen kereta menuju Hornfleur tersebut.
"Dua orang bisa bersatu ketika semua partikel di jagad raya mendukung mereka. Ketika mereka berpisah, terasa ada yang mengganjal. Ganjil dan aneh."

August 24, 2012

Twivortiare by Ika Natassa

Twivortiare

Judul: Twivortiare
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 55.000


***










Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun twitternya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil "mengintip" kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: "Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat yang bersamaan?"
Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM, yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

***
"Dear Cardiothoracic Surgeon, nggak bisa ya kita cari pekerjaan yang normal-normal aja biar sama-sama pulang jam 5 kayak rakyat jelata lainnya? Aku capek kayak gini." :))

Dulu saya sudah follow akun @alexandrarheaw selama beberapa bulan sebelum akhirnya keluar kabar bahwa kumpulan tweets Alexandra akan dibukukan dalam suatu buku berjudul Twivortiare. Saya langsung excited. Nama Ika Natassa rasanya sudah jadi jaminan wajib beli buat saya, yang sudah menikmati 3 dari 4 bukunya yang lain (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa). Tadinya sempat ragu juga sih saat mau membeli, karena toh apa yang kita baca sebenarnya bisa dilihat sendiri di timeline Alex, kan? Tapi ternyata Mbak Ika menambahkan beberapa bagian supaya ceritanya terkesan 'utuh', seperti DM-DM dari Alex ke Wina, juga merapihkan beberapa bagian lainn.

Jadi sebenarnya, Twivortiare ini ceritanya apa sih?
Secara singkat, Twivortiare ini adalah isi hidup Alex yang dikutip dari akun Twitternya.
Umumnya berpusat pada dua hal: Satu, keseharian Alex yang masih bekerja sebagai banker -keluhannya tentang rapat, lembur, harus menghadapi klien yang ganjen dan flirting terus- Dua: Kehidupan pernikahan keduanya dengan Beno. Iya, Alex dan Beno menikah lagi (di Divortiare, kisah mereka ditutup dengan adegan Alex dan Beno pergi makan bareng di nasi goreng Sabang -yang pastinya menimbulkan pertanyaan "Jadi Alex dan Beno itu rujuk lagi nggak sih?" Dan itu semua terjawab disini.)

August 23, 2012

With You by Christian Simamora & Orizuka

With You

Judul: With You
Penulis: Christian Simamora & Orizuka
Penerbit: Gagas Media
Harga: Rp 50.000



***









365 hari dalam setahun,
24 jam dalam sehari.

Di antara semua waktu yang kita punya, kau sengaja memilih hari itu.
Keluar dari mimpi indah, lalu hadir dalam hidupku...


Sebagai cinta yang selama ini aku tunggu.

WITH YOU adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis GagasMedia: Christian Simamora dan Orizuka. Keduanya mempersembahkan dua cerita cinta yang menemukan takdirnya dalam satu hari saja.


***

Ini novel Gagas Duet pertama yang saya beli dan miliki. Jujur saya punya ekspektasi tinggi terhadap isi bukunya, terutama karena Christian Simamora dan Orizuka sudah terkenal dengan karyanya yang bagus dan selalu laku di pasaran. Apalagi setelah membaca garis besarnya, tentang dua orang yang menemukan cinta dalam waktu sehari. Dan senangnya, kedua cerita dalam buku ini memenuhi ekspektasi saya. :)

Cinderella Rockefella - Christian Simamora
Cinderella Rockefella menceritakan kisah seorang Cindy Tan, model ibukota yang saat itu baru saja menyelesaikan sebuah sesi pemotretan. Cindy sedang marah-marah karena sahabatnya, Kelly, membatalkan rencana karaokean mereka dengan alasan ingin menemui Ramon, seorang duda dengan dua anak. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui ada seorang laki-laki yang menguping pembicaraannya dengan Kelly di telepon itu! Ikut campur dalam urusannya pula.

"Mereka seringnya nelepon lo cuma buat cerita. Kadang, minta dikasihani. Hal-hal seperti itulah, pokoknya bukan nasihat aja. Somehow, ada aja orang-orang yang lebih bebal dari keledai, demennya jatuh terus di lubang yang sama."

"Nggak pernah ada yang bilang ke elo ya, kalo nguping percakapan orang itu nggak sopan sama sekali?"
"Nggak pernah ada yang bilang ke elo ya, suara lo itu rada toa setiap kali ngobrol di telepon?"