Showing posts with label Posting Bareng BBI. Show all posts
Showing posts with label Posting Bareng BBI. Show all posts

April 29, 2014

Galila by Jessica Huwae


sebuah buku oleh Jessica Huwae
diterbitkan 17 Maret 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama
Metropop/Drama/Romance
331 halaman
buku lain dari penulis: Skenario Remang-Remang, Soulmate.com
selesai dibaca 19 April 2014

***

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. Menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antar agama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?

"Galila."
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Pernahkah kamu belajar dari batu karang?

Galila, si gadis tanpa nama belakang, berasal dari kota kecil di Pulau Saparua sana, nun jauh di timur Indonesia. Kisah hidupnya pelik. Setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan bertubi-tubi dalam hidupnya, mulai dari ayah yang abstain dan ibu yang tidak menaruh banyak perhatian, lalu serangkaian peristiwa lain yang berusaha ia tutupi erat-erat, Galila mencoba peruntungan dengan mendaftar audisi Indonesia Mencari Diva. Tak disangka, ia berhasil di Jakarta. Setelah jadi pemenang, Galila membuat gebrakan-gebrakan baru dalam dunia entertainmen. Untuk menghadapi dunia penuh persaingan yang sengit ini, citra Galila dibangun sedemikian rupa oleh pihak manajemennya, dengan sangat hati-hati, sehingga ia dinilai sebagai bintang baru yang jauh dari berita-berita tak enak. Ia berusaha menutup kehidupan pribadinya rapat-rapat. Namun pada akhirnya masa lalu itu mengejarnya juga....

Galila adalah buku dari Jessica Huwae pertama yang aku baca. Cover depan hasil karya Riesma Prawesti yang lumayan catchy bikin aku tertarik membelinya di acara Kompas Gramedia Fair kemarin. Secara keseluruhan, Galila merupakan kisah solid yang cukup menarik, dibangun dengan narasi-narasi panjang, deskripsi mendetail, dan konflik silih berganti. Rangkaian kejadian dalam hidup Galila tidak diceritakan secara kronologis dalam runut maju, melainkan berupa flashback-flashback yang secara rapi diungkap satu persatu. Cerita dibawakan melalui sudut pandang orang ketiga, permainan diksinya menarik, hampir lirikal dan berima, meskipun seringkali panjangnya narasi bisa bikin agak 'kelelahan' bacanya.

Sinopsis di belakang buku menurutku bisa agak 'menipu', nih. Tadinya kupikir cerita Galila ini akan menaruh lebih banyak porsi pada bagian dimana Galila kembali ke kampung halaman guna menenangkan diri dari berbagai masalah yang menimpanya di Ibukota, namun ternyata tidak. Bagian itu justru rasanya sedikit banget, yang bikin aku merasa penyelesaian konflik disini agak terburu-buru. Sebagian besar kisah Galila justru terfokus pada jalan karirnya menjadi bintang ternama dan masalah-masalah seputar hubungan percintaannya dengan Eddie, putra seorang pengusaha. Untungnya, semua ini diungkapkan dengan cara yang enak, menarik dan mengalir, jadi bukan suatu masalah.

Lewat kisah cinta Galila dengan Eddie, Jessica Huwae juga menampilkan konflik tentang budaya dan hubungan keluarga. Edward Hamonangan Silitonga berasal dari keluarga Batak yang masih memegang teguh adat dan usaha melestarikan garis keturunan keluarga. Adalah mama Eddie, Hana Silitonga, yang secara tegas tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Galila. Selain tidak separibanan, Galila pun dicurigai karena asal-usulnya yang tidak jelas. Ditambah lagi profesinya sebagai artis yang berarti hilangnya privasi Galila dan juga orang-orang yang terlibat dalam kehidupannya. Mati-matian Hana berusaha menghalangi niat Eddie untuk melamar Galila. Mulai dari menjodohkan anaknya itu dengan perempuan lain, hingga menyewa orang untuk mengorek masa lalu Galila dan menjauhkannya dari Eddie. Mati-matian pula Eddie berusaha memberontak dari kungkungan mamanya itu. Seumur hidup, Eddie merasa seolah bukan manusia bebas yang berhak atas kehidupannya sendiri, karena segala sesuatu sudah diatur oleh kedua orangtuanya. Ia hanyalah 'boneka' yang harus mematuhi segala perintah orangtua. Disini, keinginan Eddie untuk berbakti pada orangtua yang telah mengurus sejak kecil bertabrakan dengan haknya sendiri untuk menikmati hidup seperti yang ia mau.

“Aku cuma mau bilang, kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.” 

Kagum rasanya sama karakter Galila yang diciptakan oleh Jessica Huwae. Pada awalnya, aku sempet ngerasa Galila ini kurang bisa menunjukkan emosi, karena apapun yang terjadi, mulai dari pemberitaan aneh di media sampai omongan tidak enak dari orangtua Eddie, Galila nggak terasa begitu panik ataupun terganggu. Sedihnya tidak terasa benar-benar sedih, marahnya tidak terasa benar-benar marah. Mungkin banyaknya narasi dan minimnya dialog yang ngebuat dia seolah kurang ekspresif? Atau mungkin... Segala pengalamannya dalam menghadapi kejadian-kejadian buruk yang menimpanya saat masih di Saparua sana telah menempa Galila menjadi orang yang kuat, tegar dan tidak gampang 'patah' saat terkena masalah. Rangkaian tragedi yang harus ia jalani di usia yang masih muda banget itulah yang membentuknya jadi seorang Galila, sang diva yang sekarang ini. Pembawaannya tenang, profesional, tekun dalam bekerja. Ia tidak memperoleh kesuksesan melalui cara-cara yang tidak enak, dengan menjatuhkan orang lain, misalnya. Bukti kekuatan perempuan yang luar biasa tercermin dari diri Galila. Dirinya bisa dianalogikan serupa sebuah batu karang (seperti disinggung penulis di bagian paling akhir cerita), yang meski telah berulang kali diserang 'gelombang' tetap mampu berdiri tegak. Pada akhirnya, Galila bisa membuat segala musibah dalam hidupnya menjadi kekuatan baru yang menghasilkan sosok yang lebih baik di masa depan, meskipun ia tetap butuh menenangkan diri dari 'ganas'nya Jakarta sesekali waktu.

Pada intinya, kisah Galila karya Jessica Huwae ini enak, menyenangkan dan layak dibaca. Secara keseluruhan bagus, meski tidak tanpa kekurangan. Unsur-unsur metropopnya masih kental, terutama dari sisi kehidupan Galila sebagai artis ibukota, diselingi dengan beberapa topik dan konflik yang lebih serius. Banyak kata-katanya yang mengena dan bikin 'deg' sendiri, hihi. Beberapa typos ada dalam buku (meiliki, kecang), tapi nggak begitu seringnya hingga bisa mengganggu keasyikan baca cerita kok. Di beberapa bagian, ceritanya bisa memancing kita untuk merefleksi kehidupan sendiri. Karakter Galila yang tangguh dan tenang juga merupakan contoh baik bagi perempuan, jadi nggak salah kalau aku pilih buku ini untuk posting bareng BBI dengan tema 'Perempuan' :)

“Hidup, sepahit apa pun, harus tetap punya mimpi. Setiap orang harus punya sesuatu untuk dia kejar setiap hari. Masalah akhirnya tercapai atau tidak, itu urusan nanti…”


Have fun and read some more,

February 27, 2014

Amba, oleh Laksmi Pamuntjak

Amba

sebuah novel karya Laksmi Pamuntjak
pertama kali diterbitkan pada Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
Fiksi Historis/Drama/Sastra Indonesia
496 halaman
[Posting Bareng BBI bulan Februari: Kategori Hisfic Indonesia]

***

Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.

Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.

Bhisma tiba-tiba hilang---ketika Amba hamil.

Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.

Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh 'komunis' oleh pemerintahan Suharto.

Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.

Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.


Ibu Amba yang baik,
Sudah sejak lama saya berkeinginan membaca kisah Ibu, yang telah banyak dipuja-puja berbagai penikmat sastra tanah air sebelumnya. Kisah Ibu punya beberapa elemen penting dari sejarah negeri kita yang selalu membuat saya tertarik: Peristiwa Gerakan 30 September dan Pulau Buru. Ditambah lagi dengan 'selipan' kisah perwayangannya dan penyebutan bahwa Ibu adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Namun, baru di awal tahun ini akhirnya saya bisa membacanya, dan jujur saja, saya cukup terhentak meski baru sampai pada beberapa halaman pertama. Ibu mengalami percobaan pembunuhan di sebuah pulau jauh nan asing di sana, Pulau Buru, oleh seorang perempuan asli yang menusuk perut Ibu beberapa kali, namun Ibu malah ingin mencabut tuntutan atas perempuan itu karena Ibu merasa ia tidak bersalah? Aneh sekali, pikir saya. Entah memang hati Ibu begitu mulianya, atau ada hal lain yang tidak saya ketahui.

Ibu Amba yang baik,
Kemudian cerita bergulir ke awal mula, akar dari seluruh peristiwa dalam hidup Ibu. Darimana Ibu berasal (Kadipura), keluarga seperti apa yang membesarkan seorang Amba (Bapak seorang kepala sekolah yang arif, Ibu yang setia, dan dua adik kembar cantik calon-calon kembang desa, Ambika dan Ambalika), pribadi Amba remaja yang jelas kecerdasannya jauh melampaui umur sebenarnya, yang berkeinginan untuk memberontak dari tradisi, dari cerita Wayang yang berada di balik nama 'Amba' sendiri, dan keinginannya untuk studi Sastra Inggris di UGM, Yogya. Hingga ia akhirnya berkenalan dengan Dr Bhisma Rashad, hingga ia akhirnya menyeleweng dari sebuah hubungan yang begitu tulus dan memuliakan pemberian Salwa, hingga akhirnya ia memutuskan lari ke Jakarta, hingga akhirnya Ibu harus membesarkan anak tanpa kehadiran Ayah biologisnya...

Ibu Amba yang baik,
Sejujurnya kalau saya boleh bertanya, dorongan sebesar apa yang membuat Ibu sampai mau menyia-nyiakan cinta seorang Salwani Munir yang sudah sangat cukup? Mungkin bagi kita definisi cukup itu berbeda ya, Bu. Tapi dari apa yang saya baca, bahwa laki-laki yang dipilihkan oleh orangtua Ibu ini adalah seseorang yang berpendidikan, tegas, sayang dan dekat dengan keluarga Ibu, bahkan menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri... Salwa juga sudah sangat menghormati posisi Ibu sebagai wanita, ia mencintai dengan tulus dan penuh pengertian, ia bahkan menghargai keinginan Ibu untuk tidak menikah sebelum sarjana, dan akhirnya mau berpisah selama ia tinggal di Surabaya dan Ibu  tetap di Yogya. Tapi kemudian, apa yang Ibu lakukan, di Kediri, Bu? Sungguh, yang seperti Salwani Munir itu pun belum cukup? Di titik ini, jujur, sulit sekali bagi saya untuk bisa bersimpati dengan Ibu. Dorongan sebesar apa yang membuat Ibu bisa memalingkan rasa hingga sebegitu rupa?

Ibu Amba yang baik,
Cinta Ibu pada seorang Bhisma Rashad, bagi saya, adalah cinta yang tidak jelas sebab-musababnya. Mungkin bagi beberapa orang, justru yang seperti itulah cinta sebenarnya, tapi saya sungguh sangat heran, apa yang begitu spesial dari laki-laki ini, Bu? Yang membuat Ibu rela menunggu bertahun-tahun, bahkan berani untuk datang ke Buru setelah berdekade-dekade lamanya tanpa kabar, petunjuk, atau apapun itu. Benar ia sebegitu menariknya, Bu? Apakah karena fisiknya, yang tinggi menjulang, rambutnya yang kecokelatan? Apakah karena profesinya, sebagai dokter, penolong berbagai jiwa manusia? Apakah jalan pikirannya, yang membuatnya banyak memiliki kenalan dan akhirnya terlibat banyak dalam kegiatan golongan kiri, hingga akhirnya ia ikut ditangkap dan diasingkan? Orang bilang bermain-main dengan 'bahaya' memang kadang lebih menyenangkan daripada hidup lempeng-lempeng saja. Saya rasanya hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan apa tepatnya yang membuat Ibu begitu jatuh cintanya pada seorang Bhisma Rashad ini, kecuali bahwa ialah sosok yang membuat Ibu 'merasa hidup, sehidup-hidupnya'. Benar sesepele itu? Meskipun ia tidak pernah memperlakukan Ibu sebagai sosok yang spesial, bahkan memperkenalkan pada rekan-rekannya pun nama Ibu disebut begitu saja tanpa embel apa-apa, tapi kebetulan ia membuat Ibu merasa 'hidup', begitu?

Ibu Amba yang baik,
Maafkan kalau saya lancang, tetapi kadang saya pun bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya yang begitu spesial dari seorang Amba, hingga banyak laki-laki dengan mudahnya bisa tertarik pada Ibu? Rasanya mudah sekali bagi Ibu menarik perhatian dan mendapat cinta dari banyak pihak. Salwa, Bhisma, Adalhaerd, lalu Samuel.... Ketika usia Ibu tidak lagi muda, bahkan! Tetap saja!
Laki-laki itu, Bhisma, pernah mengatakan, "Wajahmu mengandung kesedihan sebuah kota," Lalu saya bertanya-tanya, apa kesedihan sebegitu agungnya? Sebegitu memesonakannya-kah ia, bagi yang melihatnya? Apakah mungkin itu jawaban mengapa orang seringkali berlama-lama melibatkan diri di dalamnya, sengaja tak ingin keluar, justru terus bersukarela menggulatkan diri dalam kesedihan itu sendiri, mengulang-ngulang masa yang telah lewat, menanti sesuatu yang tak pasti....

Ibu Amba yang baik,
Kisah Ibu ini, bagaimanapun tidak simpatinya, toh tetap bisa membuat saya kagum pada sosok Ibu. Penantian sekian tahun sungguh merupakan wujud keteguhan hati dan kesabaran tiada batas. Memang wanita kadang golongan yang paling misterius dan sulit dimengerti arah hatinya, ya, Bu. Saya agak kecewa, mungkin karena harapan akan sebuah kisah cinta yang benar menggugah tidak sepenuhnya terwujud. Dari sisi historicalpun, rasanya tidak banyak perspektif baru yang bisa didapat, terutama mengenai peristiwa Gerakan 30 September (padahal kisah ini punya potensi untuk menawarkan sudut pandang lain, sudut pandang sebenarnya dari pihak kiri). Untuk kejelasan tentang suasana di pengasingan Pulau Buru, jujur belum saya baca lebih lanjut, sehingga saya belum bisa berkomentar akan itu. Bisa jadi ekspektasi saya memang berlebih. Namun tetap, kisah ini sangat menarik untuk diikuti, penuh dengan rangkaian diksi yang kaya dan cukup membuai dengan kecantikannya, memaksa setiap pembaca untuk menaruh perhatian penuh dan menikmati dunia seorang 'Amba'. Bila harus dibandingkan dengan Pulang karya Laila S. Chudori, sebuah novel yang juga menyinggung peristiwa 1965, Pulang entah kenapa terasa lebih 'pop', dan lebih mudah dimengerti, namun kisah Ibu, tanpa ragu, punya daya tariknya sendiri. Terimakasih telah membuat kepercayaan Saya terhadap fiksi lokal bangkit kembali. Setelah sekian lama, akhirnya saya baca lagi satu karya berkualitas tinggi ciptaan penulis dalam negeri, dan dengan senang hati saya bisa katakan bahwa saya tidak menyesal.

Ibu Amba yang baik,
Kini sudah tiga tahun berlalu semenjak kisah Ibu selesai. Senang rasanya dapat mengenal Ibu, meskipun hanya melalui lembaran-lambaran kertas. Dimanapun Ibu kini berada dan bagaimanapun kondisinya, saya harap, kehidupan selalu menemukan Ibu dalam keadaan baik.


Penuh salam hormat dari Saya (yang juga seorang mahasiswi Sastra Inggris, mungkin lain kali kita bisa saling berdiskusi tentang berbagai puisi dan literatur menarik kesukaan kita ya Bu ;)),


January 30, 2014

Gone Girl by Gillian Flynn & Tebak Secret Santa


ditulis oleh Gillian Flynn
diterbitkan 24 Mei 2012 oleh Phoenix (Orion Books, Hachette UK)
Adult Fiction/Thriller/Crime/Mystery
466 halaman
Pemenang Goodreads Choice Award 2012: Kategori Misteri & Thriller

***

On a warm summer morning in North Carthage, Missouri, it is Nick and Amy Dunne's fifth wedding anniversary. Presents are being wrapped and reservations are being made when Nick's clever and beautiful wife disappears from their rented McMansion on the Mississippi River. Husband-of-the-Year Nick isn't doing himself any favors with cringe-worthy daydreams about the slope and shape of his wife's head, but passages from Amy's diary reveal the alpha-girl perfectionist could have put anyone dangerously on edge. Under mounting pressure from the police and the media--as well as Amy's fiercely doting parents--the town golden boy parades an endless series of lies, deceits, and inappropriate behavior. Nick is oddly evasive, and he's definitely bitter--but is he really a killer? 
As the cops close in, every couple in town is soon wondering how well they know the one that they love. With his twin sister, Margo, at his side, Nick stands by his innocence. Trouble is, if Nick didn't do it, where is that beautiful wife? And what was in that silvery gift box hidden in the back of her bedroom closet?

Who are you?
What have we done to each other?

Satu kata yang tepat untuk Gone Girl adalah: GILA. Saat istrinya menghilang tiba-tiba dari rumah pada hari ulangtahun kelima pernikahan mereka, Nick Dunne malah bertingkah aneh. Laki-laki ini nggak menampakkan reaksi yang sewajarnya dari seorang suami yang istrinya menghilang (dengan adanya kemungkinan diculik, dibunuh, atau apapun itu). Ia tidak begitu sedih, tidak begitu panik, tidak begitu berduka. Karena Nick adalah sosok terdekat dari Amy, kecurigaan pertama pihak kepolisian pun mengarah kepadanya.

Lalu kejadian ini tersebar di media massa. Sosok Amy bukanlah sosok asing, ia adalah inspirasi dari buku Amazing Amy, serial buku anak terkenal hasil ciptaan kedua orangtuanya. Amy adalah kesayangan masyarakat, maka media pun bersimpati pada Amy ketika tulisan-tulisannya dalam sebuah diari pribadi terungkap; Ia menulis tentang pernikahan yang tidak bahagia, perilaku Nick sebagai suami yang buruk dan sering bersifat kasar, perselingkuhan Nick dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda... Semuanya makin mengarah kepada kemungkinan bahwa Nick-lah tersangka dari peristiwa ini.

Gillian Flynn ini penulis yang pinter dalam hal 'mempermainkan' pembaca. Halaman demi halaman awal di Bagian I aku baca, termasuk semua tulisan Amy dalam diarinya, gampang banget bagi siapapun untuk ikutan sebel dan benci sama Nick yang digambarkan sebagai suami yang aneh, gila, dan nggak pernah bersyukur. Narasinya Nick NYEBELIN, dan meskipun dalam beberapa kesempatan aku simpati sama dia ketika media justru 'menampilkan' cerita yang nggak sebenarnya, tapi susah untuk suka sama laki-laki ini karena motif dari perilakunya sendiri pun nggak jelas.

Di sisi lain, lewat tulisan dalam diari dan juga surat-surat/'riddle' yang ditinggalkan Amy di tempat-tempat bersejarah dalam hubungannya dengan Nick, yang ditangkap pembaca adalah sosok Amy ini wanita biasa, yang menikahi laki-laki yang ia cintai, tapi kemudian situasi rumah tangganya mulai berubah, nggak seperti apa yang ia harapkan. Everything went ugly. Nick dipecat dari pekerjaan, lalu mereka harus pindah rumah ke kampung halaman Nick demi merawat Ibu Nick yang sakit (dan Amy nggak nyaman banget dengan hal ini; dia adalah anak satu-satunya yang nggak pernah jauh dari orangtua, tapi demi Nick, akhirnya Amy rela mengalah), Nick mulai bersikap kasar dan sering keluar rumah, Nick selingkuh... Tipe suami yang ih, bukan-idaman-siapapun banget lah. Jelas banget bahwa Gillian pengen kita simpati/kasian sama sosok Amy dalam diari itu, yang malah bikin aku ngerasa bahwa kayaknya ini bukan perbuatan Nick deh... Mungkin dia emang cuma korban, dan aku nunggu-nunggu kehadiran tokoh-tokoh yang mungkin bisa dijadiin 'tersangka' lainnya.

Hingga kemudian cerita sampai di Bagian II: Cool Girl.

Gila.

MIND = BLOWN.

One of the best thing about Gone Girl is the element of surprises, because it works SO WELL. Gone Girl baiknya dibaca dalam kondisi kita 'nggak tau apa-apa' tentang ceritanya, sehingga efek yang muncul waktu sampe di bagian dimana twist-twist gila itu diungkap bakal kerasa banget. And I'm lucky to experience this. Bengong beberapa saat, pusing, baca ulang lagi halaman sebelumnya, speechless ... #heakmulailebay. Gone Girl adalah psychological thriller, dan sisi psikologis dalam ceritanya ditulis dengan sangat bagus. Ms Flynn adalah penulis berbakat yang sabar dan nggak buru-buru, semua unsur ceritanya dibangun dengan hati-hati, satu persatu diuraikan, dan dia menempatkan twist-twistnya di momen-momen yang tepat. Pilihan-pilihan katanya enak pula, jadi meskipun ceritanya dark dan SANGAT creepy, aku tetep penasaran buat lanjutin lagi dan lagi *gemes sendiri*

Satu hal yang aku nggak suka adalah tokoh-tokohnya yang hampir nggak ada yang likeable, and believe me, it was hard reading a book when you can't symphatize with the characters. Termasuk Nick, meskipun di beberapa kesempatan dia sendiri juga korban 'jebakan media', ataupun Amy, si istri LUAR BIASA SINTING baik-baik yang harus mengalami kejadian buruk kayak gini. Sayang banget hubungan mereka yang awalnya baik dan indah, malah jadi kacau nggak terkendali sampai ke titik dimana pernikahan bukan lagi ikatan yang bikin bahagia, melainkan sesuatu yang poisonous dan berbahaya buat kedua pihak. Serius, jadi mikir dua kali buat menikah... Di banyak bagian Gone Girl juga kritis tentang masalah-masalah umum di masyarakat, keluarga, maupun rumah tangga jaman sekarang, dan bikin pembacanya ikut ngebentuk pendapat sendiri tentang itu.

Gone Girl bukan buku dari genre yang biasa aku baca, but I'm glad anyway that I could get to read it. It's very well-written and deserves all the hype that the book got last year (Can't wait for the movie to happen! Ben Affleck is going to be great as Nick). Aku pun nggak yakin akan baca buku-buku Gillian lainnya, karena ceritanya cenderung berat dan dark... but for the sake of your reading experience, Gone Girl is totally worth it! ;)

“My gosh, Nick, why are you so wonderful to me?' 
He was supposed to say: You deserve it. I love you.
But he said, 'Because I feel sorry for you.' 
'Why?' 
'Because every morning you have to wake up and be you.” 


Review Gone Girl dari teman-teman di BBI lainnya: Mbak Mia |  Arian Syah


***

Dan sekarang adalah waktunya untuk TEBAK SANTAAAAAAAAAAAA *tebar confetti*



Sesungguhnya, pas awal-awal baca riddle, aku masih berniat dengan serius buat ikutin petunjuknya dari awal sampai akhir.

TAPI,
malah langsung stuck di nomer #1. *nangis*

Kenapa? Karena kata-kata di riddle kan begini: "ADA 3 HURUF YANG TAK BERULANG," Tapi setelah kuperhatiin covernya baik-baik, ternyata huruf yang nggak berulang itu... CUMA DUA. *gubrak*
Dan dua huruf ini emang membentuk inisial merk mobil sih, yaitu VW. (Iya kan, Santa? Bener nggak bagian merk mobilnya?)

Terus, kalo cuma dua, berarti huruf pertama inisial si Santa apa dong? Kok? Ini? Eng ing eng ing eng............ *bingung*

Coba kita lanjut ke #2 dulu.
Katanya, "Huruf kedua dari nama lengkap = Huruf pertama dari abjad." Berarti A
Tapi "... inisial nama panggilan justru huruf terakhir" Nama panggilannya berawal dari huruf Z.

Terus, #3
Nggak bisa dijawab soalnya nggak tau huruf pertamanya apa kan, cuma tau 'A' aja...
Aduuuuh.

#4
EEEEE ALHAMDULILLAH YA ALLAH YA TUHAN
Tau gini langsung skip aja ke nomer ini! Huehehehehehe di petunjuk terakhir ini maksud kata-katanya jelas banget, "...temui aku di urutan ke-57"
Yak, ini sih pasti tinggal buka direktori member BBI dan....
Ketemu!

#antiklimaks
Juga setelah cerita ke Bajay Jabo tentang buku yang aku dapet dan hadiah tambahannya (notes, green tea latte....) beberapa pun langsung nyebutin satu nama yang sama. Yuhuuu

Jadi,


Are you? Are you? Am I right, or am I wrong? Nonetheless, thank you for the book and the additional gifts! I enjoyed them a lot (notesnya sekarang kupake jadi blogging notes hehe) ((and my mom likes the green tea latte!)) But if I'm wrong about who you are which I'm 99% sure I won't anyway, well, SORRY. PLEASE kindly reveal yourself, ahaha. 
Juga, makasih untuk Divisi Event BBI! Seret Santa 2013 has been a lovely event for me and I'm glad to have participated in it. Semoga tahun depan bisa berjalan dengan lebih lancar lagi ya :)

Here's a little Ben for you

So, what about you? Who's YOUR santa? Did you get it right? Was your riddle difficult to guess? Have you read Gone Girl, by the way? What do you think of it? Shoot me with your comments! :)
And as always, have fun and read some more!


October 31, 2013

How to Love by Katie Cotugno

How to Love

written by Katie Cotugno
published on October 1st 2013 by Balzer + Bray
389 pages
Young Adult/New Adult/Realistic/Coming of Age/Contemporary
other books by author: None (yet...)

***

Before: Reena Montero has loved Sawyer LeGrande for as long as she can remember: as natural as breathing, as endless as time. But he’s never seemed to notice that Reena even exists…until one day, impossibly, he does. Reena and Sawyer fall in a messy, complicated love. But then Sawyer disappears from their humid Florida town without a word, leaving a devastated—and pregnant—Reena behind.

After: Almost three years have passed, and there’s a new love in Reena’s life: Her daughter, Hannah. Reena’s gotten used to being without Sawyer, and she’s finally getting the hang of this strange, unexpected life. But just as swiftly and suddenly as he disappeared, Sawyer turns up again. Reena doesn’t want anything to do with him, though she’d be lying if she said Sawyer’s being back wasn’t stirring something in her. After everything that’s happened, can Reena really let herself love Sawyer LeGrande again?

Oh, shout-out to books with lovely covers!
Seriously, and while we're talking about How to Love, which has a very simple yet SO awesome book cover (Don't you want to own the book just so you can shelve it at home and stare at it anytime you want?) here here, a full first star for Katie Cotugno's debut novel.

The second star goes to Serena, or Reena in short. This girl is basically a good girl who happens to be unlucky. Just having a shitty bestfriend is already enough to make your life uncomfotable, yeah? But that's not only what Reena has to deal with, because later her boyfriend suddenly disappears, then she finds out that she is pregnant with the said-boyfriend's baby. Uh oh.

But this girl has some pretty admirable characteristics. Reena is strong, no doubt. With a witty personality that makes her so fun to be around. Being a mom at 16 is never easy (and really, this girl has been through A LOT. She comes from a very religious family so being pregnant in Reena's case was pretty much unforgivable), but Reena did a good job with taking care of baby Hannah! The only problem I have with her is her inability to resist Sawyer, which makes her seems childish and indecisive at times. I was disappointed to read about the end of her relationship with Aaron (even though I've seen it coming), because let's be honest here, Aaron is obviously the better option!

“The hideous thing is this: I want to forgive him. Even after everything, I do. A baby before my 17th birthday and a future as lonely as the surface of the moon and still the sight of him feels like a homecoming, like a song I used to know but somehow forgot.” 

Teenage pregnancy is not actually my favorite subject to read, since there will (of course) be so much angst and all. But all the reviews I've stumbled upon before reading How to Love were mostly positive, and I can see why. How to Love was a very enganging read. Katie Cotugno doesn't offer a new angle on seeing this unwanted pregnancy problem, but she presents it raw, honest, and real. She's so good at describing emotions, making me (as the reader) feel as much as Reena feels. We can easily understand Reena's desperation, her anger, her resentment toward everyone who treated her badly since the thing happened, her family included, who didn't exactly do their job at being a strong support system when Reena needed them the most. The part where she finally exploded at their family dinner was my favorite! It's unhealthy for her to just keep all the emotions inside so I was like 'YES YES YES you go girl!' when she lashed out in front of everyone. That moment was epic and the way Katie Cotugno describes it... Ugh, all the feels! Third star for this point.

The story was told in before and after parts, but I prefer reading all the afters, most of the time I just skimmed the befores... I couldn't bring my self to really like Sawyer as a character. Aside from being manipulative toward Reena sometimes, there were very minimal explanation on why he did the things he did on his bad boy days (Also, the drug problems? Why why why why WHY? I need a backstory!), that's why I think his part of the story kinda lacks of depth. The after version of Sawyer was so much better, I love him and Reena together, even though I still think he doesn't deserve that girl *shrug*

In short, How to Love isn't perfect, but to read the book was worth it. For a debut novel, How to Love was enganging, enjoyable and quite a page-turning one. I love Katie Cotugno's writing style. Did I mention how the dialogues are so realistic? (Its exactly the way people would talk in real life!) and I will put her on my radar so that her next books will not be missed!

June 28, 2013

The Chocolate Thief by Laura Florand

The Chocolate Thief

Judul: The Chocolate Thief
Penulis: Laura Florand
Genre: Contemporary romance-Chicklit
Seri: Amour et Chocolat #1
Penerbit: Kensington
Tanggal terbit: 31 Juli 2012
There might be spoilers. You've been warned.
#PostingBarengBBI Juni: Romance

***

Paris—fashion, romantis, dan cokelat.
Namun, tidak untuk wanita Amerika sepertiku. Aku sudah tidak tahan lagi berjalan (sok) anggun dengan high heels ini. Menurutku, Paris juga bukan kota teromantis di dunia. Dan tolong catat, semua itu berawal dari Sylvain Marquis yang dengan sombongnya menolakku untuk bekerja sama.

Oh God! Apa dia tidak mengenaliku? Aku ini Cade Corey, pewaris tahta Corey Chocolate, perusahaan cokelat terbesar di Amerika. Oke, lihat saja.... Memangnya hanya dia satu-satunya pembuat cokelat terbaik di dunia ini?!

"There you go again."
"What do you mean?"
"Falling for some glamorous, rich woman who's just going to use you."

I love June! Tema baca barengnya pasti nggak jauh-jauh dari summer reading, holiday, atau sesuatu yang ringan-ringan dan berbau contemporary =D Buat baca bareng BBI dengan tema romance kali ini saya baca The Chocolate Thief-nya Laura Florand.

Cade Corey adalah wanita sukses pewaris takhta Corey Chocolate, sebuah perusahaan besar milik keluarganya yang dibangun di Maryland, Amerika. Kali ini Cade punya satu keinginan: Membuat sebuah premium-line bagi cokelat produksi Corey, yang akan dibuat eksklusif bersama seorang chocolatier terbaik dari Prancis. Target utamanya adalah Sylvain Marquis, chocolatier handal dari Paris yang tidak hanya berbakat, tapi juga tampan dan sangat passionate terhadap cokelat. Namun Cade tidak menyangka Sylvain akan menolak tawarannya ini mentah-mentah. Meskipun ia punya daftar panjang chocolatier lain yang bisa ia ajak bekerja sama, Sylvain tetaplah target utama. Cade yang geram berusaha mencari cara lain agar ia bisa mengetahui resep rahasia pembuatan cokelat dari Sylvain. Ia bertekad akan melakukan segala cara, termasuk menyamar jadi orang lain demi mengikuti workshop pembuatan cokelat oleh Sylvain maupun menyusup ke dalam tempat kerjanya. Hence the name, The Chocolate Thief.

Things that are special about The Chocolate Thief...

1. Ceritanya berlatarkan kota Paris, kota favorit semua orang saat membaca. Iya kan? Rasanya saya jarang banget nemuin buku berlatar Paris/Prancis yang nggak disukai orang-orang (Stephanie Perkins' Anna and the French Kiss, Rachmania Arunita's Eiffel I'm In Love, Gayle Forman's Just One Day, to mention a few). The Chocolate Thief nggak menggambarkan Paris secara detail, tapi suasananya tetap terasa selama membaca keseluruhan buku. There are bits of french every here and there, yang mendukung untuk menambah kesan 'Prancis' di dalam ceritanya.

2. Sudut pandang cerita menggunakan sudut pandang ketiga, baik dari sisi Cade maupun Sylvain. And Laura was good at telling the story this way. Meskipun penulisan dari POV ketiga kadang membuat cerita terasa distant dengan pembaca, tapi overall hal ini nggak jadi masalah besar saat membaca The Chocolate Thief. Not to mention the book is also very funny and entertaining! Penulisnya jelas-jelas tau apa yang ia tulis dalam ceritanya. Penggambaran maupun pendeskripsian mengenai dunia per-cokelat-an dijelaskan dengan ngalir dan enak, seolah-olah kita pembacanya sendiri lagi menikmati sebatang cokelat yang lezat.

May 30, 2013

Autumn Once More by Ilana Tan, dkk


Judul: Autumn Once More
Penulis: Alia Zalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
Tebal: 232 hlm

***

Cinta <adj>: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.


"Heaven knows what's best for us."

Sejujurnya, awal-awal kumpulan cerpen ini dipromosikan di media sosial, saya nggak terlalu tertarik beli (meskipun deretan penulisnya termasuk yang wow-wow). Tapi sewaktu pergi ke toko buku dan sempet 'ngintip' salah satu kopi yang plastiknya terbuka, saya iseng liat cerpennya Ilana Tan. Ternyataaa saya baru tau 'Autumn Once More' itu ceritanya Tatsuya-Tara dari buku Autumn in Paris (seri Four Seasons)! OMG. Langsung beli-lah. Soalnya buku itu favorit saya banget dari semua bukunya Ilana! (masih inget gimana sesenggukannya nangis waktu nyelesein Autumn in Paris... huhuhu)


Be Careful What You Wish For (aliaZalea)
"Banyak orang bilang cinta terkadang membuat pikiran kita tidak rasional. Dan biasanya ketidakrasionalan tersebut dimulai dari rasa suka, yang sekilas terdengar lebih jinak daripada cinta, padahal tidak begitu kenyataannya. Gara-gara suka, kadang kita mendapati diri melakukan hal-hal yang nggak akan mungkin dilakukan kalau pikiran kita seratus persen waras."
Gimana? Kalimat pembukanya aja udah bisa bikin senyam-senyum atau angguk-angguk sendiri, ya? Karya aliaZalea yang ini ringan, temanya seputar kelakuan kita (si tokoh utama) yang naksir seseorang. Siapapun pasti bisa relate deh sama ceritany.

Thirty Something (Anastasia Aemilia)
Premisnya sebenarnya sederhana dan agak klise: Tentang dua sahabat yang saling naksir (tapi nggak pernah diungkapkan). Ribetnya, tokoh utama cewek kita ini udah dijodohkan oleh neneknya ke orang lain, sementara tokoh utama cowoknya mau pergi ke Jepang. Endingnya bittersweet, but I did enjoy reading this piece. (Karya Anastasia Aemilia yang lain, Katarsis, juga rame dibicarakan di media sosial Gramedia dan disebut-sebut sama Mbah Hetih sebagai karya yang bagus. Tapi genre-nya thriller, makanya saya belum baca. Ada yang udah?)

Stuck With You (Christina Juzwar)
Gimana rasanya melulu terjebak di lift kantor bersama dua cowok ganteng? Itu yang terjadi sama Lita. Saya juga heran kok bisa-bisanya si lift itu macet terus sewaktu si Lita naik. Jangan-jangan Lita ini orangnya mengandung aura buruk (lah). Tapi namanya juga fiksi, hihihi.

Jack Daniel's vs Orange Juice (Harriska Adiati)
Dennys yang hobinya ngebir bareng teman-temannya, sholat aja jarang, dan pulang pagi melulu, jatuh cinta sama anaknya Pak Haji. Waks! Tapi anak Pak Haji mana mau sama cowok tipikal Dennys yang demen gaul ini? Dennys-pun mati-matian merubah sikap supaya jadi lebih alim dan bisa dibilang pantes jadi jodoh anaknya Pak Haji.