August 24, 2012

Twivortiare by Ika Natassa

Twivortiare

Judul: Twivortiare
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 55.000


***










Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun twitternya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil "mengintip" kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: "Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat yang bersamaan?"
Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM, yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

***
"Dear Cardiothoracic Surgeon, nggak bisa ya kita cari pekerjaan yang normal-normal aja biar sama-sama pulang jam 5 kayak rakyat jelata lainnya? Aku capek kayak gini." :))

Dulu saya sudah follow akun @alexandrarheaw selama beberapa bulan sebelum akhirnya keluar kabar bahwa kumpulan tweets Alexandra akan dibukukan dalam suatu buku berjudul Twivortiare. Saya langsung excited. Nama Ika Natassa rasanya sudah jadi jaminan wajib beli buat saya, yang sudah menikmati 3 dari 4 bukunya yang lain (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa). Tadinya sempat ragu juga sih saat mau membeli, karena toh apa yang kita baca sebenarnya bisa dilihat sendiri di timeline Alex, kan? Tapi ternyata Mbak Ika menambahkan beberapa bagian supaya ceritanya terkesan 'utuh', seperti DM-DM dari Alex ke Wina, juga merapihkan beberapa bagian lainn.

Jadi sebenarnya, Twivortiare ini ceritanya apa sih?
Secara singkat, Twivortiare ini adalah isi hidup Alex yang dikutip dari akun Twitternya.
Umumnya berpusat pada dua hal: Satu, keseharian Alex yang masih bekerja sebagai banker -keluhannya tentang rapat, lembur, harus menghadapi klien yang ganjen dan flirting terus- Dua: Kehidupan pernikahan keduanya dengan Beno. Iya, Alex dan Beno menikah lagi (di Divortiare, kisah mereka ditutup dengan adegan Alex dan Beno pergi makan bareng di nasi goreng Sabang -yang pastinya menimbulkan pertanyaan "Jadi Alex dan Beno itu rujuk lagi nggak sih?" Dan itu semua terjawab disini.)


Sebagai pasangan suami istri yang punya banyak sekali perbedaan, Alex dan Beno seringkali dihadapkan pada situasi yang sulit -berantem karena suatu masalah, urusan karir yang sama-sama sibuk, cerita mereka saat fellowship Beno di New York, menghadapi berbagai pertanyaan dari tante-tante rese mengenai anak, sampai usaha mereka untuk mempunyai anak tersebut.
Bedanya disini, kita dihadapkan pada karakter Alex dan Beno yang sudah sedikit berbeda daripada saat di Divortiare. Mereka sekarang jauh lebih serius dalam berkomitmen pada pernikahannya. Nggak ada lagi yang namanya Alex sedikit-sedikit minta cerai, dan Beno yang pasrah-pasrah saja saat Alex kabur. Sekarang pasti selalu disusul :)

 "Then he said gently: 'Lex, dulu kamu pernah minta aku janji bahwa aku nggak akan melepaskan kamu apa pun yang kamu bilang atau minta ke aku. So this me not letting you bail, Sayang. This is me not letting you go.Okay?'"

Apakah bukunya bagus?
Kalau saya bilang, bukunya bagus sekali. Inilah salah satu keunggulan dari Mbak Ika Natassa: ia selalu bisa membuat apa yang ditulisnya menjadi tidak hanya readable, tapi juga very enjoyable. Di bagian pengantar Twivortiare, Mbak Ika menulis:

"Twitter is often blamed as the primary cause why writers can't write. I'm just trying to prove the opposite, and have fun doing it."

Dan buat saya, ia berhasil.
Membaca rangkaian tweets Alex dalam format buku tidak terasa aneh, justru seperti kita membaca novel biasanya saja. Lebih lagi, karakter Alex, Beno, maupun Wina kini malah terkesan semakin real -dekat dengan pembaca, karena mereka mengalami, melakukan, dan menulis tweets sebagaimana yang dilakukan banyak orang. Sifatnya pun tergambar dengan amat jelas.
Menurut saya juga, mereka yang belum membaca Divortiare tidak akan bingung membaca buku ini -karena pertanyaan yang mungkin muncul pasti terjawab. Seperti berapa lama Alex dan Beno menikah di pernikahan pertama, rangkaian kejadian yang terjadi setelah cerai namun sebelum mereka rujuk (memang sih, tidak terlalu detail, tapi cukup lah untuk dimengerti), sampai pertanyaan seperti siapa itu Denny, Tiz, dan lain sebagainya.
Emosi pembaca dalam mengikuti alur kejadian juga dimainkan dengan baik. Meskipun kadang saya merasa bosan dengan pertengkaran Alex-Beno yang repetitif  (ribut karena masalah sepele/masalah yang sudah pernah dibahas, Alex yang kemudian kabur ke rumah Kebagusan, dan berakhir dengan Beno yang selalu datang menyusul lalu meminta maaf), emosinya terasa dapet. Kekesalan Alex saat bertengkar/saat Beno pulang malam terus saking sibuknya di RS, betapa sayangnya Beno pada Alex (tapi bikin sebel tiap kali berantem dan Beno bilang "Udah deh, kamu nggak ngerti." Grrrr), sedihnya Alex setiap kali melihat tanda negatif di testpacks, sampai serunya cerita mereka saat di New York.

Berikut adalah beberapa tweets Alex yang saya tandai -kalau di Twitter mungkin sudah di-favorite:

"But as you grow up in the relationship, you will come to a point where being around each other tanpa harus ngobrol is okay and normal."

"And the last words that he said yang bikin gue nggak tega adalah... 'Sayang, kalau nggak ada kamu, yang aku gulingin kalau tidur itu siapa?'" Aduh Beno :)))

"The simplest things in life are what makes us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can't live without you."

"What we can control is our effort, Lex. What we can't is the result, because it's part of our effort, our destiny... Jadi ya usaha kita lakukan, mudah-mudahan kalau usahanya bener-bener ikhlas, hasilnya sesuai takdir itu juga bagus."

"In the end, apa sih yang kita cari dari pasangan kita kalau bukan rasa aman dan nyaman?"

"Orang-orang cenderung menilai kebahagiaan itu dari apa yang belum mereka punya, padahal seharusnya kita menilai kebahagiaan itu dari apa yang sudah kita punya."

Bagian favorit?
Senangnya, di Twivortiare ini saya nggak hanya dapat hiburan aja, tapi juga beberapa pengetahuan baru lewat pengalaman maupun kultwit Alex. Nggak hanya tentang pernikahan, bagaimana cara cari jodoh yang tepat :p, masalah pre-nup ataupun tidak, tetapi juga tentang mengelola uang. Bagian favorit saya adalah yang terakhir itu: kultwit tanggal 28 Agustus 2011 yang membahas #moneydiary dan teori Latte factor-nya David Bach. (hlm 295-297)
Iya, bukan bagian surat-cinta-di-atas-kertas-resep-dokter-nya-Beno ataupun yang lain, tapi malah kultwit :p

Yang saya sayangkan mungkin cuma dua,
Mbak Ika banyak sekali menggunakan kata-kata bahasa Inggris (hampir semua tweets-nya Alex seperti ini) dan sering dicampur-aduk dengan bahasa Indonesia. Sometimes it's ok, sometimes bikin geli gimana gitu :p
Kemudian, saya merasa di akun sebenarnya Alex cukup sering berinteraksi dengan followers. Beno juga sering ikut nimbrung memakai Twitter saat Alex menitipkan hp ke Beno, tapi di buku porsinya berkurang sekali. Kalau tidak salah cuma dua-tiga kali kesempatan Alex memasukkan nama-nama lain selain @winasoedarjo ke dalam percakapan, Beno pun cuma nge-tweet satu kalimat.

Anyway, mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bakalan dengar berita baik dari akun @alexandrarheaw tentang her pregnancy ya. (tuh kan, jadi ketularan campur aduk indonesia-inggris begini, hihi)

 Terakhir, saya akan tutup review ini dengan quote yang terdapat di pembatas bukunya:
"Just because someone doesn't love you the way you want him to, doesn't mean he doesn't love you with everything he has." :)


- Tirta.

2 comments:

Thank you for reading this post! I always love to share and discuss thoughts about books or simply reading your comments; they are very much appreciated! I will try to reply every one of them so make sure to check back. ❤