July 15, 2013

Hawa oleh Riani Kasih

Hawa

oleh Riani Kasih
 Juara #2 Lomba Penulisan Novel Amore
Diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
254 hlm

***


Empat tahun menjalin hubungan tidak menjamin Hawa berjodoh dengan Abhirama. Hubungan mereka luarnya saja tampak mesra, padahal mereka dua orang yang memaksakan saling memahami, tapi sayangnya tak berhasil. Akhirnya, Hawa membatalkan sepihak rencana pernikahannya dengan Abhirama.

Karena sedih, malu dan kecewa, Hawa menenangkan diri ke rumah Omanya di pedalaman Kalimantan Barat. Di situlah Hawa bertemu dengan Landu, polisi yang bertugas di Kapuas Hulu. Perjumpaan mereka yang berawal dari kejadian tidak mengenakkan lambat laun menumbuhkan bibit cinta. Perlahan, kehadiran Landu yang pendiam tapi dewasa menyembuhkan luka hati Hawa.

Tetapi, sanggupkah Hawa menerima cinta Landu pada saat Abhirama menyusulnya dan memintanya kembali ke pelukannya?


Sejujurnya setiap kali saya baca buku hasil menang lomba yang diadakan oleh sebuah penerbit, biasanya lebih sering kecewa daripada setuju dengan pilihan juri. Lagipula saya belum pernah baca genre Amore. Tapi karena ini diadakan oleh penerbit besar dan disebut-sebut di twitter salah satu editor kebanggaannya, saya penasaran juga.

Apa yang saya suka dari kisah Hawa?
1. Fisik dulu ya. Covernya cantik! Manis, pink pula. Tadinya saya niatnya cari Mahogany Hills (yang menang pertama Lomba Amore ini), tapi karena kebetulan adanya Hawa dan covernya attractive, jadi saya beli deh ;)

2. Latar cerita yang nggak biasa dan world build-up yang kuat. Sejiram, Kalimantan Barat digambarkan dengan baik oleh Riani Kasih. Suasananya, kehidupan para masyarakatnya. Hal-hal yang dilakukan Hawa dan Landu di kencan-kencan mereka juga asyik euy: sepedahan bareng kemudian nonton sunrise, belajar naik speedboat, panen madu. Jadi semacam great escape dari buku-buku lain yang kebanyakan nyeritain kisah-kisah berlatar kota metropolitan.

3. Kisah Landu dan Hawa ini berproses. Mungkin karena saya kebanyakan baca YA dimana *uhuk* insta-love udah nggak asing lagi *uhuk*, Landu dan Hawa yang awalnya nggak suka satu sama lain ini jadi 'wah' buat saya. Iyalah, belum apa-apa Hawa udah ngelempar kaleng minuman ringan aja ke Landu. Landu nganggepnya Hawa cuma cewek angkuh, Hawa juga berpendapat bahwa Landu aneh. Baru setelah beberapa kesempatan, mereka akhirnya lebih tau pribadi asli masing-masing.

4. Landu si polisi yang romantis ini.... Likeable banget deh ((senyum-senyum menye)). Berdedikasi terhadap pekerjaan, baik, ramah, penyayang pula. Rasa sayangnya Landu buat Hawa itu kerasa banget, terutama di bagian kedua dimana hubungan mereka bener-bener diuji.

Apa yang saya nggak suka dari kisah Hawa?
1. Typo :( Lumayan banyak nih typo-nya. Saya biasanya bukan orang yang rewel soal typo, tapi kali ini lumayan heran, karena kan, harusnya udah di-edit ya sebelum dibukukan? Semoga bisa diperbaiki di cetakan-cetakan berikut, ya.

2. Bahasa percakapan yang kaku... Kadang nggak masalah buat beberapa cerita. Apalagi dengan gaya penceritaan Riani Kasih yang khas ini. Tapi ketika cerita itu diselingi adegan-adegan konyol dan humor, rasanya agak aneh kalo bahasa kaku-nya tetap dipaksain. Juga, rasanya geli aja baca Landu ngucapin kata-kata gombal pake bahasa percakapan yang kaku gitu, hihihi.

3. Penyelesaian masalah Hawa-Landu-Abhirama terkesan antiklimaks. Karena udah di build-up sedemikian rupa dari awal cerita, waktu baca resolutionnya yang cuma begitu malah bingung sendiri: "Udah, segitu aja?" Dari situ cerita juga terasa di-rush, pindah ke bagian kedua yang gap-nya lumayan jauh dan tiba-tiba ada konflik baru. Perpindahan antara satu adegan ke adegan lain jadi seolah dipaksain dan nggak ngasih kesempatan pembaca buat memproses ceritanya dulu.

Tapi secara keseluruhan, saya bisa ngerti juga sih kenapa cerita Hawa dipilih jadi pemenang kedua. Faktor terbesar rasanya dari gaya penceritaan Riani yang khas dan penggambaran latar/suasana Sejiram yang kuat. Mereka yang suka bacaan-bacaan ringan dan romantis akan suka sama Hawa. Cuma kalau diliat dari sisi bahwa ini pengalaman pertama saya baca Amore, I can't say that I'll love this genre but I still appreciate it. I'll prefer Metropop next time, though.

Tentang Penulis

Riani Kasih lahir tanggal 20 Oktober 1989, seorang alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi cerpen Kopang (Literer Khatulistiwa, 2011) dan Orang-Orang di Batas Garis (Ide Kreatif, 2012).


7 comments:

  1. Udah baca MH, Ta? TBH, aku gak begitu suka, sih. Karena ada satu topik sensitif yang gak aku suka... :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum, ul. Topik sensitif apa? :o

      Delete
  2. suka sama tampilan blognya :)
    pengen baca Mahogany Hills dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Kak Sulis ❤
      Ditunggu review MH-nyaa

      Delete
  3. Aahh barusan nyari ini di toko buku deket rumah.. Ngga ada. Meh! Penasaran sama Hawa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah waktu itu cari Mahogany Hills justru ngga ada.... Jadinya beli ini deh ;)

      Delete
  4. Aku baru baca yang MH, suka kok... :D
    http://luckty.wordpress.com/2013/07/06/review-mahogany-hills/

    ReplyDelete

Thank you for reading this post! I always love to share and discuss thoughts about books or simply reading your comments; they are very much appreciated! I will try to reply every one of them so make sure to check back. ❤